
Ada hal yang paling disukai oleh Kania. Melihat banyak lukisan berbeda membuatnya bahagia. Malam ini, siapapun tidak akan bisa mencegahnya untuk pergi ke Pameran Lukisan. Menggunakan masker dan kacamata untuk menutupi wajahnya, Kania tidak mau ada orang yang menyadari keberadaannya apalagi skandalnya masih panas dibicarakan orang-orang.
Tema lukisan dari pameran kali ini adalah perjalanan cinta si Pelukis. Kania melangkah ke dalam. Sepi dan sunyi namun menenangkan. Pada lukisan pertama, tergambar seorang perempuan yang sedang berbelanja di Supermarket. Sudut bibir Kania terangkat, bibirnya melengkung membentuk senyum.
“Pasti tipe pelukis yang romantis.”
Perlahan tapi pasti, Kania menjelajah lukisan satu persatu. Di lukisan terakhir ia harus menelan kenyataan pahit. Akhir yang menyedihkan. Tergambar siluet perempuan yang membawa koper dan berjalan ke arah padang rumput dengan langit mendung.
“Aku tim happy ending, tapi yasudahlah,” keluhnya.
Kania berjalan kembali. Seorang pria tengah mengamati lukisan pertama. Tidak asing, sepertinya kenal. “Joshua,” lirih Kania.
Pria dengan setelan kemeja itu menoleh, kedua alisnya terangkat. “Siapa?” tanyanya dengan bingung.
Kania menurunkan kacamata dan maskernya.
“Kania,” seru Joshua. “Woaah aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini.”
Kania tersenyum. “Aku juga tidak menyangka. Jadi kau juga suka lukisan?”
Joshua mengangguk. “Ya, pelukisnya adalah temanku.”
“Kalau begitu sampaikan pada temanmu, lukisan yang indah tapi aku sedih karena harus sad ending,” ucapnya sembari tertawa.
“Tentu aku akan menyampaikan padanya karena aku juga tim happy ending sepertimu.”
Melirik jam tangannya, Kania harus segera pulang jika tidak ingin Drake marah. “Aku harus pulang, Josh. Sampai jumpa.” Baru saja berbalik badan. Mendadak tidak sanggup melangkah saat seorang pria tengah berdiri tidak jauh darinya.
“Drake—kau di sini?”
“Untuk memergokimu dengan laki-laki lain.”
Kania melirik Joshua sebentar. “Tidak seperti bayanganmu. Aku tidak sengaja bertemu dengan Joshua. Kau salah paham.”
Drake menarik pergelangan Kania. Matanya menajam saat melihat tangan Kania yang di pegang oleh Joshua. “Lepaskan kekasihku.”
“Kau menyakitinya, dude.”
“Bukan urusanmu. Lepaskan!” Drake semakin tidak mau kalah.
Kania menatap Joshua. Mengangguk memberi isyarat agar melepaskan tangannya. Hingga benar-benar terlepas, Drake menariknya keluar dari ruang pameran. Tidak ada kata-kata yang terlontar dari pria itu. keterdiamannya diiringi dengan raut datar. Sampai pada mobil pun, Drake masih diam.
“Aku tidak datang dengannya, Drake. Aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya di Pameran.”
“Drake—dengarkan aku. Aku benar-benar tidak berbohong padamu.” Kania merasa bersalah. Terdengar helaan nafas panjang dari bibirnya.
Mobil dibelokkan secara mendadak hingga menimbulkan bunyi decitan. Reflek memegang kedua kepalanya, Kania perlahan membuka matanya.
“Jika kau ingin pergi ke Pameran kenapa tidak bilang padaku? Aku bisa mengantarmu. Kau benar-benar mau melawanku hm?” Drake meraih mengusap pipi Kania.
“Aku tidak ingin merepotkanmu—lagi pula skandal kita masih sedang dibicarakan orang-orang. Aku tidak ingin kebersamaan kita semakin terekspos oleh media.”
“Persetan dengan orang-orang—Kania. Aku sama sekali tidak peduli.”
“Tapi kau publik figur—Drake! Sedangkan aku hanya orang biasa yang tidak terbiasa dikejar oleh kamera dan dicecar pertanyaan tentang hal pribadi. Dunia kita sangat berbeda—kau sadar itu?”
“Dunia kita memang berbeda, tapi kau bisa masuk duniaku dan aku bisa masuk ke duniamu. Kita bisa menjalankan Dunia yang berbeda dengan tetap bersama.”
Kania menggeleng. “Aku pikir itu tidak mungkin.”
“Lalu kau akan bersama pria itu?” tanya Drake. “Kau membuatku gila—Kania. Kenapa kau terus menghindariku?”
“Aku hanya butuh waktu sendiri.”
“Tapi kau terlihat bahagia saat bersama pria tadi.”
Kania terdiam.
“Oke aku mengerti.” Setelah itu Drake menjalankan mobilnya. Kali ini dengan kecepatan rata-rata. Tanpa berkata lagi—tanpa ada perbincangan lagi diantara mereka berdua. Watak mereka memang sama-sama keras kepala, tidak ada yang ingin mengalah.
~~
Pagi hari—Kania sudah siap dengan balutan hoddie dan jeans. Tidak tahu Drake akan membawanya ke mana, yang pasti ia sedikit takut. Sedari tadi ia tidak berhenti meremas kedua tangannya.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan. Kania turun, mengikuti langkah Drake yang sudah berjalan dulu. Sesampainya di dalam sebuah ruangan, ia melihat banyak peralatan bermain golf.
“Kau bisa bermain golf?” tanya Drake.
Kania menggeleng.
“Benar-benar tidak bisa?”
Kania mengangguk lagi.
Usai memilih peralatan yang dibutuhkan. Drake menggenggam tangan Kania. Berjalan menuju tempat bermain golf. Di sana sudah ada sepasang suami istri. Mereka mendekat dengan senyum yang merekah.
“Hai—Kania akhirnya aku bertemu denganmu lagi,” sapa Jean memeluk Kania.
“Aku senang bertemu denganmu lagi,” balas Kania.
“Kau bisa bermain?” tanya Jean.
Kania menggeleng. “Aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa.”
Jean tertawa ringan. “Mau belajar?” tawarnya.
“Ehm—sepertinya lebih baik aku menonton saja. Belajar dari awal sangat melelahkan bukan?”
“Kau sangat berterus terang—Kania. Aku suka,” balas Jean. “Baiklah aku juga akan duduk denganmu dan menikmati teh.”
Drake yang di samping Kania sedikit tersenyum. Mungkin ini pertama kalinya ia melihat Kania yang tersenyum saat berada di dekatnya. Mencium pipi Kania dengan cepat. “Tunggu aku,” ucapnya sebelum melangkah pergi.
“Owh dia bisa seperti itu juga,” ucap Jean sembari menggeleng.
Kania mengedikkan bahu. “Dia tidak terduga.”
Kania dan Jean duduk santai sembari menikmati secangkir Teh dan kue ringan. Sedangkan dua pria sedang bersaing mencetak point sempurna agar menang.
“Hei—bagaimana dengan skandalmu?” tanya Duke.
“Aku tidak memikirkannya.”
“Berpengaruh pada pekerjaanmu?”
“Tentu saja—beberapa brand membatalkan kerjasama.”
“Kau baik-baik saja?”
Drake mengusap peluhnya. “Kau tidak perlu mencemaskannya—Uangku banyak, Duke. Jika uangku habis aku juga bisa memintamu.”
“Dasar,” cibir Duke. “Kupikir Kania sangat mengacaukan hidupmu. Kusarankan lebih baik tinggalkan saja. Lagipula banyak wanita di luar seperti Kania.”
Drake mendadak berhenti. Menatap tajam Duke yang kini sedang berkacak pinggang. “Tutup mulutmu!”
“Kenapa? Bukankah biasanya kau mudah bosan dengan wanita? Meninggalkan satu wanita saja tidak masalah bukan? lagi pula kau pasti sudah mencicipinya hingga bosan.”
“DUKE! JAGA UCAPANMU!” Drake melayangkan pukul pada rahang Duke. Pria itu memegang rahangnya yang terasa ngilu.
Setelahnya Duke tidak membalas perbuatan Drake. Pria itu tertawa sangat keras hingga memegangi perutnya. “Kau sangat lucu—Drake.”
“Kau memang gila,” cibir Drake.
“Kau mencintai Kania. Jangan mengelak—akui saja jika kau mencintainya. Agar dia tidak kabur darimu kusarankan perlakukan dengan baik.”
“KAU GILA DRAKE—KENAPA MEMUKUL SUAMIKU YANG TAMPAN INI?” jerit Jean berlari mendekat. Di belakangnya ada Kania yang nampak kawatir.
“Sayang aku baik-baik saja. Aku hanya memberitahu sesuatu pada Drake yang bodoh ini.”
“Ada masalah?” tanya Kania di samping Drake.
Drake menoleh. Tersenyum dengan lembut membuat Kania tertegun. “Tidak ada.” Tangan Drake bergerak menggenggam tangan Kania. “Ayo pergi.”
“Mau ke mana kau setelah memukul suamiku?” tanya Jean menghalangi Drake.
Drake memutar bola matanya malas. “Kau berlebihan Jean. Dia kuat ‘bermain’ berjam-jam denganmu tapi mengatasi pukulanku saja masa tidak bisa?”
Jean menutup mulutnya. “Yaa, bagaimana kau tahu?” tanyanya heran sembari menggeleng. “Oh jangan-jangan kau melihat kami ‘bermain’.”
Drake menggeleng dengan jijik kemudian segera menarik Kania menjauh dari mereka.
“SUDAH BERAKHIR? AKU DATANG DAN KALIAN SUDAH SELESAI?” teriak seseorang yang baru datang.
Kania mengernyit, pria yang kini tengah mendekat familiar baginya.
“Hai—Kania,” sapanya.
“Joshua.”
“Siapa yang mengundangmu?” tanya Drake terdengar begitu menusuk.
“My sister,” tunjuk Joshua pada wanita yang berdiri di belakang.
Drake menoleh, pandangannya lurus pada sepasang suami istri yang tengah tersenyum puas. Duke dan Jean berjalan mendekat dengan saling merangkul. Duke menepuk bahu Drake pelan. “Adik iparku bisa saja merebutnya,” ucapnya pelan.
“Sialan—hari ini kau sangat menyebalkan, Duke!”