
“Drake,” panggil Kania.
Setelah memasak, Kania dan Drake duduk saling berhadapan di meja makan. Bukan Kania yang masak—tapi Drake. Karena sesungguhnya Drake lebih pintar memasak daripada Kania.
“Ya?”
“Ada yang ingin aku tanyakan.”
“Kenapa?”
“Apa malam itu kamu tidur dengan wanita lain?”
Drake hampir tersedak dengan pertanyaan Kania yang begitu tiba-tiba. “Tapi kenapa kamu baru menanyakan hal ini?”
“Aku harus menyiapkan hati untuk menerima kenyataan. Aku tidak akan tidur lagi, aku akan bangun dan menghadapi apa yang terjadi.”
Drake menghela nafas. “Aku tidak tidur dengan wanita lain.” Drake tidak berbohong. Ia memang tidak tidur dengan wanita lain. Memang ada wanita malam itu yang menggodanya. Dengan pengaruh alkohol Drake melihat wanita itu seperti Kania.
Alhasil wanita itu menggodanya lebih leluasa. Tapi setelah itu Drake sadar jika wanita itu bukan Kania dan mendorongnya jauh-jauh dari dirinya.
“Really?”
“Yah. Aku mual setelah mencium aromanya di bajuku. Di klub aku menginap karena keadaanku yang sangat mabuk. Aku tidak pulang meskipun aku ingin. Aku menginap sendirian di kamar klub—Kania. Tidak ada acara tidur dengan wanita lain.”
“Tapi bagaimana tanda di lehermu?” tanya Kania masih curiga. “Apa kau sendiri yang membuatnya?”
Drake menggeleng. “Dia berhasil mendekatkan diri padaku. Waktu itu aku tidak sadar dan mengira wanita itu dirimu. Mangkanya aku tidak keberatan saat dia memberiku tanda. Tapi saat aku sudah sadar. Aku langsung mendorongnya menjauh.”
“Really?”
“Sungguh Kania. Aku tidak berbohong. Bagaimana mungkin aku tidur dengan wanita lain jika wajahmu yang terus berputar di kepalaku.”
Kania menyipitkan mata. “Ini gombal atau kenyataan?”
“Kenyataan yang kamu anggap gombal.”
“This problem is clear.” Drake mendekatkan wajahnya dengan Kania. “Ada yang ingin kamu tanyakan lagi? Tanyakan saja sepuasnya.”
“Apa pertanyaan kamu masih berlaku?”
“Pertanyaan yang mana?”
Kania bangkit dari duduknya. “Di malam tahun baru.”
Drake teringat. “Always, Kania. Tidak ada batas kadualuarsa.”
“Drake aku sudah yakin dengan keputusanku. Aku ingin kita melangkah ke jenjang yang lebih serius. Tapi sebelum itu aku ingin jadi wanita yang sempurna buat kamu.”
Drake menggeleng. Mendekati Kania dan memeluknya dari belakang. “Kamu sempurna. Aku tidak perlu apapun lagi.”
Kania tersenyum. “Aku akan berusaha jadi sempurna.” Membalikkan badannya mengalungkan kedua tangannya di leher Drake. “Temani aku bertemu Psikiater.”
~~
Kania datang ke Psikater dengan Drake. Setelah menjalani pemeriksaan Kania sedikit tenang. Entah tapi ada perasaan sedikit lega. Di tangannya sudah ada paper bag yang berisi obat-obatan.
“Kamu baik-baik aja?”
Kania mengangguk. Ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan dari temannya. Flory meneleponnya.
“Hallo—Flo.”
“Kania kau sedang apa?”
“Aku tidak sibuk. Katakan ada apa.”
“Kau sudah berbaikan dengan Drake?”
“Sudah.”
“Bagaimana kalau kita double date?”
“Double date?” ulang Kania. “Kau sudah mendapatkan pria?”
“Bukan mendapatkan. Tapi aku sudah berkencan dengan pria. Ayola Kania. Ajak Drake ya?”
Kania menoleh. “Bagaimana apa kamu mau?”
Drake langsung mengangguk. Kapan lagi bisa double date. Hitung-hitung agar lebih kenal dengan dunia Kania.
“Oke. Nanti share tempatnya di mana.”
“See you.”
Malam ini Kania cantik dengan balutan dress berwarna putih. Nampak manis dengan riasan tipis. Tempat pilihan Flory adalah pinggir pantai. Di sana ada sebuah Yach yang terparkir. Katanya milik pacar baru Flory.
“Kania!” Flory melambaikan tangan.
Flory langsung memeluk Kania. “Akhirnya.”
Di belakang Flory ada sosok pria tampan. Kania yakini dia adalah pacar Flory. “Kenalkan ini kekasihku, Ayden.” Flory mengalunkan tangannya di lengan sang kekasih.
“Kania.” Kania mengangguk tersenyum.
“Drake.” Drake hanya tersenyum tipis. Dengan tangan yang setia memeluk pinggang Kania dari samping.
“Senang bertemu dengan anda—Sir.” Ayden mengulurkan tangannya.
Drake menjabat tangan Ayden. “Jangan terlalu kaku.”
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Flory pada Ayden.
Ayden mengangguk. “Relasi bisnis.”
~~
Agendanya adalah memancing. Drake dan Ayden sama-sama bersiap untuk memancing. Yach yang dinaiki mereka sudah berhenti di tengah laut. Sedangkan Kania dan Flory menikmati camilan di sofa.
“Aku baru tahu tipemu berubah.” Kania menatap Ayden. Menurutnya jauh dari tipe Flory yang biasanya. Bukannya memandingkan. Ayden memang tampan namun terkesan lebih culun dan sedikit kurus.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Flory. “Dia terlihat culun bukan? Dia bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya.”
Kania hampir memuntahkan minumannya mendengar perkataan Flory. “Memangnya ada pria seperti itu?”
Flory tertawa. “Buktinya ada. Kau tahu—Aku adalah first kissnya. Betapa beruntungnya aku mendapatkan pria seperti dia.” Flory menatap Ayden dengan kekaguman. “Bagaimana ya hubungan kita ini sedikit rumit Kania.”
Kania memakan camilannya. “Bagaimana?”
“Kita tidak melakukan sentuhan selain ciuman.”
Kania memutar bola matanya malas. “Tidak percaya. Tidak usah membodohiku.”
“Aku berani bersumpah Kania. Dia tidak menyentuh wanita. Katanya dia akan menyentuhku saat kita sudah menjalin hubungan yang resmi.” Flory tersenyum sembari memeluk tubuhnya sendiri. “Aku sangat menyukai dia.”
“Apa Kania adalah wanita yang membuatmu ingin berhenti di dunia film?” pertanyaan dari Ayden saat melempar pancingnya.
Drake melakukan hal yang sama. “Apa gosipnya sudah menyebar luas?”
“Semua orang sudah tahu jika kau akan mengambil alih bisnismu sendiri.”
“Seperti itu.” Drake mengangguk. “Aku memang ingin berhenti. Jadi Selebriti tidak seenak yang terlihat. Dengan statusku sebagai Aktor tidak memudahkanku menjaga Kania.”
Ayden dan Drake memang mengenal baik. Dalam artian hanya sebatas rekan bisnis. Tidak terlalu kenal secara pribadi. Perusahaan Ayden bekerja sama dengan perusahaan Drake yang saat ini masih dikelola oleh Duke.
“Aku tidak tahu jika kau masih menyukai wanita.” Komentar Drake membuat Ayden mengerjap.
“Hei-hei.” Ayden menyenggol bahu Drake. “Kuberitahu jangan percaya pada gosip murahan.”
Drake tertawa renyah.
“Bukannya lancang. Apa hubungan Kania dengan Joshua?”
“Joshua Viction?”
“Ya. Aku pernah melihat mereka keluar dari restoran yang sama.”
“Kapan kau melihatnya?”
“Akhir-akhir ini. Tapi aku lupa tepatnya kapan.”
Drake tidak akan marah. Ya Drake ingin marah namun ditahannya. Ia sudah berjanji akan saling percaya. “Hanya urusan bisnis. Kania pernah bilang jika Viction bekerja sama dengan Maharani Crop, bisnis Kania.”
“Oh Kania juga punya bisnis?”
Drake mengangguk.
“Pantas saja. Kukira Kania bekerja di bidang lain.”
Baru kali ini Drake bersyukur tidak marah lebih dulu. Ia bisa saja menyakiti Kania karena terlalu cepat menyimpulkan.
Pancing Ayden bergerak. Dengan cekatan pria itu menarik pancingnya. Butuh bermenit-menit sampai berhasil menarik ikan. Ayden mengangat ikan yang telah ditangkapnya.
“Kamu hebat babe!” teriak Flory dari jauh.
“Waah.” Kania memberikan jempolnya pada Ayden.
Drake tidak akan kalah. Begitu pancingnya mulai bergerak. Drake langsung menariknya. Bukan ikan besar yang didapatnya—melainkan ikan kerapu dengan ukuran hanya telapak tangannya.
“Coba lagi—Bro. Jangan menyerah.” Ayden merangkul bahu Drake. Mengusapnya perlahan. “Kau pasti bisa.”
“FIGHTING BABE!” teriak Kania.
Drake berdecak kesal. Rasanya ingin membating ikan di tangannya. Tapi sayang juga jika dibanting—lebih baik dimasak.