Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Sebentar lagi....


Pesan dari Devano selalu Kania abaikan. Pria itu memang tidak waras. Dulu dia sendiri yang meninggalkan Kania demi seorang wanita seksi yang bekerja sebagai sekretarisnya sendiri. Ternyata selama ini kania yang buta—Devano dan Sekretarisnya sudah lama berhubungan bahkan mereka berdua sering pergi ke club dan menghabiskan waktu di hotel.


“Dasar pria brengsek, tidak tahu malu, kurang ajar,” umpat Kania melihat ratusan pesan dari nama yang sama.


Namun ia berhenti mengumpat saat melihat isi pesan yang terakhir. ‘Datang jika ingin sahabatmu baik-baik saja.’ Devano memegang kunci hidupnya, pria itu tahu Flory sangat berarti baginya. ya ini salahnya sendiri, seharusnya dulu ia tidak memperkenalkan Flory pada Devano.


“Brengsek!” umpat Kania. Ia menekan nomor Flory. Sudah beberapa kali namun Flory tidak menjawab teleponnya. Ketakutannya bertambah ketika ia tidak tahu keadaan Flory yang sebenarnya.


Beranjak dari duduknya, Kania langsung menuju lokasi yang dimaksud. Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya sampai juga. Sebuah bangunan tua yang sangat sepi. Ia sangat berharap jika bajingan itu tidak menyakiti Flory sedikitpun.


Berdiri dan menatap bangunan tua di depannya. Kania mencoba menelepon Devano. Saat ia menoleh, lelaki itu justru tengah berjalan santai. “Di mana Flory?”


“Dia di rumahnya.”


“Kau membohongiku?” tanya Kania tidak percaya.


Devano tertawa. “Kau terlalu naif—Kania. Bilang saja sebenarnya kau sangat merindukanku hingga datang ke sini jauh-jauh.”


“Aku jijik denganmu.” Kania berbalik, berjalan akan masuk ke dalam mobilnya. Namun sebuah kain membekap mulutnya. Tak lama pandangannya mulai gelap dan jatuh pingsan.


~~


Drake berada di penthouse, sedang duduk santai menikmati secangkir kopi. Fokusnya pada serial di televisi. Tak lama ponselnya berdering. Ia melihat nomor sahabat Kania yang sengaja ia simpan.


“Hallo—Drake, kau bersama Kania?”


“Tidak—Kania masih di kantor.”


“Kania meneleponku beberapa kali—karena hpku yang lowbat aku tidak tahu. Sekarang aku berada di kantornya dan kata satpam Kania telah meninggalkan kantor satu jam yang lalu.”


“Aku akan mencarinya.”


Drake segera menutup sambungan teleponnya. Tangannya bergerak melacak keberadaan Kania. Terakhir kali Kania berada di sebuah bangunan tua. setelah itu ia tidak dapat melacak Kania lagi.


“Jeff aku minta padamu—suruh orang yang biasa membantuku untuk melacak keberadaan Kania. Aku akan mengirimkan alamat terakhir Kania berada. Aku akan ke sana dan kau terus kabari aku.”


“Baik boss.”


Drake berlari. Setelah sampai di parkiran ia segera menyalakan mobil sportnya. Tidak mau lebih lama kehilangan jejak Kania. Drake melajukan mobilnya di atas rata-rata. Telinganya terpasang Air pods yang digunakan untuk tetap berkomunikasi dengan Manajernya.


“Dari CCTV Kania memang sempat masuk area gedung. Namun tidak ada tanda-tanda Kania keluar. Tapi ada sebuah mobil mencurigakan yang keluar dari erea gedung.”


“Lacak mobil itu.”


Drake menepikan mobilnya. Ia telah sampai di gedung yang di maksud. Memang ada mobil Kania yang masih terparkir. Ia menelusuri tempat ini, tidak ada siapapun. Gelap, kosong dan sepi.


“Bagaimana?” tanya Drake.


“Mobil itu mengarah ke sebuah motel lawas yang sudah tidak dikunjungi orang-orang.”


“Kemungkinan besar Kania memang diculik orang. Aku akan ke motel itu. Kau lapor polisi, serahkan bukti yang kau dapat.”


Drake segera melajukan mobilnya kembali. Semoga Kania baik-baik saja. Hari ini akhirnya ada satu wanita yang ingin ia lindungi. Kania, Drake berjanji dalam hati ia akan menjaga dan melindungi segenap hati wanita itu.


~~


Terbangun dengan keadaan yang terikat, Kania menatap sekeliling. Tidak ini bukan kamarnya, terlalu asing dengan ruangan baru dirinya berada. Kania melihat kedua tangannya yang terikat dengan sandaran kasur.


“Akhirnya kau sadar sayang.”


“Jangan teriak-teriak sayang. Di sini tidak akan ada yang mendengar suaramu.”


Devano mendekat. Tangannya menelusuri kaki Kania  yang terbalut celana pendek bahan. “Kania—aku sangat menginginkamu dari dulu. kenapa kau terus menolakku hm?”


Kania menggeleng. “Karena kau brengsek!”


PLAK


Devano menampar pipi Kania dengan keras. “Bibirmu yang manis ini tidak boleh berkata kasar.” Ia langsung mencium kasar Kania. Karena terus mendapat penolakan, ia mengingit bibir bawah Kania agar mau membuka.


“Aku merindukan ciuman kita.” Devano kembali mencium Kania dengan brutal. Tanganya tidak tinggal diam. Ia merobek celana Kania dengan mudah.


“Hentikan—kumohon,” lirih Kania. Tidak bisa menahan air matanya agar tidak jatuh.


“Tidak akan sayang. Malam ini kau milikku. Aku tidak bisa membiarkan ini semua berhenti begitu saja.”


Kania mencoba melepaskan diri, tapi tangannya semakin sakit saat tali itu menggores kulitnya. “Aku sangat membencimu.”


Devano tertawa. Ia mencengkram dagu Kania. “Dulu kau bahkan tidak ingin berduaan saja denganku tapi kenapa kau sekarang berubah menjadi ******. Kau dan lelaki itu banyak menghabiskan malam yang panas bukan?”


Kania menggeleng—matanya nyalang menatap Devano. “Jika itu benar kenapa? itu bukan urusanmu. Aku bahagia dengan kekasihku sekarang—sampai kapanpun aku tidak akan mau berhubungan lagi denganmu—Brengsek!”


“Sssst,” jari telunjuk Devano menekan bibir Kania. “Bibirmu ini harus diam. Jangan meracau tidak jelas.” Mengambil sebuah lakban yang berada di laci. Dengan segera Devano menutup mulut Kania dengan lakban.


Mengusap puncak rambut Kania pelan. “Nah begini menjadi Kaniaku yang dulu. Imut dan penurut.”


Kania menggeleng sekuat tenaga. Kakinya tidak berhenti menendang Devano yang berusaha mendidihnya.


“DIAM!” sentak Devano. “Nikmati saja malam ini—sayang.”


Kejadian yang dialaminya sekarang tentu akan sangat membekas bagi Kania. Lembar-lembar kain yang menutup tubuhnya mulai terlepas. Tangan kotor pria itu menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Kania terisak—meratapi nasibnya yang sebentar lagi hancur tak tersisa.


Devano tersenyum puas setelah memberikan tubuh Kania jejaknya. Tubuh polos Kania terpampang di depannya. Kini ia berdiri, melepaskan celananya, bersiap memiliki Kania sepenuhnya.


“I love you—Kania,” ucapnya mulai menindih Kania.


BRAK BUGGH


Tubuh Devano tersungkur begitu saja. Seorang pria dengan nafas memburu menatapnya dengan tatapan membunuh. Matanya menggelap saat melihat wanitanya disentuh pria lain.


Tanpa kata apapun, Drake menyelimuti tubuh Kania, setelah itu membuka lakban  dan tali secara perlahan.


“Dia milikku,” ucap Devano bangun.


Drake berdiri. “Aku akan membunuhmu.”


BUGH BUGH


Drake dan Devano saling adu jotos. Namun Devano kalah telah dengan Drake. Tubuh pria itu tersungkur. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Drake berjongkok terus melayangkan pukulan pada wajah Devano. Sekali lagi menghajar perut pria itu hingga benar-benar tergeletak di lantai. Belum puas—Drake tidak akan puas sebelum melihat Devano mati.


“Cukup….” sebuah suara diiringi dengan tangan yang menggenggam lengannya. “Hentikan....”


Drake mengepalkan kedua tangannya. “Aku akan membunuhnya.”


Genggaman di lengannya terlepas. Kania merasa lemas dan akhirnya pingsan. “Kania,” panggil Drake menepuk kedua pipi Kania. Ia langsung menggendong tubuh Kania. Sebelum keluar dari kamar—ia lebih dulu menendang tubuh Devano. “Kupastikan kau tidak akan hidup tenang.”