Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Meet Fan


Semua mata tertuju pada seorang ibu-ibu yang menggunakan daster. Dari raut wajahnya terlihat marah. Drake segera mengambil posisi di belakang Kania. Percayalah, emak-emak marah itu lebih menakutkan dari pada hujan badai bercampur petir.


“Kania…” desisi Drake di belakang Kania.


“Apa yang kalian lakukan pada anak saya?” tanya ibu itu.


Drake menggeleng. “Aku tidak berniat membuatnya menangis.”


“Dia anak yang manis. Dia menangis karena tidak sengaja melempar bola ke kepala saya,” jelas Kania.


“Ibu.. dia bilang akan membawaku ke kantor polisi.” Adu anak itu pada ibunya. Dia memegang lengan ibunya erat.


“Hei-hei, aku hanya bercanda,” sahut Drake. Menyebalkan sekali karena harus bertengkar dengan anak-anak. Drake berdecak pelan.


“Tunggu.” Ibu itu mendekati Drake. Ingin menelisik lebih dalam. Namun Drake keburu berpikir negatif hingga terus bergerak mundur. “Apa anda Drake Cole?”


Drake melebarkan mata. “Kamu tahu aku?” tunjuk dirinya sendiri.


“Kamu benar-benar Drake?”


Drake tersenyum dengan bangga. Ketenarannya bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah ini. “Iya, aku Drake Cole.”


“Wooah!” Ibu itu menutup mulutnya takjub. Kali ini tidak sia-sia ia menyusul anaknya pagi-pagi. Biasanya ia akan berteriak marah karena anaknya seharusnya pulang dan bergegas masuk ke sekolah.


~~


Pertama kalinya seorang Drake mau menerima ajakan orang asing untuk makan. Apalagi sampai datang ke rumah orang itu. Drake menyipitkan mata menatap seorang anak laki-laki yang sedang duduk di depannya. Anak itu sudah lengkap menggunakan seragam SD dengan pas.


“Jadi apa kalian tidak ingin berbaikan?” tanya Kania yang berusaha menengahi mereka.


“Tidak!” jawab mereka serempak.


“Leo, yang sopan sama tamu. Minta maaf sekarang.”


Anak laki-laki bernama Leo itu menuruti ibunya. Ia menghela nafas, kemudian mengulurkan tangannya. “Ayo berbaikan.”


Drake tersenyum tipis. “Aku setuju.” Kemudian mereka saling bersalaman dan mengakhiri peperangan ini.


“Bolehkan aku membantumu?” tawar Kania.


“Tidak boleh. Tamu tidak boleh melakukan apapun,” tolak ibu Leo.


“Aku tidak bisa diam saja saat melihatmu begitu sibuk.” Kania memang tidak bisa diam saja saat melihat Rani bolak-balik mengambil makanan dan menyusunnya sendiri di meja.


Ibu Leo menyerah. “Baiklah. Bantu aku menata makanan di meja.”


Kania tersenyum. Ia berdiri membantu Rani, ibu Leo. Rania adalah penggemar berat Drake. Awalnya dia ingin meminta foto, namun ada persyaratan dari Drake—yaitu tidak boleh memberitahukan pada siapapun kehadirannya bersama Kania. Tapi Rani juga mempunyai syarat, yaitu tidak akan memeberitahukan siapapun jika mereka mau makan di rumahnya.


Sebagai idola yang baik, Drake menerima. Lagipula berhubungan langsung dengan penggemarnya tidak akan merugikannya.


“Kamu sudah lama menjadi penggemar Drake?” tanya Kania.


“Mungkin sudah 5 tahun. Aku sangat suka dengan film-filmnya. Aku tidak tahu dia ternyata mempunyai sifat menyebalkan seperti itu.” keluh Rani diam-diam di dapur bersama Kania.


Kania tertawa. “Drake memang menyebalkan. Dia terlihat sombong dan dingin, tapi sebenarnya lumayan baik.”


“Aku sebenarnya mengaguminya karena karyanya. Tapi karena bertemu langsung aku bisa tahu dia yang sebenarnya. Tidak apa—lagipula dia memang bintang. Aku sangat senang bisa bertemu dengan idolaku.”


Kania mengangguk.


“Dan juga…” Rani menatap Kania. “Aku senang Drake bersama kamu. Kamu wanita yang sangat baik Kania. Aku senang idolaku bisa menemukan wanita sebaik kamu,” perkataan Rani membuat hati Kania menghangat. Padahal di luar sana banyak penggemar Drake yang tidak suka dengannya.


“Apa kalian membicarakanku?” teriak Drake di ruang makan.


“Tidak.” singkat Kania keluar.


Drake berdecak. Padahal jelas-jelas dia mendengar namanya disebut.


“Film apa yang paling kamu sukai?” tanya Drake.


“Dragon For Mr. R. Itu film yang membuatku menjadi penggemarmu.” balas Rani. Dragon For Mr. R adalah film action pertama yang dibintangi Drake. Rani suka sekali dengan film itu karena disana Drake terlihat sangat keren. Apalagi ada adegan perekelahian berulang kali.


“Jadi kamu sudah lama menjadi penggemarku,” balas Drake.


Rani mengangguk. “Benar. Aku berharap bisa terus melihat film yang dibintangi kamu.”


“Aku senang bisa bertemu dengan penggemarku yang memiliki aura positif seperti kamu.” Drake tersenyum. Rasanya juga melegakan bisa mendengar langsung ucapan positif dari penggemarnya sendiri.


“Ngomong-ngomong berapa usia Leo?” tanya Kania.


“7 tahun. Dia sekarang kelas 2 Sekolah Dasar.”


“Sungguh?” kaget Kania. “Kamu terlihat masih muda.”


Rani tertawa. “Aku memang menikah muda. Aku menikah saat umurku 18 tahun.”


“Waah. Kita seumuran.”


Drake mendekat. “Jika kita bertemu lebih awal. Mungkin kita juga sudah punya anak seusia Leo.”


Perkataan Drake membuat Kania malu. Lengannya menyikut Drake pelan.


~~


“Leo berangkat.” Leo menyalami ibunya.


Rani mengangguk. “Terimakasih kalian mau mampir ke rumah. Aku merasa terhormat.”


“Aku juga berterimakasih, masakanmu sangat enak.” Kania tersenyum.


“Biar kita yang mengantar Leo. Hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengajak kami makan,” ucap Drake.


“Tidak perlu. Lagipula kalian pasti sibuk.”


“Tidak. Kami bisa mengantar Leo,” yakinkan Kania.


Akhirnya Leo diantar Kania dan juga Drake. Jarak rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh. Hanya perlu berjalan sebentar—namun rute yang mereka lewati sangat sepi. Hanya ada kebun teh yang memanjang. Jarak dari antar dusun memang tidak dekat—pasti ada jarak yang memisahkan.


“Leo tidak pernah diantar dua orang,” ucap Leo begitu tiba-tiba. Leo berada di tengah-tengah Kania dan juga Drake.


“Kenapa?” tanya Drake.


“Kata ibu. Ayah sudah tidak bisa pulang. Pokoknya ayah menjalankan tugas dari negara dan sudah tidak bisa pulang,” ucapan Leo membuat Kania terdiam. Tidak bisa membalas ucapan anak itu.


“Ayahmu menjadi apa?” tanya Drake lagi.


“Ayah itu tentara. Pas Leo masih TK, ayah masih sering pulang. Tapi tidak pernah lama. Hanya beberapa hari setelah itu pergi. Dan sekarang… tidak pernah pulang. Leo juga sering melihat ibu diam-diam menangis sambil memeluk seragam ayah.”


Kania menghapus sudut air matanya yang berair. Rani pasti menjalani hidupnya yang sulit, membesarkan anak laki-lakinya sendirian. Maksud dari ucapan Leo yang bisa ditangkap Kania dan juga Drake adalah ayah Leo gugur dalam menjalankan tugas sebagai Tentara.


“Ooo… ayah Leo hebat ya. Tentara itu tugasnya sangat berat,” ucap Drake.


“Leo juga ingin jadi Tentara supaya bisa bertemu dengan ayah lagi.”


Lagi—Kania dibuat menangis dengan ucapan Leo. Berkali-kali ia menghapus air matanya agar Leo tidak melihatnya yang menangis.


Drake mengangguk. “Mangkanya belajar yang rajin.”


Sekolah sudah ada di depan mata. Leo berhenti menatap Drake dan Kania. “Terimakasih sudah mengantar Leo. Sekarang Leo mau masuk. Dadah!” Leo melambaikan tangannya kemudian berlari ke arah sekolahnya. Di sana ada beberapa temannya yang sudah menunggunya. Anak itu terlihat sangat ceria.


“Aku tidak bisa berhenti menangis.” Kania mendongak. Menatap langit-langit agar air matanya tidak turun lagi.


Drake segera memeluknya. “Dia anak yang kuat. Dia pasti bisa menjadi kebanggaan orang tuanya.” Sembari mengusap rambut Kania pelan.