
Selama berjam-jam mobil masih berjalan. Kania tidak tahu Drake mengajaknya ke mana. Ia mulai mengantuk dan beberapa kali menguap. Seharunya waktu libur digunakan untuk full istirahat seperti rebahan dan tidur.
Akhirnya mobil berhenti di depan sebuah restoran kecil di pinggir kota. Tidak tahu pasti alasan apa Drake datang ke mari. Apalagi seorang aktor kelas atas seperti dirinya mau repot-repot datang ke Restoran sepi yang sangat jauh dari kota.
“Di sini?”
Drake mengangguk. “Hm.”
“Kau tidak salah?”
“Kau tidak mau makan di Restoran ini?”
“Tidak—bukan seperti itu.”
Drake mengedikkan bahunya acuh. “Yasudah ayo.”
Mereka masuk ke dalam restoran. Tidak ada pengunjung lain selain mereka. Kania menggaruk tengkuknya, ada perasaan tidak yakin. Ia tidak masalah makan di mana saja asalkan enak. Tapi—restoran ini sepi pelanggan yang mungkin saja makanannya tidak terlalu enak.
Memilih duduk di pojok. Membuka lembar menu yang berada di atas meja. Menu yang tersedia merupakan makanan Italia. Karena Kania yang kebingungan, akhirnya ia menyerahkan pemilihan makanan pada Drake.
Seperginya pelayan, Kania mengedarkan pandangannya. Restoran yang lumayan bagus dan bersih namun sangat kecil.
“Kenapa kau ingin makan ke tempat sejauh ini?” tanya Kania.
Drake mendongak. Mengedikkan bahunya. “Hanya ingin.”
Mengetukkan jarinya ke meja, terasa sangat membosankan karena Drake yang hanya diam. Pilihan terakhir adalah membuka ponsel. Melihat apa yang menarik dilakukan pada benda pipi itu. Belum sempat membuka, ponselnya lebih dulu direbut.
“Drake!” pekik Kania.
Drake tidak menjawab. Ia menyimpan ponsel Kania ke dalam saku kemejanya. “Tidak boleh bermain ponsel saat bersamaku.”
“Kau hanya diam saja sedari tadi. Aku bosan.”
“Bilang jika kau sangat ingin berbicara denganku.”
Kania mendengus. “Tingkat kepercayaan diri yang sudah menembus langit. Bagus—sangat bagus terus kembangkan sampai bisa menembus dunia lain.”
Drake tersenyum tipis. Lebih menundukkan topi hitamnya. Pakaiannya memang sangat tertutup menghindari agar orang-orang tidak ada yang mengenalinya. “Kepercayaan diri itu sangat perlu. Kau tidak akan bisa hidup tanpa percaya diri.”
“Terserah.”
Kursi samping berderit karena Drake berpindah posisi. Pria itu duduk di samping Kania. Tangannya dengan lancang memeluk pinggang Kania. Semakin bergerak menyentuh perut ramping perempuan itu. Mengusapnya dengan gerakan tertentu.
“Stop-“ Kania memegang tangan Drake yang berada di perutnya. “Orang lain akan salah paham.”
Semakin menarik Kania. Drake mendekat, mengecup leher putih itu. “Hal biasa bagi sepasang kekasih untuk bermesraan. Apa yang membuat orang lain salah paham?” bisiknya.
Kania mendorong Drake. “Tapi di sini tempat terbuka. Kau tidak malu huh?”
Drake tertawa kecil. Ia melepaskan Kania. Bersandar pada kursi dengan tangan yang bersindekap. “Berarti kau ingin melakukannya di tempat tertutup.”
“Drake…” desis Kania kesal.
Perdebatan mereka terhenti ketika pelayan datang membawakan makanan pesanan mereka. Menu satu persatu tersaji di meja. Jumlahnya sangat banyak membuat Kania menganga. Bagaimana tidak, mereka hanya berdua dan bagaiamana jika tidak menghabiskan makanana sebanyak itu.
“Kau memesan sebanyak ini?”
“Nanti pasti habis.”
Mereka sibuk memakan makanan mereka masing-masing. Beberapa menit terlewati, nyatanya benar. Meski hanya berdua buktinya mereka mampu menghabiskan makanan. Tentu dengan perut yang kekenyangan.
Selesai membayar. Seorang pria berumur pertengahan 50-an tahun mendatangi mereka. Memberikan sebuah paper bag.
“Terima kasih sudah datang ke sini. Saya sangat senang karena kalian pengunjung pertama hari ini,” ucapnya.
“Tidak usah, pak. Makanan di sini enak dan kami senang bisa berkunjung.” Kania berusaha menolak.
Namun bapak itu bersikeras agar Kania menerima. “Tolong terima sebagai ucapan terima kasih kami. Semoga kalian langgeng.”
Kania bingung untuk menjawab apa, tapi ia mengangguk dan tersenyum. Lalu melirik Drake yang hanya diam dari ekor matanya. Sesampainya di dalam mobil. Tangannya langsung membuka paper bag itu. Ternyata berisi dua kemasan pasta.
“Woaah, ini milikku. Kau tidak boleh mengambilnya,” ucap Kania pada Drake.
Drake meliriknya sekilas, lalu kembali memfokuskan diri ke jalanan. “Hm.”
Pelajaran yang di dapat Kania hari ini bersama Drake adalah membantu orang tanpa menunjukkannya. Saat menatap Drake dari samping, bibirnya tak kuasa menahan senyum. Mengalihkan pandangannya ke jendela saat Drake menyadarinya.
Drake hanya menggeleng sembari tersenyum tipis.
**
Seorang pria tengah menggedong seorang perempuan yang tengah terlelap. Membaringkan tubuh mungil itu ke atas kasur. Melepaskan sepatu yang sedang digunakan. Lalu menyelimuti sampai sebatas leher. Usai memberi sebuah kecupan di dahi, Drake melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Saat keluar kamar mandi, tubuh Drake terasa lebih segar. Tubuhnya sudah terbalut kaos putih, ia melangkah mendekati ranjang. Ikut berbaring di samping Kania. Menyelipkan tanganya di kepala Kania. Kemudian memeluk pinggang perempuan itu dengan tanganya yang lain.
“Good night.”
**
Terbangun dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya. Kania membuka mata, mengamati keadaan sekitar. Matanya semakin melebar saat menyadari kamar ini bukan kamarnya. Pinggannya terasa berat dan terdapat helaan nafas dari tengkuknya.
Kania membalikkan badannya. Mendapati Drake yang masih tidur dengan tenang. Wajah putih bersih, hidung mancung, rahang tegas dan alis yang tebal. Perpaduan sempurna yang ingin dimiliki pria lain di luar sana. Tangannya terangkat akan membelai pipi pria itu. Belum sempat karena sepasang mata elang lebih dulu terbuka. Dengan rambut yang masih acak-acakan Drake menatap Kania.
“Kau sudah bangun?” tanya Drake dengan suara serak khas orang baru bangun.
Kania hanya mengangguk. Matanya menyipit melihat jam dinding. Pukul 08.07 pagi. Apa? Kania terperanjat. Sudah siang dan seharusnya ia sudah berada di kantor.
“Aku terlambat.” Kania bangkit. Namun tubuhnya kembali terhuyung ke kasur, tepatnya berada di atas tubuh pria yaitu Drake. “Lepaskan aku—Drake. Aku harus pergi ke Kantor.”
Tidak semudah itu karena Drake menarik Kania lebih erat lagi. Membalikkan badannya hingga Kania berada di bawahnya. Menatap perempuan itu sebentar. Kemudian mendekatkan bibirnya leher perempuan itu. Memberikan sebuah kecupan dan gigitan ringan.
“Drake,” lirih Kania memejamkan mata. ‘kenapa aku mengeluarkan suara menjijikan itu lagi? Kau memang gila, Kania!’
“Hm,” gumam Drake masih melakukan tugasnya.
Mendengar suara Kania yang sangat seksi membuatnya tidak tahan lagi menyentuh perempuan itu. Tangannya menelusup ke ke belakang. Menarik lepas ikatan tali dress yang sedang digunakan Kania. Lalu membelai lembut punggung mulus itu. Tidak berhenti di situ saja berpindah pada leher samping. Drake masih ingin memberikan tanda kepemilikan pada Kania.
“Drake,” lirih Kania. “Lepaskan aku—aku akan terlambat.”
“Kau memang sudah terlambat, babe.” Terdengar balasan Drake. Beberapa menit kemudian akhirnya Drake berhenti. Ia menatap Kania yang masih berada di bawahnya.
“Jangan memakai pakaian kurang bahan lagi atau aku akan menghukummu,” katanya sebelum melenggang pergi ke kamar mandi.
Kania terdiam sembari mengatur nafasnya. Menjambak rambutnya frustasi, menyesali reaksinya yang terlalu berlebihan dengan sentuhan Drake. Ia beranjak dari ranjang lalu berlari kencang keluar Penthouse.
“Oh Kania,” sapa Jefri yang berada di ambang pintu. Matanya terhenti melihat leher Kania yang memerah. Melebarkan mata kemudian menganggukkan kepalanya pelan. “Baiklah—aku mengerti,” ucapnya.
Kania menahan malunya. “Aku tidak punya waktu lagi,” ujarnya kemudian melewati Jefri begitu saja.
Sesampainya di depan cermin, Kania melihat lehernya sangat merah. Pasti akan berbekas setelah ini. Hari ini harus berpenampilan lebih tertutup agar jejak yang dibuat Drake tidak dapat dilihat orang lain.