
Tidak cukup kekesalannya pagi ini, datanglah Flory ke kantornya. Masalahnya adalah Flory datang di jam kantor yang mana dirinya sangat sibuk memeriksa satu persatu dokumen.
“Ayolah—Kania. Datang ke acaraku. Tidak lama setelah kau datang kau boleh pulang. Setidaknya datanglah.”
Menghela nafas jengah, Kania menaruh bolpoinnya. “Flo, kutanya—apa kau tidak bekerja?”
“Aku sedang cuti—Kania. Kau datang ke acara ulang tahunku ya?” Flory menampilkan puppy eyesnya agar Kania luluh.
“Acara ulang tahunmu selalu diadakan di club. Bagaimana aku bisa datang?”
Alasan utama kenapa Kania tidak pernah mau datang di acara ulang tahun sahabatnya adalah karena Flory mengadakan ulang tahunnya di club. Kehidupan mereka yang berbeda membuat Kania tidak bisa terlalu dalam mengikuti Flory.
Flory meraih tangan Kania. Mengenggamnya penuh harap. “Ayolah Kania—kau bisa datang bersama Drake. Dia pasti bisa menjagamu. Kau tidak pernah datang di pesta ulang tahunku, padahal kau sahabatku.”
Kania menghela nafas. “Jangan bahas pria itu.”
“Kenapa? kau marah dengannya? Aku bisa memberitahunya jika kau tidak bisa memberitahunya.” Flory mengeluarkan ponselnya, belum sempat membuka lebih dulu diambil oleh Kania.
“Dia sibuk dengan wanita lain, jangan berurusan dengannya.”
Flory mengangguk. “So—dia sibuk dengan wanita lain. Kau juga bisa Kania! Kau bisa menyibukkan diri dengan pria lain. Maka dari itu datanglah ke pesta ulang tahunku.” Flory tersenyum. kompor—Flory seperti api yang memanas-manasi Kania.
Seperti mendapat sebuah secercah cahaya. Kania tersenyum. seperti katanya tadi—dia juga bisa seenaknya seperti apa yang dilakukan Drake. Kania mengangguk pelan. “Aku akan datang.”
~~
Kania tidak pulang ke Penthousenya, melainkan menginap di Apartemen Flory. Menghindari Drake, Kania tidak ingin bertemu dengan pria itu. Di dalam kamar Flory yang bernuansa krem ini, ia menjatuhkan diri ke atas ranjang. Menatap langit-langit kamar polos.
“Kania—sebelum kau datang ke Club. aku harus memberitahu beberapa hal.”
Kania hanya mengangguk.
“Kau harus tahu ini Kania—karena kau pemula. Di dalam club jangan mau menerima minuman dari pria yang tidak dikenal. Lalu jika kau mau minum minuman berakohol, maka minumlah bir dengan kandungan Alkohol terendah. Bersikaplah seolah-olah kau sudah biasa datang ke Club. Dengan begitu tidak akan ada orang yang berniat mengelabuhimu.”
“Lalu?”
“Lalu kau harus tetap berada di sekitarku agar aku bisa mengawasimu.”
“Bagaimana jika kau telah bersama pria. Kau akan meninggalkanku sendiri.”
“Kalau begitu—kau boleh pulang.”
Kania berdecak. Melempar bantal ke arah wajah Flory. “Dasar,” cibirnya.
“Hahahah.” Flory menjatuhkan tubuhnya di samping Kania. “Kau tahu? Diantara banyaknya temanku di luar sana, kau adalah satu-satunya temanku yang mengerti keadaanku, Kania. Meski gaya hidup kita yang sangat berbeda entah kenapa aku nyaman berteman denganmu yang kampungan ini.”
Kania mendesis. Melirik Flory dengan sinis. “Lanjut—terus saja menghinaku.”
Awal pertemanan mereka saat Flory tidak sengaja meninggalkan dompetnya di sebuah bangku kafe yang tidak jauh dari Kania. Awal mula yang klasik bukan? namun memang seperti itulah jalan cerita pertemanan mereka. Kania mengambilnya dan mengembalikannya pada Flory. Mereka mulai berkenalan dan bercerita satu sama lain. Waktu itu, Kania baru saja pindah ke Jakarta dan akan memulai bisnisnya.
Flory berperan penting dengan selalu membantu Kania mencari tempat tinggal yang cocok. Mengajari Kania beberapa hal penting selama tinggal di Jakarta. Menjadi tempat ternyaman Kania menceritakan hal.
Lagi-lagi Flory tertawa menampilkan lesung pipinya. “Aku sangat ingat dulu aku sempat pergi ke London menemui orang tuaku selama 3 bulan, sebelum aku pergi kau menangis di Bandara. Kau menangis seperti orang yang akan ditinggal kekasih selamanya.”
Kania menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. “Aku tidak ingat. Itu bukan aku—itu pasti temanmu yang lain.”
“Iyuuuuh.” Kania berusaha menjauh dengan serangan Flory yang bertubi-tubi.
~~
Malam ini, Kania telah siap dengan oufit yang dipilihkan oleh Flory. Meski sedikit tidak yakin Kania tetap menggunakannya agar tidak terlihat aneh di antara orang-orang yang datang. Flory bersiap, ada sebuah mahkota yang nantinya akan dipakai saat perayaan ulang tahunnya.
“Are you ready?” tanya Flory dengan antusias.
Kania mengangguk.
“Berangkat.”
Sesampainya di Club. Suasananya memang sudah ramai. Lantai pertama sudah di sewa penuh oleh Flory sedangkan lantai kedua masih bisa didatangi oleh orang luar. Tidak salah Kania menggunakan pakaian seperti ini, karena para wanita yang datang lebih parah. Seperti hanya menggantung kain tipis di tubuh mereka.
Saat Flory sedang sibuk menyapa teman-temannya yang lain. Kania memilih untuk menepi—duduk di seberang bartender. Kania duduk paling ujung tanpa berniat memesan apapun.
Sedangkan dari lantai atas ada seorang pria yang menatap ke bawah dengan tatapan tidak bisa di artikan. Tatapan intens seakan bersiap membunuh targetnya. Drake tahu wanita yang sedang duduk itu memanglah Kania. Pandangannya tidak lepas dari pakaian yang sedang digunakan oleh Kania.
“Apa yang kau lihat—Drake?” tanya Anastasya yang duduk di samping Drake.
“Nothing,” jawab singkat Drake membuat Anastasya terdiam. Pasalnya Drake hanya menampilkan raut dingin dan tidak ingin diganggu siapapun.
Namun tidak dengan tangannya. Anastasya berusaha mengusap dada Drake dengan sensual. Tak hanya itu, ia juga berusaha memberikan kecupan di leher pria itu.
“Berhenti. Pergi.” Drake tidak segan mengusir Anastasya yang semakin menghancurkan moodnya.
“Tapi—“
“Pergi.”
Anastasya akhirnya pergi. Mereka tidak hanya berdua, namun juga bersama para kru dan pemain film lainnya. Mereka datang ke club untuk bersenang-senang melepaskan penat setelah 1 bulan penuh menjalani syuting. Sebagai perayaan juga karena besok penayangan pertama Film di bioskop yang digadang-gadang bersiap memecahkan rekor lagi.
Sofa bergerak pelan, pertanda ada seorang yang duduk di samping. “Kau melihat apa?” tanyanya. Tidak ada jawaban. Ia memilih untuk mencari tahu sendiri. “Oh—kudengar di sana ada perayaan ulang tahun.”
Drake menoleh. Leon, aktor yang membintangi film yang sama dengannya. “Kau tahu?”
“Kudengar dari seseorang, ada yang menyewa satu malam penuh untuk bersenang-senang.”
Sepasang mata elang Drake semakin menggelap. Tangannya mencengkram gelas yang ditangannya saat melihat Kania tengah berkenalan dengan seorang pria. Lagi-lagi fokusnya tentang pakaian yang digunakan wanita itu. Sangat terbuka—hingga ia ingin sekali segera merobeknya.
~~
“Kenalkan dia temanku—Kania.” Flory mendekat dengan seorang pria tampan berkaca mata.
Kania tersenyum.
“Kania—dia Joshua, temanku sekaligus Direktur perusahaan tempatku bekerja,” Jelas Flory.
Kania mengangguk. Joshua mengulurkan tangannya. Disambut Kania dengan hangat.
“Kania.”
“Joshua.”