
Berada di rumah sakit. Tubuh Kania masih terbaring di atas ranjang. Obat bius telah masuk ke dalam tubuh kecil perempuan itu. Terpaksa karena Kania yang terus berteriak ketakutan.
“Dia butuh waktu untuk memulihkan mentalnya. Korban tindak pelecehan tidak akan dengan mudah melupakan kejadian. Temani dia dan bersabarlah,” kata dokter yang masih terngiang di pikiran Drake.
Drake mengusap wajahnya kasar. Dering ponselnya berbunyi. “Bagaimana dengan bajingan itu?”
“Sudah berada di tangan polisi, Bos. Tapi kurasa dia tidak akan dihukum berat karena keluarganya yang berpengaruh. Dia bisa membayar uang jaminan.”
Mengepalkan tangannya. Demi apapun—Drake tidak akan pernah rela pria itu dihukum ringan, apalagi dengan enteng tidak mendapatkan hukuman apapun selain denda.
“Terus pantau, sampai vonis sidangnya tidak dihukum dengan berat. Aku yang akan menghukumnya sendiri.”
“Baik boss.”
“Kau sudah mengurus media? Jangan sampai kasus ini bocor ke mana-mana. Aku tidak ingin Kania malu.”
“Sudah kuurus. Kasus ini tidak akan tercium media. Aku telah menutup akses apapun yang akan berpotensi meluap di media.”
Drake mengangguk. Ia menghela nafas panjang. Langkahnya akhirnya membawanya masuk ke dalam ruangan. mendekat dan duduk di kursi samping ranjang rumah sakit. tangannya terulur mengusap puncak kepala Kania.
Namun saat bayangan Kania disentuh pria lain—ia menarik tangannya kembali. Mengepalkan tangan dengan kuat. Rasa marahnya kembali memuncak. Ia berdiri, lagi-lagi mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kania—aku tidak yakin setelah ini masih bisa bersamamu,” lirih Drake.
~~
AAAAAA
Terperanjat dari tidurnya saat mendengar seorang perempuan menjerit dengan keras. Drake membuka mata, pertama kali yang ia lihat adalah Kania yang menatapnya dengan takut. Kania menggeleng dengan keras seakan sangat tidak ingin melihatnya.
“Kania,” panggil Drake.
“JANGAN MENDEKAT!” teriak Kania dengan histeris. Ia mulai menangis. “Tidak jangan mendekat kumohon…..”
“Ini aku—Drake. Kania sadarlah.” Drake semakin mendekat. Ia mencengkram erat bahu Kania dengan kedua tangannya.
“Jangan sentuh aku—aku mohon jangan sentuh aku.” Kania mulai memukul tubuh Drake. “Aku kotor—aku…aku kotor.” Kania memegang kedua kepalanya. “Aaaaarrghhh….pergi-pergi… aku kotor.”
Drake hanya bisa terdiam. “Aku Drake—Kania. Aku bukan bajingan itu.”
Kania menggeleng. “Tidak—tidak jangan sentuh aku—kumohon. Jangan sentuh aku—jangan sentuh aku.”
“KANIA!” Sentak Drake tidak sabaran.
“AAAARGGGH JANGAN SENTUH AKU… JANGAN SENTUH AKU—KUMOHON,” teriak histeris Kania semakin menjadi-jadi.
Drake yang tidak sabaran mencengkram kedua bahu Kania. Memaksa Kania agar melihatnya. “KANIA DENGARKAN AKU! AKU BUKAN BAJINGAN ITU!”
Lagi-lagi Kania berteriak histeris. “AAAARGGGH.”
Para perawat yang mendengar jeritan histeris mulai memasuki ruangan. Mereka berusaha menenangkan Kania—namun Kania tidak bisa tenang dan terus ketakutan dengan Drake.
“SEHARUSNYA KAU BILANG PADAKU AKAN MENEMUINYA! JIKA KAU BILANG SEMUANYA TIDAK AKAN TERJADI!” Teriak frustasi Drake.
“Sebaiknya anda keluar dulu. Kami akan menangani Pasien,” ucap salah satu perawat yang di sana.
Drake mengepalkan tangan. Ia berbalik melangkah keluar dari ruangan. Di balik kaca ada sepasang suami istri yang menyaksikan semuanya. Jean menatap sendu keadaan Kania. Tidak pernah menyangka Kania akan mengalami hal yang mengerikan seperti ini.
“Drake—“ panggil Jean.
“Kau bisa melihatnya sendiri.”
Jean menghela nafas. “Kau sudah tahu bukan? Hampir semua korban tindak pelecehan mempunyai trauma yang dalam. Butuh waktu untuk bangkit. Kau jangan menyalahkan—Kania. semua terjadi karena sudah harus terjadi. Tugasmu hanya mendukungnya.”
Drake menggeleng. “Aku tidak bisa bersamanya—aku sangat kesal membayangkan dia sudah disentuh pria lain.”
PLAK
Sebuah tamparan melayang di pipi kiri Drake. Bukan Jean—melainkan Duke. Ia menampar Drake karena berani mengeluarkan kalimat menyakitkan disaat seperti ini. “Satu tamparan tidak akan cukup jika kau benar-benar akan meninggalkan Kania. Kau pria—seharusnya saat seperti ini kau menjaga wanitamu. Mendampinginya di saat terpuruk bukan meninggalkannya.”
“LALU AKU HARUS APA? DIA TAKUT DENGANKU. DIA BAHKAN BERTERIAK PADAKU.”
“Dia trauma. Dia berteriak karena mengira kau yang melecehkannya. Kau harus sabar. Kania butuh waktu.”
Drake menunduk ke arah tembok. Otak cerdasnya tak lagi mampu berpikir. “Aaaaargh.” Teriaknya dengan tangan yang meninju tembok.
“Aku akan sering ke sini menjenguk Kania. Jangan tinggalkan—Kania. Kuyakin kau juga tidak akan meninggalkannya,” ucap Jean.
Drake hanya mengangguk. Ia menatap kaca. Kania telah disuntik obat bius. Lagi-lagi perempuan itu tidak sadarkan diri dan berakhir tidur di atas ranjang. Drake mengepalkan tangan, andai saja ia bisa selalu bersama Kania, andai saja ia bertindak lebih awal pada bajingan itu—mungkin sekarang keadaan Kania masih baik-baik saja dan bersamanya di Penthouse.
~~
Malam hari—Kania terbangun dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Ia mulai ketakutan lagi. Tangannya yang gemetar mencengkram rambutnya di sisi kanan dan kiri.
“Kania…” panggil pelan Drake. Ia mencoba meraih tangan Kania. “Hei… ini aku—Drake.”
Kania menoleh menatap Drake sebentar. kemudian beringsut mundur. “Jangan sentuh aku kumohon.”
“Hei—aku tidak akan menyentuhmu.” Drake menggenggam tangan Kania dengan lembut. “Dengarkan aku—aku Drake. kau ingat?” Drake mengarahkan tangan Kania pada wajahnya. “Kau ingat wajah tampan ini?”
Kania mengerjapkan mata. “Drake…..” lirihnya sangat pelan.
Drake tersenyum. “Iya aku Drake. Kau ingat?”
Kania mengangguk pelan. “Drake…”
“Ya ini aku.” Drake bisa lega. Setidaknya dengan cara lembut Kania tidak takut padanya lagi. Mengusap rambut Kania dengan lembut. Tatapan mata lembut Drake tidak lepas. “Lupakan semuanya…….”
Drake membawa Kania ke dalam pelukannya. Tangannya tidak berhenti mengusap punggung perempuan. Kania memberontak. Namun Drake bersikekeh tetap memeluknya.
“Aku… aku benci diriku sendiri.”
“Jangan katakan hal itu.”
“Kau pasti jijik padaku.” Kania terisak pelan di dalam pelukan Drake.
“Kau masih Kania—tidak ada yang berubah. Kau masih Kania yang kukenal. Kau masih secantik Kania yang kukenal.”
“T-tapi…”
“Tidak jangan katakan apapun. Itu akan menyakiti drimu sendiri.” Drake semakin mendekap erat tubuh Kania. Dibalik kerasnya watak Kania sebenarnya ada sifat manja yang jarang ia tunjukkan pada siapapun.
“Aku takut…dia datang kembali. Aku takut….” Lirihnya.
Drake menggeleng. “Tidak akan—aku akan menjagamu.” Mengusap punggung Kania pelan berusaha memembuat tenang. “Iam here.”