Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Just Try


“Don’t touch me, before tell me about your problem.”


Drake berhenti. Menyatukan kening mereka. “Semua orang perlahan pergi. Ya semua orang yang ada di sisiku selalu pergi.” kacau—keadaan Drake memang kacau. Ia bukan orang yang mudah mengungkapkan isi hati. Tapi karena alkohol dan dorongan Kania. Pria yang biasanya arogan itu kini memancarkan keputusasaan.


“Drake….” panggil Kania dengan lembut. “Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Tapi aku akan selalu ada di sisi kamu. Bukan hanya aku—tapi kamu. Kita harus selalu bersama.”


Drake mengambil tangan Kania. “Promise?”


Pertanyaan Drake membuat Kania tersenyum. Drake seperti anak kecil yang sedang membuat janji.


“Promise.”


Drake langsung menarik Kania. Mendaratkan ciuman yang lebih intens dari sebelumnya. Drake menyesap habis bibir ranum milik Kania. Tidak sampai di sana. Drake melucuti dress yang digunakan Kania. Hingga hanya tersisa dalam berwarna merah menyala.


Drake mengangkat tubuh Kania dan membaringkannya di atas ranjang. Tubuh Kania bak persolen. Kain berwarna merah hanya menutupi bagian-bagian terdalam miliknya. Kania membuka mata. Drake sudah melepas semua pakaian. Kini ia bisa melihat tubuh Drake yang terpahat dengan sempurna.


Drake menggiring tangan Kania untuk menyentuh sebuah tato baru miliknya. “Its you.”


Tato tulisan berbunyi. “Kayu.” Berada di dada kiri Drake. Tulisan lantin yang terukir indah di kulit tubuh Drake.


“Kayu?”


“Kania Ayu.” Drake tersenyum. Mencium pelan dahi Kania. “Artinya Kania cantik bukan?”


Kania mengangguk. Bibirnya terangkat. Ia sama sekali tidak menyangka jika Drake akan sampai membuat tatto inisial namanya.


Drake tidak menunggu waktu lama untuk memakan tubuh Kania. Ia melepaskan semua kain yang tersisa di tubuh wanita itu. Drake menyentuh titik sensitif Kania—memainkannya hingga Kania tidak bisa menahan suaranya.


Kania terus mendesahkan namanya. Suara Kania—semakin membangkitkan gairah yang ada di dalam diri Drake. Malam ini memang milik mereka. Malam ini Kania seluruhnya pasrah dengan permainan yang dibuat Drake.


Meski pertama-tama Drake menyiksanya. Tetapi pria itu berhasil membuat dirinya sampi pusing karena merasakan sensasi yang indah sekaligus kotor. Kania jatuh sepenuhnya pada Drake.


“I love you, Drake..” lirih Kania saat tubuh Drake jatuh menimpa dirinya.


Samar-sama Kania mendengar Drake membalas. “I love you too, babe.”


~~


“Jadi beritahu aku apa alasan kamu kenapa sangat mengawasiku?” Kania memeluk Drake dari belakang. Tubuhnya hanya terbalut dengan handuk. Begitupun dengan Drake yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.


Drake menghela nafas. Ia mengusap punggung tangan Kania yang memeluknya. “Semua keluargaku sudah tidak ada.”


Dari pantulan cermin. Mereka bisa saling tatap.


“Aku gagal menjaga seseorang yang aku sayangi untuk tetap di sampingku. Kedua orang tuaku meninggal saat aku kecil karena kecelakaan. Setelah itu aku hidup dengan kakakku sampai aku kuliah. Tapi tidak lama Kakakku juga pergi.”


Drake menarik pinggang Kania hingga mereka bisa saling berhadapan secara langsung. “Karena aku sudah yakin dengan perasaanku padamu. Aku tidak ingin kehilanganmu—Kania. Aku tidak bisa kembali kehilangan orang yang aku sayangi. Maka dari itu aku berusaha untuk menjagamu. Di manapun aku berada.”


“Kamu pasti sangat tersiksa dengan perasaan seperti itu. Maafkan aku. Aku tidak tahu apapun tentang kamu.” Kania mendongak. Ia merasa menjadi paling egois.


“Aku sadar apa yang aku lakukan membuatmu tidak nyaman. Tapi aku selalu berpikir—aku harus selalu melindungimu dengan cara terus mengawasimu.”


“Kamu harus belajar sedikit demi sedikit menghilangkan kekawatiranmu itu Drake. Kamu harus mencoba berpikir lebih positif. Jika kamu sedang berpikir aku bersama orang-orang jahat di kantor. Maka kamu juga harus lebih berpikir jika di dalam kantor ada banyak orang yang baik juga. Ada Putri juga yang selalu ada di sampingku. Jika kamu bisa melakukannya. Aku yakin kamu bisa bernafas lega. Kamu tidak akan dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif lagi.”


“Kania aku—“


Drake tidak menjawab. Melainkan semakin memeluk Kania dengan erat. Mengecupi bahu polos Kania. “Aku akan mencoba.”


Jujur Kania juga tidak tahu jika Drake selama ini sudah ditinggal kedua orang tua. Ia pikir orang tua Drake tinggal di sebuah kota dan jarang bertemu dengan anaknya. Mengenai kakak Drake, jika mereka bisa bertemu pasti akan menyenangkan. Bukan hanya kakak Drake—tapi seluruh keluarga Drake. Jika mereka bisa berkumpul dan makan bersama pasti akan sangat menyenangkan.


~~


“Hei! setelah bersenang-senang dengan kekasihmu. Kau lupa punya teman?”


Kania tertawa pelan. “Iya aku bahkan tidak ingat punya teman sepertimu.”


Flory tambah kesal dengan jawaban Kania. “Kania—katakan padaku. Kau sudah berhubungan dengannya bukan?” Flory memeragakan menyatukan kedua tangannya.


Kania tahu maksud Flory. Namun ia masih merasa canggung membahas hal semacam itu. “Aku—”


“Kau sudah!” pekik Flory. “Bagaimana rasanya? Ini pertama kalinya bukan? Kau menyerahkannya pada Drake! Wah-wah Kania…. Kau sudah tidak kuno lagi ya?!”


Kania melempar bolpoinnya ke arah Flory. “Hentikan!”


Flory tertawa puas sekali. “Kau tidak perlu malu—Kania.”


“Jangan membahasku. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan pria yang cocok denganmu?”


“Belum.” Flory mengedikkan bahu santai. “Belum waktunya. Pasti aku akan bertemu dengannya. Tapi Kania aku harus memberitahumu.”


“Apa?”


“Akhir-akhir ini tipe priaku berubah. Aku ingin bertemu pria yang sedikit culun dan polos. Bagaimana menurutmu?”


Kania memutar bola matanya malas. “Kau bisa bertemu dengannya…. Di mimpi.”


Flory berdecak. Bangkit dari duduknya. “Ayo menghabiskan uang.”


Setelah makan siang Flory dan Kania memutuskan pergi ke Mall. Katanya Flory akan membeli banyak barang branded seperti tas ataupun pakaian. Padahal Flory mempunyai toko pakaian sendiri kenapa tidak menggunakan baju desainnya sendiri? Itu hanya pikiran Kania.


“Katanya ada tas terbaru. Aku harus segera memilikinya sebelum orang lain.” Flory menarik Kania masuk ke dalam sebuah toko Tas Branded.


Di sana tersusun rak-rak yang terisi dengan tas bernilai puluhan hingga ratusan juta. Bagi Kania—membeli barang mahal memang tidak ada salahnya selagi mempunyai uang. Namun kegunaannya juga harus dipikirkan juga.


Kania hanya memiliki beberapa tas Branded seharga fantastis untuk digunakan ke acara-acara penting. Menjaga Image memang perlu—apalagi dirinya seorang pengusaha yang bertemu dengan banyak orang. Apa lagi yang dilihat selain pandangan pertama? Orang memang tidak semata-mata hanya melihat, namun kesan pertama akan memperkuat citra diri.


“Kania kau tidak ingin membeli?” tanya Flory. Ia sudah mengambil tas berwarna hijau.


“Nanti saja.”


“Kania-Kania. Punya uang banyak tapi tidak pernah kau belanjakan. Kau mau menggunakan uangmu untuk apa?” heran Flory. Ia seperti mengomeli anaknya.


“Nanti, Flo. Aku hanya ingin membeli baju bukan tas.”


“Baiklah-baiklah. Terserah.”


Pandangan mereka teralihkan saat ada yang masuk. Dua orang baru saja masuk. Dua orang yang terlihat bergandengan tangan. Ada perempuan dan laki-laki yang saling merangkul. Kania mengenal pria itu.