
Drake terbangun lebih dulu. Tapi ia suka memandang wajah polos nan damai Kania. Sinar matahari sudah masuk. Entah sudah jam berapa—namun Drake sama sekali tidak tergerak untuk bangun dari kasur. Justru semakin mengeratkan pelukannya di tubuh polos Kania.
Kelewat gemas—tangan Drake tidak kuasa untuk bergantian mencubit kedua pipi Kania. Merasa ada yang mempermainkan kedua pipinya—Akhirnya Kania membuka matanya perlahan. Mendapati wajah tampan seorang laki-laki yang dicintainya. Namun sedetik kemudian—wajahnya memerah dipenuhi malu yang tidak bisa dijelaskan.
Buru-buru Kania membalikkan badannya, enggan menatap Drake lagi.
“Kenapa?” heran Drake. “Ada yang aneh dengan wajahku?”
Kania menggeleng. “Tidak.”
“Apa ada jejak air liur di bibirku?” heran Drake.
“Tidak.” Lagi—jawaban Kania sama. Membuat Drake semakin gemas.
“Lalu kenapa kamu enggan menatapku? Seperti melihat setan.” Desak Drake. Dari belakang ia terus memeluk Kania. Enggan sekali melepaskan.
“Aku harus bangun, lepaskan aku Drake.” Kania berusaha menarik selimut yang membungkus tubuhnya. Tidak mungkin jika berlari dengan keadaan polos tanpa sehelai benang sedikitpun. Apalagi bagian bawahnya masih terasa perih.
“Tidak. Aku masih ingin bersamamu.” Drake mengecup leher Kania.
“Tapi aku harus bekerja.”
“No, Babe. Hari ini weekend.”
Sial, Kania sampai melupakan hari libur. “Tapi lepaskan aku dulu. Aku harus membersihkan diri.”
Drake tidak membiarkan Kania lepas dengan mudah. Ia justru dengan mudah membalikkan tubuh Kania agar menghadapnya. “Aku suka melihat wajah polosmu, Kania.” Jemari Drake menysuri wajah Kania, menyelipkan helaian rambut Kania yang berantakan ke belakang.
Kania terdiam.
“Jangan bilang kamu malu?”
Tebakan Drake memang benar. Kania mengerjapkan mata. Meski sudah menggeleng, tapi wajahnya tidak bisa diajak berkompromi. Semburat merah di pipinya memang menandakan jika dirinya tengah malu setengah mati.
Cup
Drake mengambil ciuman di pipi Kania. “Lucunya…” gemasnya mengusap puncak rambut Kania.
Kania mencebikkan bibirnya. “Aku bukan anak anjing.”
“Siapa bilang kamu anak anjing? Kamu itu anak kucing.”
Kania bertambah kesal. Mendorong tubuh Drake, kemudian berjalan pelan sembari menyeret selimut ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Kania melihat banyak jejak yang ditinggalkan Drake di tubuhnya. Dia harus bekerja ekstra untuk menutupi semua jejak-jejak ini.
~~
Duduk di ruang makan. Kania bertopang dagu sembari menatap Drake yang masak. Hanya masakan simple, seperti pasta. Padahal hanya menggunakan celanan pendek dan kaos berwarna hitam, tapi di mata Kania, Drake terlihat sangat mempesona dan.. seksi.
Astaga! Kania sampai menggeleng dengan pikiran kotornya. Tapi aktor itu memang mempunyai pesonanya sendiri. Drake mempunyai banyak penggemar, kebanyakan mereka memang memuja ketampanan pria itu. juga—tatapan mata pria itu bisa membuat wanita meleleh.
“Apa yang kamu lamunkan?” tanya Drake mendekat sembari membawa dua porsi makanan.
“Tidak.” Kania menggeleng. “Aku sudah lapar.” Menatap masakan Drake dengan penuh minat. “Aku tidak tahu kamu bisa masak.”
“Masakan yang mudah, tentu aku bisa.” Drake menyodorkan piring dan juga gelas yang sudah berisi air putih. “Makanlah. Jika tidak mau. Aku yang akan makan kamu.”
Kania menyipitkan mata. “Apa?” Kania tidak terlalu fokus mendengar ucapan Drake karena ia lebih dulu mengambil garpu dan bersiap mencicipi pasta.
“Jika kamu tidak makan, aku yang akan makan makanan kamu,” ulang Drake tentu dengan beberapa kata yang diganti. Dia tersenyum tipis melihat Kania mencebik.
Kania mengangguk setelah memakan satu suapan. “Enak,” pujinya dengan jujur.
“Setelah ini mau ikut aku motoran?” tanya Drake.
“Motoran? Sama geng-geng gitu?”
“Sendirian, kita berdua naik motor jalan-jalan.”
Naik motor jalan-jalan? Kania tidak pernah naik motor dengan tujuan jalan-jalan. Palingan naik ojek online saat dulu ia masih merintis karirnya. Tidak pernah sekalipun naik motor dengan keadaan santai, yang ada dikejar waktu. Tapi sepertinya akan seru naik motor dengan Drake.
Kania sudah mengganti pakaiannya lebih santai. Dengan jeans dan sweater panjang. Sedangkan Drake menggunakan jeans dan kaos yang sudah dilapisi dengan jaket kulit. Ternyata Drake selama ini menyimpan motornya di parkiran biasanya. Namun karena Kania yang tidak terlalu memperhatikan sekitar, tidak tahu ada motor bagus yang sedang terparkir.
“Ini motor kamu?” tanya Kania.
Drake menaiki motor besarnya. “Ini motorku yang baru. Yang lama sudah aku jual semenjak kecelakaan.”
“Kecelakaan yang aku nolongin kamu itu?”
Drake mengangguk. Ia mengulurkan tangannya membantu Kania menaiki motor besarnya. Kania naik dan berpegang pada pinggang Drake.
“Ready?”
“Yeah.”
Motor melaju. Awalnya tenang, namun saat sudah di jalan yang lumayan tidak ramai, Drake menambah kecepatan motornya. Awalnya Kania yang hanya berpegang pada pinggang, kini meleluk erat perut Drake.
“Jangan ngebut-ngebut! Aku tidak mau mati!” teriak Kania.
Drake justru tertawa pelan. “Aku tidak akan buat kamu mati!”
Beberapa puluh menit menempuh perjalanan. Mereka memasuki sebuah area pegunungan. Drake memelankan laju motornya, sehingga Kania menjadi lebih rileks dan bisa menikmati suasana.
“Waah. Pemandangan dari sini bagus.” Kania berdecak kagum.
Pemandangan dari atas memang bagus, apalagi sinar matahari yang mulai turun. Dengan suasana damai dan cuaca yang mendukung. Kania memejamkan mata. Bisa dibilang Kania suka dengan alam, namun malas untuk bepergian.
Drake menepikan motornya. Mereka berhenti pada suatu titik tertinggi. Dari tempat mereka berdiri, mereka bisa melihat pemandangan bawah yang sangat bagus. Drake memeluk Kania dari belakang.
“Are you happy?”
“Aku sangat senang. Aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini.” Kania menghela nafas. Jujur ia dulu jarang menikmati waktu liburan dengan jalan-jalan. Yang ada pergi belajar dan belajar.
Drake memutar tubuh Kania.
“Thank you,” ucap Kania dengan senyum.
Drake megnangguk. Menarik tengkuk Kania lalu mencium bibir pink yang menjadi candunya. Drake menarik pinggang Kania hingga semakin erat dengan tubuhnya. Kania mengalunkan kedua tangannya di leher Drake.
~~
Sampai di sebuah penginapan. Mereka masuk ke sebuah Vila yang sangat bagus. Di belakang ada sebuah kolam renang dengan pemandangan yang menakjubkan. Drake benar-benar mengajak Kania ke tempat bagus.
Byuuur
Drake menceburkan dirinya ke kolam. Kania sendiri duduk di pinggiran dengan kaki yang berada di dalam air. Drake menyugar rambutnya yang basah karena air.
“Apa tidak dingin?” tanya Kania.
Drake berenang ke arahnya. “Tidak. Air di sini menyegarkan.” Memegang kedua kaki Kania.
“Jangan coba-coba menarikku,” peringat Kania. Ia sungguh tidak ingin berenang malam-malam. Selain dingin, Kania juga malas membersihkan diri lagi.
Drake tertawa. Setelah itu menarik pinggang Kania ke bawah. “BYUR.” Alhasil dalam sekejap, Kania sudah berada di dalam air dengan tubuh dan pakaian yang sudah basah kuyup.
“Drake..” keluh Kania dengan bibir yang mengerucut.
Drake menarik pinggang Kania agar semakin menempel dengannya. Setelah itu menarik tengkuk Kania dan menciumnya. Meski sudah berkali-kali merasakan bibir Kania—nyatanya Drake tidak pernah puas. Justru semakin ingin terus merasakannya.
“No—Drake. Not here!” panik Kania saat tangan nakal Drake masuk ke dalam pakaiannya.
“Tidak ada orang di sini, Kania. Hanya kita berdua.” Yakinkan Drake.
“Bagaimana jika ada orang lain yang melihat kita?”
Drake menggeleng. Kembali mencium Kania namun kali ini lebih intens dan tidak membiarkan Kania melawan perkataannya lagi. Perlahan ia membebaskan Kania dari pakaian yang mengganggu itu. Hingga tubuh mereka benar-benar polos. Drake kembali menyentuh Kania. Kali ini sensasi mereka jauh lebih menantang. Bercinta di alam? Siapa takut! Drake semakin tertantang. Alhasil Kania hanya pasrah.