
Agenda hari ini adalah memeriksa pabrik 2 yang berada lebih jauh dari kantor. Kania mengernyit melihat begitu banyak foto-foto Drake terpampang di papan iklan.
“Kenapa fotonya terpampang di mana-mana?”
“Siapa, Miss?”
“Drake.”
Putri ikut melihat papan-papan yang berisikan foto Drake. Bukan hanya papan—tapi bus juga. Ada bus yang menampilkan potret diri seorang Drake.
“Yang saya tahu—kalau idol atau aktor yang ulang tahun ada semacam projek ucapan entah lewat papan iklan ataupun bus. Biasanya juga ada kafe yang dijadikan tempat perayaan ulang tahun idolanya.”
“Aku tidak tahu hari ini ulang tahunnya…” lirih Kania sembari menghela nafas. “Waaah… sebanyak itukah penggemar Drake?” gumamnya takjub. Sepanjang jalan penuh dengan potret Drake dengan tulisan “Happy birthday.”
“Tuan Drake tidak hanya terkenal di dalam negeri saja, Miss. Dia juga mempunyai penggemar di luar negeri.”
Kebetulan sekali jalan menuju pabrik Kania melewati kantor Agensi yang menaungi Drake.
“Ramai banget ya.”
Kania melihat berbagai hadiah dari penggemar bertumpuk di depan kantor. Ada papan bunga, buket bunga dan kotak-kotak hadiah. Lebih fantastis lagi ada semacam kopi truk di depan kantor. Tentu semuanya gratis sebagai hadiah dari penggemar Drake.
“Waaah penggemar tuan Drake sangat luar biasa.”
“Menurutmu apakah aku pantas di samping Drake? Dia bintang yang dikagumi banyak orang. Sedangkan aku hanya orang biasa.” Kenapa Kania mendadak insecure seperti ini.
“Tuan Drake sendiri yang memilih anda, Miss. Anda tidak perlu menghawatirkan pendapat orang lain.”
~~
Sebagai rasa terimakasih Drake pada penggemarnya yang telah mendukungnya sejauh ini. Ia mendonasikan uangnya dengan nama penggemarnya. Drake yang baik hati di mata semua orang.
“Haruskah aku menyimpan semua ini?” lirihnya melihat berbagai hadiah yang dikirim oleh penggemarnya. “Kurasa tidak. Mereka juga tidak akan tahu apa yang kulakukan.”
“Di simpan di kantor saja, Bos.”
“Baiklah terserah.” Drake mengambil coatnya.
“Kau akan ke mana, Bos?”
“Pulang lah—untuk apa lama-lama bersamamu.”
Jefri memandang Drake sedikit kesal, untung masih bisa ditahannya. “Pembacaan naskahmu minggu depan, Bos. Jangan lupa kau akan comeback film.”
“Aku belum membaca seluruh naskahnya. Tapi aku percaya padamu. Aku benar-benar tidak ingin ada adegan sentuh menyentuh apalagi ciuman dengan lawan jenis. Kalau sampai ada—kuhabisi kau, Jef!”
Jefri meneguk ludahnya. “Tidak akan ada, Bos. Aku sudah membacanya dengan teliti.”
“Aku pergi. Aku takut berlama-lama dengan pria impoten sepertimu.”
“Hei bos! Aku masih suka wanita!” Jefri tidak terima dengan perkataan Drake.
~~
“Kania..” panggil Drake ketika memasuki Penthouse Kania.
Tidak ada sahutan. Semuanya gelap. “Kania kamu belum pulang?” Drake mencoba mencari saklar lampu. Tapi sungguh gelap, ditambah ponselnya juga mati.
Menggerutu kesal, Drake hendak berbalik dan pulang ke Penthousenya sendiri. Tapi baru selangkah, satu lampu menyala.
“Happy Birthday!” ucap Kania ceria.
Drake membalikkan badannya.
“Happy Birthday Drake.” Kania mendekat dengan kedua tangan yang memegang kue berukuran sedang.
Hati Drake yang telah lama membeku perlahan mencair. Melihat wajah Kania dari cahaya lilin yang menyala, membuatnya tersenyum. Kania sangat cantik dengan riasan sederhana. Hell—no, darimana Kania mendepatkan Dress hitam menggoda itu.
“Drake…” panggil Kania. “Jangan melamun. Cepat buat permohonan setelah itu tiup lilinnya.”
“Aku tidak ada permohonan apapun.”
Kania berdecak pelan. “Yasudah biar aku yang membuat permohonan.” Kania memejamkan mata sebentar. Membuat permohonan di dalam hati, tentu Drake tidak akan tahu apa keinginan Kania.
“Apa keinginan kamu?” tanya Drake begitu Kania membuka mata.
“Tidak ada yang tahu.” Kania menunjuk lilin dengan dagunya. “Tiup lilinnya.”
“Selama menua ya om,” ucap Kania dengan tawa yang meledek.
“Hei aku tidak setua itu.” Drake berhasil menarik pinggang Kania hingga melekat sempurna dengan tubuh depannya.
“Usiamu sudah 30 tahun.”
“Dan kamu sebentar lagi 26 tahun. Kania—we are same. Kita seumuran. Tidak ada bedanya.”
Kania tertawa geli. “Iya-iya.”
“Jadi hadiahku mana?” Drake mengusap punggung Kania yang terbuka.
Kania mendesis. “Tidak bisakah diam sebentar?”
Drake tidak mungkin hanya diam saja saat Kania dengan sengaja memakain dress terbuka di hadapannya.
“You’re fu*king sexy, Kania,” bisik Drake sembari menggigit kecil leher jenjang Kania. “Aku bisa gila jika melihatmu seperti ini.”
Drake tidak berbohong. Kania malam ini begitu menggoda. Dress berwarna hitam itu sangat pendek. Hanya sebatas setengah paha. Dengan punggung yang terbuka sampai pinggang. Lalu hanya ada dua tali tipis yang menyangga.
“Drake…” panggil Kania.
“Ya, Babe?”
“Terimakasih. Terimakasih sudah berada di sisiku, tidak meninggalkanku saat aku sedang terpuruk. Terimakasih sudah menemaniku sampai aku pulih. Dan terimakasih juga sudah menjadi malaikat pelindungku.”
Drake mengangguk.
“Aku tidak tahu mungkin aku terlalu cepat menyimpulkan. Tapi—aku tidak bisa menahan perasaanku sendiri.” Kania berjinjit. Mengecup singkat bibir Drake. “I love you.”
Drake terdiam. Masih terkejut dengan pernyataan cinta Kania. Masih dengan posisi berpelukan Drake tidak menjawab. Melainkan hanya mengusap pelan puncak kepala Kania.
“Aku tahu,” getir Kania karena perasaannya tidak terbalas.
“Aku menyayangimu—Kania. Aku sendiri juga tidak apakah sudah pantas disebut cinta. Yang pasti aku tidak suka melihatmu menderita. Aku juga tidak suka melihatmu bersama pria lain.”
Kania tersenyum. Drake menarik tengkuknya, mencium lembut bibir Kania.
“Drake…” Kania terengah akibat ciuman panas mereka.
“Ya?”
“I wanna see butterflies tattoo.”
“Kania—“
“Kalau kamu tidak mau menunjukkannya padaku. Aku bisa meminta orang lain.”
“No—Kania.” Drake menangkup wajah Kania. “Apa kamu sudah yakin?”
“Yes, sure. Aku yakin.”
Drake menggendong tubuh Kania masuk ke dalam kamar. Membaringkannya perlahan. Kemudian Drake melepaskan seluruh pakaiannya. Hingga Kania bisa melihat dengan jelas, tubuh Drake yang dihiasi beberapa tattoo. Tubuh indah Drake memang tercipta dengan sempurna. Bagaimana pahatan-pahatan itu tercetak jelas di perut pria itu.
“In here, my Butterflies tattoo.” Drake meraih tangan Kania, menuntunnya menyentuh sebuah tatto yang berada di bagian perut bawah.
Sebuah tatto kupu-kupu berwarna merah. “Kamu tahu? Saat aku sudah menunjukkannya—aku tidak bisa berhenti meski kamu mohon supaya aku berhenti.”
Kania mengangguk.
Selama ini, meski sering melakukan make out. Kania tidak pernah melihat tubuh polos Drake. Setiap permainan panas mereka—Drake sama sekali tidak pernah membuka pakaiannya.
Drake mencium kening Kania pelan. Kemudian beralih pada leher mulus putih Kania. Drake menggigitnya, memberikan tanda kepemilikan di sana. Tangannya menyusup masuk ke dalam dress. Tidak sabar melepaskan, alhasil Drake merobek dress itu lalu menjatuhkannya ke lantai.
Tubuh Kania benar-benar polos tidak terhalang apapun. Kania menutup matanya—menahan malu karena Drake menatapnya begitu dalam.
“Buka matamu, Kania.”
“Aku—malu.”
“Tidak usah malu. Kamu indah.” Drake mencium Kania.
Ya malam itu Kania menyerahkan harta yang paling ia jaga pada Drake. Malam itu juga—Drake menjadikan Kania miliknya seutuhnya. Drake memang handal, ia bisa membuat Kania tidak merasakan sakit dan menikmati permainan meski untuk yang pertama kali.
Drake benar-benar tidak bisa berhenti. Tubuh Kania benar-benar candu. Ia tidak bisa melepaskan Kania begitu saja. Sampai fajar ia baru menyudahinya, karena melihat Kania yang kelelahan. Ia menaikkan selimut. Memeluk tubuh Kania dan ikut terlelap.