Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
One Night With You


Di dalam sebuah ruangan beberapa orang tengah duduk. Bergantian berdiri untuk memberi salam perkenalan. Sebelum memulai syuting dillakukan pembacaan naskah terlebih dahulu. Para aktor akan membaca naskah dengan gayanya masing-masing.


Di depan seorang aktris cantik yang namanya tengah melambung akibat perannya di film terakhir yang sangat laris. Film Action berbumbu Romance, Drake tidak masalah asalkan skenarionya sesuai dengan standartnya.


Beberapa jam terlewati. Untuk hari ini selesai. Seorang wanita dengan senyum yang ramah mendekat. Kemudian mengulurkan tangan.


“Kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik,” ucapnya.


Drake tersenyum mengangguk. “Tentu, Anastasya.” Lalu membalas jabatan tangan tangan lentik itu.


Anastasya melirik sekitarnya sebentar. Memastikan hanya ada mereka di ruangan. “Well—apa hanya aku yang ingin hubungan ini tidak hanya akan menjadi sebatas rekan kerja?” ucapnya pelan diiringi langkah yang semakin mendekat Drake.


Drake tersenyum tipis. “Kau menginginkannya?”


“Yes.” Jari lentik itu lancang menyentuh dada bidang Drake.


Menyentuh pinggang ramping itu dengn sekali tarikan, Drake merapatkan tubuhnya dengan Anastasya. Tangannya mengusap pipi mulus wanita itu. “Aku cepat bosan. Apa kau masih mau?”


Anastasya mengangguk. “Sepertinya pemikiranmu sama denganku—hanya untuk bersenang-senang right?”


“Kau tahu.” Drake tersenyum. Tertarik dengan keberanian Anastasya. Drake akui Anastasnya sangat masuk kriteria wanita yang ia sukai. Cantik mempunyai badan bagus, sempurna untuk menghangatkan ranjangnya.


Anastasya mendekat. Bergerak lebih dulu mencium Drake. Awalnya Drake hanya terdiam dan hanya menikmati permainan Anastasya, namun lama-kelamaan ia mulai terpancing. Mendorong tubuh Anastasya membentur meja panjang, Drake mengusai permainan.


Tidak ada celah untuk Anastasya bernafas. Hingga Drake melepaskannya. “You so hot.” Tangannya menyapu bibir lembab berlipstik merah terang itu.


Anastasya mengalunkan tangannya ke leher Drake. “So—kutunggu kau datang ke Apartemenku.”


~~


Semuanya berlalu begitu cepat. 1 bulan tanpa kehadiran Drake di sisi Kania. Sekalipun Drake tidak pernah memberi kabar pada Kania. Bahkan seolah menghilang. Gengsi menjadi penyebab utama kenapa Kania hanya berdiam diri padahal ia juga ingin tahu kabar tentang pria itu.


Berjalan masuk ke dalam kantor dengan langkah pelan. Terhenti saat orang-orang berkerumun di depan layar besar tak jauh dari pintu masuk. Banyak orang-orang yang berbicara dengan antusias.


“Waah trillernya sudah keluar.”


“Drake sangat cocok dengan Anastasya. Cantik dan tampan, kudengar mereka terlibat cinta lokasi. Bagaimana tidak? Mereka terlihat sangat peduli satu sama lain.”


“Anastasya adalah wanita impian para pria, Drake beruntung mendapatkannya.”


Kania mendengar pembicaraan orang-orang itu dengan jelas. Saat hendak melangkah kembali, mendadak terhenti saat melihat layar yang menampilkan Film yang dibintangi Drake. Di awali dengan adegan saling melempar koper lalu saling adu tembak. Setelahnya adalah adegan yang ditunggu-tunggu orang-orang. Drake dengan Anastasya melakukan adegan romantis di atas ranjang, seolah-olah sedang melakukan hal yang sangat panas.


“Shit!” umpat Kania pelan. Meremas tas yang berada di genggamannya.  “Dia bilang Film Action tapi ada adegan ranjang?”


Tak mau melihat wajah dua orang yang membuatnya naik darah. Kania melanjutkan jalannya. Kedua tangannya sangat gatal ingin menghancurkan apapun. Masuk ruangan tanpa membalas sapaan sekretarisnya, Kania duduk di kursi dan langsung menyandarkan tubuhnya.


“Akan kuhabisi kau Drake—kau membuatku seperti ini.”


~~


“Syuting telah selesai dan Triller telah tayang, bagaimana menurutmu—Drake?” tanya Anastasya.


“Bagus—tidak mengecewakan.”


“Tidak ada pujianku untukku, Sir?” tanyanya sembari bergelayut manja di lengan Drake.


Drake tersenyum. Mereka berada di salah satu restoran untuk merayakan film mereka telah selesai Syuting. Perayaan pribadi yang hanya diketahui oleh mereka sendiri.


“Kau berperan sangat baik—Anastasya. Itu yang ingin kau inginkan?”


Drake menampilkan smirknya. “What?”


Dengan lancang Anastasya duduk di pangkuan Drake. “One night with you.” Bisiknya disertai dengan kecupan di leher Drake.


Drake memeluk pinggang Anastasya. “As you wish.”


“Where?”


“Di Apartemenmu.”


“Tidak—aku ingin di Penthousemu. Aku ingin menghangatkan ranjangmu,” balas Anastasya dengan senyum menggoda.


“Oke.”


Keluar mobil terburu-buru. Drake menarik tangan Anastasya agar cepat sampai di Penthousenya. Sampai di lift, Drake menyerbu wanita itu dengan ciuman. Menghimpit tubuh ramping Anastasya dan ******* intens bibir berlisptik merah itu. Drake melakukannya seolah-olah tidak ada hari esok.


Anastasya juga sangat handal menanggapi permainan Drake. Tangannya mengalun di leher Drake. Tubuhnya tak segan semakin merapat dengan tubuh kekar Drake. Saat pintu lift terbuka mereka masih melanjutkan pergulatan lidah mereka.


Mereka tidak menyadari jika ada seorang wanita yang tengah melihat perbuatan mereka dengan tangan yang mengepal. Wajahnya memerah menahan amarah. Saat mereka masuk ke dalam, barulah sang wanita juga masuk kembali ke dalam Penthousenya.


Menutup pintu dengan keras, Kania tahu apa yang dirasakannya adalah salah. Uring-uringan tidak jelas hanya melihat Drake bersama dengan wanita lain. Kania tidak bodoh—perasaannya bisa diartikan sebagai cemburu.


“Dia memang seenaknya bukan? Maka aku bisa seenakku juga,” lirih Kania.


Kania menatap pantulan dirinya sendiri. Menyugar rambutnya dengan kasar. “Fuck you—Drake! I hate you!”


“Kau mempermainkanku!”


~~


Memasuki lift dengan tenang. Pagi ini Kania benar-benar berharap tidak akan bertemu dengan sesuatu yang menodai matanya. Namun—saat pentu lift akan tertutup seorang wanita bersama pria datang. Pakaian yang digunakan nampak sama seperti tadi malam. Tidak mau memikirkan lebih lanjut, Kania lebih memilih menyibukkan diri dengan tabletnya.


“Permisi—apa kau mengenal kami?” tanya seorang wanita pada Kania.


Kania mendongak. Menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya. “Me?”


“Ya—Kalau kau mengenal kami, kuharap diam saja. Jangan menyebar berita tentang kami,” ucap Anastasya. Drake di sampingnya hanya terdiam, tidak ada niat untuk berbicara.


Kania tertawa remeh. “Sayangnya aku tidak mengenal kalian. Jadi—aku tidak akan repot-repot menyebar berita tidak penting.”


Anastasya menahan amarahnya. Merasa sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh kania. “Kau! Kau kampungan jika tidak tahu aku. Kau wanita norak.”


“Bukankah orang yang merasa terkenal lebih norak daripada orang yang tidak tahu?” Kania menampilkan senyum yang elegan. Merasa cukup melihat wanita di depannya marah. Ia berjalan keluar melewati dua orang yang sangat menyebalkan itu.


“Haiissh dasar ******! Siapa dia?! kenapa dia berada dalam gedung yang sama denganmu—Drake!” jerit Anastasya tak tertahankan. Langkahnya yang hendak mengejar Kania dihentikan oleh tangan seseorang.


Drake menyekal tangan Anastasya agar tidak mengejar Kania. “Tidak penting—kau bisa pulang sendiri, aku tidak bisa mengantarmu.”


Anastasya mengatur nafasnya. Matanya tidak lepas dari Kania yang telah masuk ke dalam mobil. Amarahnya masih berapi-api, sampai mobil Kania hilang dari pandangannya barulah ia menghela nafas.


“Aku akan pulang. Aku harap tidak akan pernah bertemu dengan wanita itu lagi.”


Drake mengangguk. Kemudian berbalik, meninggalkan Anastasya begitu saja. Menguap beberapa kali karena kurang tidur. Tadi malam adalah permainan yang cukup memuastkan dengan Anastasya.


“Ck. Dasar pria dingin,” keluh Anastasya menatap punggung Drake yang semakin menjauh. “Tapi aku suka permainannya,” lanjutnya.