Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Rubah


“Kania aku minta maaf karena membentakmu.” Drake menatap Kania dari samping. mereka tengah duduk di sofa. Dengan mudahnya Drake menarik pinggang kania hingga sepenuhnya melekat dengannya.


“Sorry sayang.” Drake memeluk Kania. Memebenamkan wajahnya di ceruk leher Kania.


“Aku juga minta maaf. Maaf kalau aku terkesan tidak memperhatikanmu. Tapi aku sungguh menyayangimu Drake,” ungkap Kania dengan suara pelan.


“Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi.” Drake mengecup leher Kania. Namun hanya dengan satu kecupan itu—tubuh Kania mulai merinding. Dadanya terasa berdegup tidak tenang. Telapak tangannya mulai berkeringat dingin.


“Lepaskan aku Drake.” Kania menjauh. Ia mengambil nafas dalam-dalam agar menormalkan degup jantungnya sendiri.


Drake mengambil tangan Kania. “Kamu baik-baik aja?” mengusap jari-jari tangan Kania perlahan. “Bagaimana kalau kita ke Psikiater?”


“Aku gak gila, Drake.”


Drake menggeleng. “No. Kamu emang gak gila. Tapi kita ke sana supaya bisa terapi dan sembuhin trauma kamu. Aku gak mau lihat kamu tersiksa kayak gini—Kania.” Drake mengusap puncak kepala Kania.


“Tapi Psikiater menangani orang gila.” Kania menggeleng. “Aku gak mau..” lirihnya. Ingin menangis—karena Kania merasa ia tidak gila sampai-sampai harus dibawa ke rumah sakit jiwa untuk bertemu dengan Psikiater.


Drake mengambil kedua tangan Kania. “Yaudah kita gak akan ke Psikiater. Tapi ke manapun kamu pergi harus sama aku.”


Kania mengangguk. Drake memeluknya. Mengecup puncak kepala Kania berkali-kali. “By the way, sayang. Apa kamu tidak keramas?”


“Drake!” kesal Kania. “Jika bau kenapa kamu menciumnya terus?”


“Tidak-tidak.” Drake terkekeh. “Aku hanya bercanda.” Setelah sukses menggoda Kania—Drake memeluk perempuan itu lagi.


Malam ini Kania tidur di pelukan Drake. Tidak ada kegiatan panas yang mereka lalui. Sungguh Drake bahkan tidak terfikir untuk menyentuh Kania sedikitpun saat menyadari trauma Kania kambuh.


Sebagai laki-laki tampan, atletis dan bertanggung jawab. Drake akan menjaga Kania dari para bedebah menyebalkan.


“Drake..”


“Hm?”


“Kenapa belum tidur?” tanya Kania.


“Kamu sendiri kenapa gak tidur?”


“Aku hanya tidak mengantuk. Bagaimana kalau kamu nyanyikan aku sebuah lagu.” Ide berlian tiba-tiba muncul di kepala Kania.


“Lagu apa? Cicak-cicak di dinding mau?”


“Mau.”


“Oke.” Drake menghirup udara terlebih dahulu. “Cicak cicak di dinding. Diam-diam merayap. Datang seekor Rubah hap lalu di tangkap.”


Percayalah nyanyian Drake tidak menyangkan sama sekali. Lagu anak-anak yang seharusnya ceria namun dinyanyikannya malah terasa suram. Dengan suara dalam nan berat—lagu cicak-cicak di dinding seperti nyanyian kematian.


“Bukan Rubah tapi Nyamuk,” koreksi Kania. Matanya mulai memberat. Meskipun Drake bernyanyi tidak karu-karuan. Namun bagi Kania cukup sebagai pengantar tidurnya.


“Baru saja aku aransemen ulang dan aku ganti liriknya jadi Rubah,” balas Drake. “Kadal-kadal di dinding. Diam-diam merayap. Datang seekor Rubah. Hap lalu ditangkap.”


Drake semakin aneh. Untung saja Kania sudah tertidur di pelukannya. “Good girl.” Mengecup kening Kania pelan. Drake membungkus tubuh mereka berdua dengan selimut.


~~


“Aku pergi dulu.” Kania mengambil tangan Drake. Mencium punggung tangan pria itu pelan. “Sebagai ganti karena aku belum bisa cium kamu.”


Drake tersenyum. Bahkan hatinya menghangat saat tangannya dikecup Kania. Lebih indah daripada ciuman.


“Aku akan menjemput kamu nanti.” Drake mengusap puncak kepala Kania.


“Ada apa?” tanya Kania pada salah satu pegawainya.


“Ada ibu-ibu yang datang minta coba Skincare.”


Kania mengernyit. Ia semakin masuk ke dalam.


“Bu, ibu boleh kok coba Skincare di sini tapi harus melewati prosedur ya. Gak boleh sembarangan masuk terus langsung minta. Ibu harus daftar dulu, di depan dan nunjukkin data diri. Setelah itu baru boleh masuk.”


“Gak bisa! Anak saya yang punya kok saya di suruh daftar segala.”


“Ibu—kami mohon pengertiannya. Soalnya Miss Kania tidak mengkonfirmasi kedatangan ibu.”


“Jadi kamu pikir saya berbohong jika saya adalah ibu Kania? Saya ini yang mengandung Kania selama 9 bulan. Melahirkan Kania secara normal. Ngeden buat brojolin Kania ke Dunia.”


“Bund, yaampun.” Kania mendekati Dewi Sekar yang berdebat dengan pegawainya. “Kenapa gak bilang mau ke sini? Mana ada yang tahu kalau Bunda itu Ibu Kania.”


“Salah kamu juga. Kenapa gak pasang foto keluarga di Kantor supaya orang-orang tahu keluarga kamu,” sungut Dewi Sekar dengan kekesalan yang membludak. “Bunda Cuma pengen coba Skincare kamu.”


“Iya-iya.” Kania mengusap bahu sang Ibunda. “Kalau ke sini tuh bilang-bilang. Supaya Kania siapin Skincare-nya.”


Dewi Sekar adalah tipe ibu-ibu rempong nan bar-bar. Untung Kania tidak menurun sifat Ibundanya. Kania cenderung menuruni sifat sang ayah yang cenderung kalem dan berpikir dulu sebelum bertindak. Berbeda sekali dengan Dewi Sekar yang langsung bertindak tanpa di pikir dulu.


Dewi Sekar melengos. “Mana? Bunda mau coba.”


Kania memberikan kode isyarat pada pegawainya agar pergi mengambil Skincare. Setelah melihat berbagai rangkaian Skincare milik Kania, Dewi Sekar hanya jatuh hati pada satu produk saja.


‘Sabar Kania. Kerempongan ini akan segera berakhir.’ Kania tersenyum menatap sang ibunda yang memasukkan produk ke dalam tasnya.


“Bunda sama ayah pulang hari ini. Bunda harap kamu bisa mempertimbangkan menjalin hubungan dengan Joshua. Joshua anak yang baik dan mapan. Bunda gak akan nemuin calon mantu yang sempurna kayak Joshua. Selain tampan, dia juga pintar dalam bisnis kayak kamu. Nanti kalau kamu menikah dengan Joshua, cucu Bunda semuanya bibit unggul—”


“Udah-udah.” Kania mendorong sang ibunda keluar dari ruangan. “Bunda udah ditunggu Ayah. Bunda cepetan pulang.”


“Awas kamu ya kamu kalau gak nurutin apa kata bunda. Pokoknya calon mantu Bunda cuma Joshua. Titik!” Itu perkataan Dewi sekar sebelum naik ke dalam taksi.


Kania menghela nafas. Anggap saja perkataan Bunda hanya angin lalu. Kania tidak akan menuruti perintah ibundanya itu.


~~


~~


“Bos sepertinya karena kau terlibat banyak Skandal. Para sutradara enggan memilihmu jadi pemeran utama. Mereka menawarkan pemeran figuran.”


Drake menaikan salah satu alisnya. “Apa sudah saatnya aku pensiun?”


“Tidak Bos. Tapi sebaiknya kau membersihkan image-mu. Buat citra yang bagus di depan orang-orang.”


Drake meremas sebuah naskah yang ada di tangannya. “Aku tidak memerlukan hal itu. Aku berdiri dan tumbuh dengan kedua kakiku sendiri. Aku tidak butuh orang lain untuk mencapai titik tertinggi.”


Jefri tahu, jika Drake sedang marah. Ia tidak berani berkata-kata lagi.


“Jika karirku sudah selesai di bidang film. Aku akan mengurus bisnisku yang kutitipkan pada Duke.”


“Bos..”


“Jangan kawatir jika aku akan memecatmu. Kau bisa jadi Asisten atau Sekretarisku.”


“Benarkah?”


Drake mengangguk. “Sebenarnya dunia entertaine membuatku muak. Aku juga tidak akan terus-terusan muncul di layar televisi sebagai sosok sempurna yang selalu dipuja-puja. Itu membuatku sedikit terbebani. Citraku di layar tidak sebanding dengan diriku yang asli.”