Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Please Stop


“Hahaha Drake. Kau sangat pemarah rupanya.” Xavier bangkit. Menyeka sudut bibirnya yang tidak berhenti mengeluarkan darah.


“Jangan sentuh wanitaku atau kau akan mati.”


“Perbuatanmu kali ini akan membuat pandangan orang-orang tentangmu berubah. Drake Cole menyerang aktor yang pernah bekerja sama dengannya. Owh—akan menjadi berita yang sangat bagus.”


Drake berdecih lalu tertawa remeh. “Memangnya orang-orang akan mempercayai bajingan sepertimu?”


Tidak meladeni Xavier lebih lanjut, Drake meraih tangan Kania dan menyeretnya menjauh. Kania hanya bisa tertatih mengikuti langkah lebar Drake. Belum lagi tangannya yang terasa nyeri akibat cengkraman dari pria itu.


Sesampainya di lift, Kania mencoba membuka suara. “Drake—lepaskan aku.”


Drake menatap Kania tajam. “Kau membiarkan dia menyentuhmu? Kau menyerahkan diri begitu saja?”


“Kau salah paham. Aku tidak pernah mau disentuh olehnya. Dia memaksa, aku tidak pernah memberinya ijin menyentuhku!”


Cengkraman di tangannya membuat Kania mengiris. “Its Hurt—Drake! Kau menyakitiku!”


“Kalau kau tidak ingin aku menyakitimu, maka jangan biarkan pria lain menyentuhmu. Aku tidak suka! Aku tidak suka milikku disentuh orang lain!”


“Sudah kubilang aku terpaksa. Dia hanya memelukku tidak lebih.”


Mata Drake semakin gelap. Cengkraman di tangan Kania pun belum terlepas. Melihat Kania bersama Xavier membuat darahnya mendidih. Apalagi melihat Kania yang dipeluk dan disentuh, walaupun hanya sekedar tangan.


Lift terbuka. Drake kembali menarik Kania. Membuka salah satu pintu kamar hotel. Setelah masuk tanpa aba-aba langsung mencium Kania dengan amarah yang masih memuncak. Menghimpit tubuh mungil itu, tangannya bergerak menekan tengkuk leher Kania.


Kania kualahan dengan Drake. Hampir kehabisan nafas jika Drake tidak melepaskan diri. Hanya sebentar, karena pria itu kembali menyerangnya. Menggendong tubuhnya dan menjatuhkan di atas kasur.


“Drake,” lirih Kania.


Drake masih melakukan tugasnya, ia masih bermain di leher wanita itu. Memberikan tanda yang tidak bisa hilang selama beberapa hari pada leher putih itu. Drake tidak ingin berhenti, ia ingin menjadikan Kania miliknya. Seutuhnya—untuk dirinya.


“Drake—stop.” Mata yang mulai berair, Kania tidak ingin melakukannya dengan pria yang tidak dicintainya. “Drake—sorry. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Please stop.”


“Aku tidak ingin berhenti. Ini hukumanmu karena membiarkan bajingan itu menyentuhmu.” Drake menatap Kania. Membelai pipi Kania pelan.


“I still virgin. Please stop.” Demi apapun, Kania sangat takut. Pertama kalinya ia sangat takut pada apa yang akan terjadi padanya.


“Shit!” umpat Drake kemudian menjatuhkan diri ke samping. Menatap langit-langit kamar dalam diam. “Kau tahu? Xavier adalah musuhku. Tidak berlaku hanya pada bajingan itu, siapapun pria yang berani mendekatimu atau menyentuhmu—aku tidak akan ragu menembakkan peluru ke kepalanya. Aku bahkan bisa langsung memenggal kepala mereka hingga menggelinding tepat di depanmu. Jaga dirimu jika tidak ingin hal mengerikan itu terjadi.”


“Sorry. Aku tidak akan melakukannya.” Suara Kania terdengar sangat pelan.


Drake memeluk Kania dari belakang. Menarik tubuh Kania hingga menempel sempurna dnegannya. Mendekatkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu. Sekali lagi menghirup aroma kesukaannya.


“Drake,” panggil Kania. Ia bergerak, mencoba melepaskan diri.


Drake semakin memeluk Kania. Menimpa kaki Kania dengan kakinya agar perempuan itu tidak bisa bergerak. “Diam atau aku akan meneruskan kegiatan kita yang tertunda.” Bisiknya.


Terdengar helaan nafas dari bibir perempuan itu. Drake sedikit menyunggingkan senyum. Ia mencium beberapa kali puncak kepala Kania. “Tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu malam ini. Mungkin dimalam selanjutnya.”


“Drake!” pekik Kania. Ia membalikkan badannya agar bisa menatap pria itu secara langsung.


“What?” tanya Drake dengan seringaiannya.


“Haiissh,” keluh Kania membalikkan badannya memunggungi Drake kembali.


Kania merasa bahunya menerima kecupan bertubi-tubi. Ia menghela nafas. “Drake,” keluhnya.


“Oke.” Kemudian mencium pipi Kania. “Good night.”


~~


Cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela jendela, membuat seorang perempuan mengernyit. Membuka mata perlahan, mengamati keadaan sekitar kemudian mengerjapkan mata beberapa kali. Reflek membuka selimut. Bernafas lega saat mendapati dirinya yang masih menggunakan dress semalam dengan utuh.


Kania bangkit. Mengacak rambutnya asal. “Di mana dia?” mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia tidak mendapati siapapun.


Usai mendapatkan Taksi. Kania langsung masuk. Mobil berjalan menuju Apartemennya. Beberapa menit kemudian sampai. Langkahnya ringan sampai di depan pintu Apartemennya. Membukanya seperti biasa.


Tapi apa yang terjadi. Semuanya kosong. Tidak ada apapun, yang terlihat hanyalah ruang kosong. Semuanya tidak ada, peralatan dan perabotan rumah menghilang.


“What the ****!” umpat Kania.


Ia segera menekan nomor seorang pria yang diduga menjadi dalang dari semua ini. “Kau apakan Apartemenku?!” tanyanya menggebu-gebu.


“Bukankah sudah jelas, jika kau akan tinggal di dekatku?”


“Tapi tidak secepat ini.”


“Aku tidak peduli.” Panggilan telepon diakhiri begitu saja.


“Sial.” Kania menghentakkan kakinya kesal. Tidak ada yang tersisa di sini. Lagi pula sejak kapan pria itu memindahkan barang-barangnya. Jika tahu barang-barangnya tidak lagi berada di sini, ia tidak ingin repot-repot datang. Melelahkan saja.


~~


Sampai di gedung Penthouse Drake. Kania di sambut oleh seorang pria yang terakhir ia temui di rumah sakit. Jefar, Jefin? Jefri mungkin. Dirinya memang mudah sekali lupa. Baiklah sekarang hanya perlu menanyakan di mana tempat tinggalnya yang baru berada.


“Hai Kania,” sapa Jefri.


“Hai J…efri?”


“Leganya kau mengingatku ternyata.” Jefri tersenyum ramah.


Kania menghela nafas. “By the way—di mana tempat tinggalku sekarang?”


“Aku akan mengantarmu.” Jefri lebih dulu berjalan.


Kania mengikuti saja langkah Jefri. Sekali lagi mengedarkan pandangannya. Ia masih ingat jelas lantai ini adalah lantai di mana Penthouse Drake berada.


“Jadi—Kania, kau akan tinggal di depan Penthouse Drake,” ucap Jefri berhenti di sebuah pintu Penthouse.


Pasti sangat melelahkan berada di dekat Drake. Apalagi sekarang mereka menjadi tetangga. Welcome to the hell, Kania. Entah berapa kali Kania mengumpat kesal.


“Lalu barang-barangku?”


“Sudah ditata rapi di dalam Penthouse.” Jefri menunjuk Smart key pintu. “Kata sandi dibuat—Drake. Katanya kau tidak boleh menggantinya.”


“Shit!” umpat pelan Kania namun masih bisa didengar Kania.


Jefri hanya tersenyum. “Luaskan sabarmu menghadapi—Drake. Oh ya aku tidak bisa berlama-lama di sini aku harus pergi.”


Kania mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah barunya. Seperti dugaannya, Penthouse yang sekarang menjadi tempat tinggalnya sama persis dengan Penthouse Drake. Hanya saja, cat ruangan lebih cerah, tidak segelap ruangan Drake.


Kania mengusap dahinya pelan. “Oke, luaskan sabarmu, Kania. Bertahanlah, semua ini akan berakhir.”


~~


Senang sekali rasanya pagi ini tidak ada yang mengganggu. Kemarin, seharian penuh Drake sama sekali tidak menganggunya. Kania masuk ke dalam kantor dengan raut sumringah. Namun saat baru saja duduk, matanya disuguhkan oleh jadwalnya hari ini. Sebelum makan siang ia masih ada meeting dengan pemegang saham termasuk Drake. Kania menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Tidak ada harinya tanpa kehadiran Drake.


Pukul 10.30 rapat akan segera di mulai. Di ruangan rapat para peserta meeting mulai masuk. Kursi satu persatu mulai terisi. Kania masuk ke dalam ruangan. Menduduki kursi pimpinan yang letaknya di ujung meja.


Sepasang mata elang seorang pria tidak lepas dari perempuan yang kini masih sibuk memperhatikan tabletnya. Tangannya mengepal saat melihat celana pendek yang sedang digunakan Kania. Drake, tentu tidak suka melihat Kania berpakaian terbuka hingga bisa dilihat orang banyak. Kania menggunakan kemeja putih dibalut jas berwarna brown dengan bawahan celana pendek sebatas paha dengan warna senada.


“Brak.” Drake menggebrak meja pelan.


Semua mata memandangnya. Tidak berani mengeluh ataupun bertanya. Hanya mampu bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang ingin berurusan dengan Drake yang terkenal arogan dan tidak mengampuni siapapun.


“Ada yang ingin kau sampaikan, Tuan Drake?” tanya Kania.


Drake tersenyum. Lebih menyamping agar bisa melihat Kania lebih jelas. “Aku hanya sedikit kesal—kenapa ada seseorang yang lebih menarik perhatianku dari pada rapat ini.”