
Dress maroon dengan potongan v-neck. Panjangnya sampai mata kaki namun belahannya dari paha hingga ke bawah. Memutar balikkan tubuhnya, Kania menatap dirinya amat teliti. Semuanya sudah sempurna. Tidak celah dari dirinya yang kurang menarik. Semua yang ia kenakan nampak indah.
Kania melangkah keluar dari ruangan. Berjalan ke arah lobi perusahaan. Dari dinding yang terbuat kaca, ia melihat mobil Drake yang sudah berada di depan. Setelah menghela nafas dalam-dalam, Kania tidak akan berusaha kabur. Inilah perjanjian yang telah ia buat dengan iblis itu.
Drake keluar dari mobil. Pakaiannya rapi dengan setelan jas yang menawan. “Kau tidak akan kabur?” tanyanya mengejek.
“Tidak ada gunanya kabur jika kau juga akan terus menangkapku,” balas Kania.
“Akhirnya kau sadar juga.”
Kania menyipitkan matanya. “Kita akan ke mana?”
“Kemanapun asal bersamamu.”
Bukannya tersanjung dengan rayuan Drake, Kania dibuat mual. Ekor matanya melirik Drake. Dibilang tampan, Iya sangat tampan. Namun Psyco dan menakutkan. Terkadang sangat menyebalkan. ‘Tidak ada yang perlu kusukai dari pria ini.’
“Kau mengagumi ketampananku?” tanyanya percaya diri.
Kania menggeleng. Tangannya memegang handle pintu mobil. “Ayo berangkat.”
Justru yang dilakukan Drake adalah manarik pinggang Kania hingga menempel padanya. Menunduk lalu memeluk tubuh mungil itu. Menghirup aroma kesukaannya. “Kau tahu? Aku suka aromamu.”
“Kau bisa beli parfum yang sama denganku. Jangan seperti orang susah.” Kania ragu, tapi tangan kanannya terangkat mengusap bahu Drake pelan.
Drake terkekeh. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Mendaratkan sebuah kecupan dileher jenjang perempuan itu, spontan mendapatkan balasan sebuah pukulan pada bahunya.
“Sekarang lepaskan aku. Bagaimana jika ada pegawaiku melihat kita.”
“Beritahu saja kita berkencan.”
Kania mendorong tubuh Drake. Setelah itu segera masuk ke dalam mobil tanpa diperintah. Drake hanya tersenyum tipis, lalu berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil.
**
Mobil berhenti di sebuah gedung yang sudah ramai. Semuanya nampak sangat rapi dengan pakaian formal. Tunggu! Kania memperjelas penglihatannya. Di sana berjajar para wartawan yang jumlahnya banyak. Mereka sibuk mengejar kalangan selebritas untuk diwawancarai.
“Di sana ada wartawan. Apa kau yakin akan masuk?” tanya Kania pada Drake.
Kania menerima sebuah topeng berwarna hitam dengan bulu di pinggirannya. Segera ia memakainya tanpa bertanya lagi. Ketika ia menoleh bukan hanya dirinya saja yang memakai topeng, Drake juga.
“So—pesta topeng?”
“Seperti itu.”
Mereka berdua turun dari mobil. Belum sempat berjalan, mereka terpaksa berhenti akibat wartawan yang mengerubuni mereka. Kania mendongak, merasakan ada sebuah tangan yang merangkul pinggangnya dari belakang. Tak lama disusul jepretan flash kamera bertubi-tubi.
“Siapa yang menjadi pasangan Drake Cole malam ini?”
“Apakah anda kekasih Drake, nona?”
“Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?”
“Apa anda tidak takut setelah ini penggemar perempuan akan kecewa?”
Drake sangat santai, sudah menjadi makanan sehari-hari baginya dicecar pertanyaan oleh wartawan. “Saya tidak akan menjawab pertanyaan dari kalian—silahkan menebak sendiri.”
“Bagaimana dengan penggemar anda yang nantinya akan kecewa dan marah?”
Drake tertawa kecil. “Mereka menyukai saya karena karya saya. Mereka tidak akan masuk ke dalam ranah privasi saya. Saya kira penggemar saya cukup dewasa menerima dan mendukung apa yang dilakukan idolanya.”
“Siapakah nona cantik ini? Apa dia juga dari kalangan selebriti atau dunia film?”
Drake menatap Kania sembari tersenyum. “Saya tidak ingin mempublish dirinya. Dia spesial, saya tidak ingin mengungkapkan identitasnya dan membuatnya tidak nyaman.”
Tidak ingin lama-lama meladeni wartawan, Drake menarik Kania berjalan. Akhirnya mereka masuk ke dalam gedung. Semua yang di dalam menggunakan topeng. Mereka tidak bisa saling mengenali karena wajah yang saling terhalang topeng.
“Acara apa sebenarnya?” lirih Kania.
“Just party—untuk merayakan kelahiran anak Gabby.”
“Gabby?” ulang Kania.
Drake mengangguk. “Anak harimau yang dipelihara mereka.” Dagu Drake menunjuk kedua sepasang suami istri yang tengah berbincang dengan seseorang.
“What?! Are you seriously?” kaget. Demi apapun Kania sangat terkejut. Bagaimana bisa kelahiran anak Harimau bisa dirayakan semegah ini. Apalagi sampai repot-repot menyewa gedung mahal, mendatangkan kalangan tamu yang tidak main-main.
Drake mengangguk. “Untuk apa aku berbohong.” Melihat raut wajah Kania yang konyol sekali membuatnya sedikit tersenyum. “Apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang kaya? Mereka bahkan bisa membuat party setiap hari untuk perayaan yang tidak jelas.”
“Wow so—amazing right?”
“Konyol dan menyedihkan. Tapi—cukup menarik bagi masyarakat yang melihatnya.”
Kania mendongak. “Jika konyol kenapa kau mau repot-repot datang?”
“Karena mereka investor terbesar di agensiku saat ini dan teman baik—mungkin.” Drake menggenggam tangan Kania. “Ayo temui mereka yang tidak jelas itu.”
Sepasang suami istri menyambut kedatangan Drake dengan senyum penuh. “Akhirnya kau datang. Kukira kau tidak akan datang,” ucap seorang pria.
“Tentu aku harus datang ke acara sangat penting ini.” Drake memang berani berbeda, menyindir dengan gaya.
“Kania—kekasihku,” ucap Drake merangkul mesra pinggang Kania.
Di balik topengnya Kania tersenyum dan sedikit menundukkan kepala.
“Dari mana kau bertemu dengan wanita baik-baik seperti Kania?”
Drake menatapnya datar. “Hentikan—Jean. Aku hanya bermain dengan para ****** itu tidak lebih.”
Kania melirik Drake dengan ekor matanya. Oh jadi dia bukan satu-satunya wanita yang dibawa pria itu datang ke pesta. Dasar playboy! Kania sedikit kecewa. Drake memanglah Drake, si pemain wanita.
“Hei dude kau harus berhenti bermain-main dan menikahlah.”
“Duke—jangan menceramahiku. Kau sendiri menikah saat usiamu sudah memasuki kepala empat.”
Duke mengecup bibir Jean sekilas, saling merangkul mesra. Mereka terlihat sangat romantis. Dua orang yang sama-sama pecinta hewan dipertemukan, memang menjadi perpaduan epik dan gila.
“Dengarkan. Aku hampir saja kehilangan Jean jika tidak cepat. Mungkin kalau kau lambat kau bisa bernasib seperti itu juga.”
Drake hanya memutar bola matanya malas. “By the way, congrats kelahiran anak Gabby.”
“Thank you—dude. Kau tahu pesta ini diadakan tidak hanya merayakan kelahiran anak Gabby, aku suka mengumpulkan banyak orang untuk berpesta.” Duke memang tidak waras, begitupun dengan istrinya Jean. Mereka memang perpaduan yang sangat cocok.
Tidak mau pusing dengan pasangan tidak jelas itu, Drake membawa Kania menepi. Banyak tersaji makanan ringan seperti kue dan cookies. Kania mengambil satu dan memakannya perlahan.
“Mereka lucu.”
“Konyol bukan lucu,” sahut Drake acuh. Ia mengambil gelas berisi cairan berwarna cokelat. Menegukanya perlahan.
Kania mengedikkan bahu. “Menurutku lucu, mereka juga imut dan romantis secara bersamaan. Jarang sekali bertemu pasangan seperti mereka yang mau melakukan suatu hal keinginan tanpa mendengar perkataan orang lain.”
Drake mengedikkan bahunya. “Kau terlalu berlebihan menilai mereka.”
Semua orang mulai memusatkan pandangannya ke depan. Layar yang menampilkan dua Harimau berwarna putih. Satu terlihat gagah dan satu terlihat cantik. Slide terus berlanjut sampai pada seekor Harimau kecil yang tengah berbaring di dalam kandang.
“Imut sekali,” lirih Kania.
Drake menatap Kania dari samping. “Kau sama tidak warasnya dengan mereka.”
“Mereka imut. Tidak seperti…. Dirimu.”
“Aku memang tidak imut. Aku tampan.”
“Yayaya terserah.”
Drake memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. “Tunggu di sini. Aku akan menemui seseorang dahulu.” Kemudian berjalan menjauhi Kania.
Lampu mulai meredup. Alunan musik mulai terdengar. Di awali dengan Jean dan Duke yang berdansa di tengah, perlahan pasangan lain mengikuti. Kania menghela nafas, ia semakin menepi dari kalayak ramai. Duduk di pojokan sembari menikmati segelas anggur.
Melihat Drake yang sedang asik bercengkrama dengan seorang perempuan membuatnya harus acuh. Ia mengalihkan pandangan saat mendengar seseorang duduk di sampingnya.
“Kau sendirian?” tanyanya. Di balik topeng pria itu nampak tersenyum.
“Maybe—untuk sekarang.”
Pria itu mengulurkan tangannya. “Xavier.”
Ragu, tangan Kania menjabat tangan pria yang bernama Xavier itu. “Kania.”
“Secantik namanya.”
‘Cih dia bahkan belum melihatku tapi sudah memuji. Kenapa aku selalu dikelilingi pria perayu ya Tuhan.’
Kania sedikit memaksakan senyumnya. “Ehm—thanks.”
Xavier beranjak dari duduknya. Langsung menyambar tangan Kania dan menggenggamnya. “Berdansa denganku.”
“Aku tidak bisa.” Kania berusaha menarik tangannya.
“You can! Lets go with me.”
“No—please.”
Tidak cukup sampai di situ. Xavier langsung menarik pinggang Kania hingga berdiri. “Lepaskan aku—Xavier!”
“You so sexy. I want you.” Xavier menarik Kania hingga bisa memeluknya.
Tak lama karena ada seseorang yang menarik kasar bahu Xavier. Setelah itu meninju rahangnya dengan keras.
Bugh Bugh Bugh
Xavier terjatuh di lantai. Meraba sudut bibirnya yang berdarah.
“Drake,” lirih Kania.
BalasTeruskan