Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Mulai Menyukainya?


“Besok lusa syutingmu akan mulai, Bos,” ucap Jefri.


Drake mengangguk. Ia sudah tahu, dua minggu lalu ia memang telah menerima tawaran menjadi pemeran di film Action. Selama menjauh dari Kania, ia lebih sering ke tempat Gym untuk menjaga stamina tubuhnya.


“Berapa lama perkiraan syuting akan berlangsung?” tanya Drake. Duduk di sofa sembari melipat tangannya.


“1 bulan paling cepat. Selama itu apa hubunganmu dengan Kania tidak terganggu?” tanya Jefri.


Terdiam sebentar. “Aku mulai dekat dengannya. Tapi saat aku jauh lagi darinya mungkin kita akan kembali ke awal.” Benar, Drake selalu berpikir hubungannya dengan Kania mulai membaik karena mereka selalu bersama dan menghabiskan waktu berdua. Tetapi saat ia pergi nanti—ia yakin hubungannya dengan Kania akan merenggang lagi.


Jefri berdehem kecil. “Bos—kulihat tadi pagi Kania keluar dari Penthousemu. Apa kalian sudah mulai?” tangan Jefri membentuk sesuatu kode pada Drake.


Drake yang mengerti langsung melempar bungkus rokok ke arah Jefri. “Bukan urusanmu—lebih baik carilah wanita agar tidak usah mengurusiku.”


“Itu memang pekerjaanku—bos. Mengurusimu dan merawatmu dua hal yang sudah menjadi tugasku dan tidak bisa ditawar lagi.”


Bagi Drake—Jefri lebih dari manajernya. Pria yang berumur lebih tua darinya itu sudah bersamanya selama bertahun-tahun. Rahasia apapun yang dimiliki Drake, pasti Jefri tahu. Menjadi Manajer yang paling sabar dan tahan berada di sisi seorang Drake.


“By the way—apa kalian sudah bercocok tanam?”


Hampir menyemburkan minumannya. Drake melotot—pertanyaan managernya diluar dugaannya.


“Sepertinya belum atau tidak,” gumam Jefri


“Aku tidak bisa sembarangan dengannya,” tukas Drake.


“Biasanya juga sat-set—kenapa sekarang lama?”


“Sudah kubilang bukan urusanmu!” Drake lelah dicecar pertanyaan oleh managernya. Ia memilih menyandarkan diri dan menutup mata sejenak.


“Bos—bos kau tidak bisa menyentuhnya meski sangat ingin tandanya kau lebih dari menyukainya. Bukan rasa tertarik lagi—mungkin kau sudah mulai mencintainya.”


Perkataan Jefri membuat Drake terdiam. Berperang dengan pikirannya sendiri. Tidak mungkin secepat ini mencintai seseorang. Drake tidak pernah bertahan lama menyukai seseorang. Rasa suka dan tertarik yang ia rasakan pada perempuan perlahan akan menghilang.


**


“Jadi hubunganmu mulai membaik dengan Drake?” tanya Flory.


Memutuskan bertemu di jam makan siang. Dua perempuan karir tengah duduk di sebuah Restoran.


Kania mengangguk.


“Kau mulai menyukainya?” selidik Flory.


Kania dengan cepat menggeleng. “Bukan—tapi ada hal yang tidak kuketahui tentangnya. Sisi positif yang dimilikinya. Kupikir dia hanya memiliki sisi gelap dan buruk. Tidak—bukankah semua orang memang memiliki sisi gelap dan terang?”


“Mengaku saja—kau tertarik dengannya, Kania.” Flory tersenyum lalu menyeruput minumannya.


“Tidak—aku tidak mungkin tertarik dengannya. Dia jauh dari tipeku.”


“Cinta tidak memandang tipe—sayangkuh,” Flory menepuk pipi kanan Kania pelan.


“Kau sendiri sudah tertarik dengan seseorang?”


Flory bertopang dagu. Mengingat kembali moment ketika dirinya menghabiskan waktu dengan pria. “Sejauh ini belum. Aku suka dengan pria yang bisa bermain lama—bisa memuaskanku. Aku tertarik dengan pria yang terlihat cuek tapi sangat ganas di atas ranjang. Huuuh sangat sulit mencari pria seperti itu bukan?”


Kania yang mendengar bergidik ngeri. “Kau tidak waras—Flo.”


“Hahahah.” Flory tertawa renyah. “Lain kali kau harus ikut denganku ke club. Berpesta dan bersenang-senang.”


“Tidak.”


“Pawang sementara,” koreksi Kania.


~~


“Aku akan mulai syuting.”


Kania mengerutkan keningnya. Bersantai duduk di sofa depan Televisi. Pahanya yang dijadikan bantalan oleh seorang pria. “Kapan?” tanyanya.


Merasakan perutnya di peluk lebih erat. Hembusan nafas hangat menerpa perutnya meski masih terbalut dengan Piyama bergambar Marsha & The Bear. Akhirnya tangannya terangkat membelai rambut ikal Drake.


“Besok.”


Mengangguk pelan. “Semoga lancar.” Sedikit demi sedikit Kania mulai biasa dengan Drake. Tidak sekaku dulu yang selalu menolak dan ingin kabur. Setidaknya Kania juga harus ingat sebelum berakhirnya perjanjian ia berstatus kekasih Drake.


“Saat aku tidak akan disekitarmu—jangan membuat ulah. Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain. Aku juga tidak suka kau pulang larut malam. Sampai aku melihatmu berdekatan dengan pria lain, aku tidak akan ragu menghabisinya.”


Tidak ada jawaban dari Kania membuat Drake mendongak. Menatap perempuan yang sedang memfokuskan diri menonton layar televisi yang menampilkan Drama Korea Selatan.


Drake tersenyum licik. Kelengahan Kania membuat ide terlintas di otaknya. Tangannya menelusup ke dalam piyama yang digunakan perempuan itu. Membelai perut rata itu sebentar.


“Drake,” desis Kania. Mengenggam pergelangan pria itu lalu menjauhkan dari perutnya.


Drake bangkit. “Kau mengerti apa yang kukatakan?”


Kania berpikir sebentar lalu mengangguk. “Iya aku mengerti.”


“Ulangi apa perkataanku tadi. Jika kau tidak bisa—kau harus menciumku.”


Skak! Kania tidak tahu apa yang dikatakan Drake saat dirinya tengah menonton Drama. “Ehm—tadi kau bilang syutingmu akan dilakukan besok?”


“Setelah itu.”


Berpikir keras. Kania mencoba mengingat. “Lalu—kau akan berusaha menampilkan yang terbaik untuk penggemarmu. Kau akan bekerja keras agar film itu menjadi sukses? Benar ‘kan?”


Drake menghela nafas. “Aku berharap seperti itu—tapi aku tidak bilang seperti itu tadi. Sekarang one kiss.”


 Kania mengerucutkan bibirnya sebentar. Mendekat kemudian mengecup kedua pipi Drake secara bergantian.


“Bukan seperti itu yang kumaksud.”


“Kau tidak bilang aku harus menciummu di mana? Memangnya kau menyuruhku mencium bibirmu? Tidak ‘kan?”


Kalimat Kania membuat Drake terdiam. Mata elangnya tak lepas dari Kania yang tengah tersenyum puas melihat keterdiamannya. Tanpa aba-aba, tangannya menarik pinggang permpuan itu hingga jatuh tepat di pangkuannya.


“Kenapa kau selalu melawanku? Kau sudah tidak takut denganku?” menyusuri wajah cantik Kania menjadi hobi barunya. Menatap lamat-lamat wajah polos yang tidak sedang menggunakan make up. Drake memang sudah gila, apapun yang ada pada Kania ia memang suka.


Kania menganggukkan kepalanya. “Aku tidak takut pada siapapun—bahkan dengan dirimu. Kau pikir aku selama ini takut denganmu? No—tidak mungkin. Kania tidak pernah takut pada siapapun.”


Drake tertawa renyah. Kania adalah perempuan paling gengsi yang pernah ditemuinya. Telapak tangannya membungkus tangan mungil Kania yang mulai berkeringat karena tegang. “Oh—ya? Lalu kenapa tanganmu berkeringat dan dingin sekali?”


“Hahaha.” Menarik lepas tangannya. “AC di sini sangat dingin itu membuatku kedinginan sekaligus sedikit berkeringat.” Kania mengusap peluhnya.


“Tidak masuk akal.”


“Aku lulusan Universitas terbaik—kau harus percaya!” Kania tidak berbohong. Ia memang menjadi lulusan terbaik karena nilai IPK-nya yang nyaris menyentuh angka Empat.


“Baiklah aku percaya kau memang kedinginan…. Kau mau tahu cara agar lebih hangat?” Drake tersenyum penuh arti.