Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Perjodohan Halus


Dewi Sekar—wanita sosialita berumur 50 tahunan. Ibunda tercinta seorang Kania. Pasti kehadirannya di Restoran yang sama dengan Kania karena sedang mengadakan Arisan ala-ala. Arisan yang berisi para istri pejabat. Minimal karyawan dengan jabatan tinggi.


Kania sendiri heran—padahal Ayahnya sudah lama pensiun dan digantikan oleh kakaknya Aji. Tapi kenapa Bunda masih saja tergabung dengan geng Arisan Ala-ala itu. Padahal Bunda sama sekali tidak termasuk dalam kualifikasi. Tidak tahu Bunda memiliki hal istimewa seperti apa hingga masih tergabung dengan geng tersebut.


“Kalian pulanglah lebih dulu,” teriaknya pada beberapa teman-temannya yang sedang menunggunya.


“Kau tidak berniat mengenalkan putrimu pada kami?”


“Tidak-tidak. Dia bisa kabur jika aku mengenalkannya ke orang-orang.” Jawaban Dewi Sekar membuat teman-temannya pergi.


Benar apa kata wanita itu. Kania memang tidak pernah bertemu apalagi bertegur sapa dengan teman-teman orang tuanya. Memusingkan jika harus menjawab pertanyaan ibu-ibu seputar kehidupannya. Kalau tidak tentang karir pasti tentang menikah.


“Jadi sekarang katakan pada Bunda. Siapa pria yang bersama kamu ini?” tanya Dewi Sekar.


“Dia Joshua. Teman Kania sekaligus rekan bisnis Kania.”


“Hallo tante. Saya Joshua, teman Kania.” Joshua menyalami tangan Dewi Sekar.


Kania menyipitkan mata. Sudah hapal di luar kepala kebiasaan Bunda seperti apa. Pasti sedang meramal, menghitung lalu menyimpulkan bagaimana dan seperti apa Joshua itu. Kania memutar bola matanya jengah.


“Saya ibu Kania. Panggil saja Tante Dewi. Senang bisa bertemu dengan teman anak saya.” Dewi Sekar tersenyum. Dari senyumannya—Kania bisa menyimpulkan jika Joshua sudah lolos kualifikasi menjadi teman Kania.


“Bagaimana jika kamu ajak Joshua main ke rumah?”


“No. Joshua sibuk. Dia harus terbang sore ini. Jadwalnya di Jakarta sudah penuh.”


“Benarkah?” Bunda menatap Joshua. “Kamu tidak bisa berlama-lama di sini? Tante ingin sekali menyambut kamu di rumah. Kamu benar-benar tidak bisa meluangkan waktu?”


Kania menatap Joshua. Menggeleng pelan agar menolak saja tawaran Bundanya.


“Sir—jadwal penerbangan ditunda sampai besok. Pesawat tidak bisa terbang karena perkiraaan cuaca malam ini yang katanya badai besar,” itu suara asisten Joshua.


“Benar.” Tiba-tiba Bunda nimbrung. “Cuaca akhir-akhir ini tidak bisa diprediksi. Sekarang terik tapi bisa saja malam hari menjadi hujan, petir, badai. Ini sudah takdir nak Joshua. Kamu harus datang ke kediaman kami.”


Kania menghela nafas panjang. Jika seperti ini siapa yang bisa menolak ibunda tercintanya. Dewi Sekar dan Kania itu mempunyai kemampuan yang sama, yaitu bernegosiasi. Apalagi menyangkut keinginannya. Jika mulut mereka sudah berkata—lawanpun pasti sangat berat menolak.


Kania mendapat pesan dari ponselnya. “Bagaimana hari ini?” pesan dari Drake.


“Good. Aku akan pulang besok setelah bertemu dengan keluargaku. See you tommorow bby.” Hanya itu yang bisa diberitahukan pada Drake. Kania tidak mungkin memberitahukan pada pria itu jika ibundanya tengah merayu Joshua agar mau berkunjung ke rumahnya.


~~


“Aku tidak menyangka desain rumahmu masih tradisional,” komentar Joshua saat menginjakkan kaki di rumah Kania.


Benar apa kata Joshua. Rumah Kania masih bergaya Tradisional. Bukan hanya rumah. Bahkan peralatan dan perabotan di dalamnya juga. Meskipun beberapa barang sudah diganti dengan yang lebih modern.


“Keluargaku.” Kania menunjuk sebuah foto keluarga. Di sana lengkap keluarganya menggunakan pakaian khas adat daerah. Foto yang diambil ketika Kania masih duduk dibangku SMA. Kania masih lucu-lucunya. Bukan—lebih tepatnya masih kucel-kucelnya.


“Duduklah di sini. Bunda pasti sedang menyiapkan teh untukmu.” Kania duduk bersebrangan dengan Joshua. “Aku minta maaf.”


“Why?”


“Bunda terlalu memaksamu. Aku tahu kau pasti lelah. Tidak seharusnya Bunda memaksamu untuk datang berkunjung.”


“Ya—we friend. Kau tidak boleh menarik ucapanmu.”


“Sure.” Joshua tertawa.


“Dulu—Tante sama your mom—kamu manggilnya apa?” Suara Bunda yang datang dari belakang. Kedua tangannya membawa nampan yang berisi teh. Bukan sembarang teh—teh spesial karena berwadah guci mahal yang terbuat dari tembikar.


“Mommy, Tan. Tante sudah mengenal Mommy?”


“Mommy kamu teman Tante. Dulu kita bertemu saat kuliah di Sydney. Sampai kakak kamu lahirpun kita masih berhubungan baik. Tapi saat kalian pindah ke Australia. Tante sudah tidak berkomunikasi dengannya. Sampai dia kembali dan melebarkan bisnis di sini. Tante baru berkomunikasi lagi.”


Apa ini? Kania tidak tahu apapun soal itu. “Jadi Mommy sudah mengenal orang tua Joshua?”


“Viction itu sudah lama bekerja sama dengan Bhatara Corp,” sahut Bhanu, Ayah Kania dari dalam. Kania memperhatikan ayahnya dengan seksama. Keadaan Ayah jauh lebih baik dari terakhir bertemu.


“Diminum, nak Joshua.” Bunda menyajikan teh buatannya.


“Terimakasih, Tante.”


“Gimana kakak kamu?” tanya Bunda.


“Kak Jean baik. Dia sudah menikah,” balas Joshua.


Mendadak Kania menjadi polos. Ia tidak tahu apapun mengenai keluarganya yang berhubungan baik dengan keluarga Joshua. Bagaimana dunia sesempit ini? Percakapan masih berlanjut. Joshua yang ramah membuat kedua orang tuanya nyaman berbicara dengan pria itu.


Sedangkan Kania yang malas ingin cepat-cepat kabur dan tidur.


~~


“Maksud Bunda nyuruh Joshua menginap di sini apa?” langsung to the point. Kania tidak akan bertele-tele untuk menanyakan kondisi yang menurutnya sangat ganjal.


“Joshua anak teman baik, Bunda. Bunda hanya ingin menyambutnya. Lagipula dia juga teman kamu.”


“Gak.” Kania menggeleng. “Bunda gak akan dengan gampang menyuruh laki-laki menginap. Bukankah Bunda pernah bilang. Gak boleh ada laki-laki  lain yang masuk rumah ini tanpa status yang jelas.”


“Kania—”


“Aku tahu. Aku tahu maksud Bunda. Aku gak suka cara Bunda seperti ini.”


“Apa yang kamu tahu?”


“Bunda berusaha mendekatkan Joshua denganku bukan? Bunda berusaha agar Joshua masuk ke rumah ini dengan cara halus. Agar aku bisa menerimanya?”


Dewi Sekar menghela nafas. “Joshua pria baik. Dia belum mempunya pasangan. Bibit bobotnya jelas. Dari keluarga baik-baik. Bunda sudah mengenal lama orang tuanya. Bunda tahu bagaimana Keluarga Addison. Keluarga terpandang dengan latar pendidikan yang bagus.”


“Bunda lupa? Ayah Joshua orang luar. Joshua mengandung darah keturunan orang luar. Bukan murni dari negeri ini.” Kania menyugar rambutnya frustasi. “Jadi sekarang Bunda mau merubah peraturan turun-temurun? Jadi pria yang baik walaupun tidak mempunyai darah biru ataupun darah asli negeri ini bisa menjadi pasangan Kania? Kalau begitu Kania bisa cari sendiri.”


“Bukan seperti itu Kania!” sentak Bunda. “Joshua pilihan terbaik dari laki-laki yang pernah dekat dengan kamu.”


“No—Joshua is my friend. Just my friend. Were nothing more than friends.”


“Kania…. Sekali saja dengarkan Bunda.” Dewi Sekar mencoba meraih tangan putrinya. “Kamu memilih aktor itu? Bahkan asal usulnya saja tidak jelas. Bagaimana kamu bisa bersamanya? Kamu mau seumur hidup terus diusik oleh media?”