Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Dinner


“Please—Bund. Sekali ini saja biarkan Kania memilih. Sekarang bukan jaman perjodohan. Kania berhak menentukan pasangan Kania sendiri.”


“Dia tidak bisa bersama kamu. Kamu lupa asal-usul keluarga kita? Nenek moyang kamu itu orang beradab. Keturunan kerajaan. Pasangan dari darah keluarga kita harus benar-benar orang yang berlatar belakang yang jelas seperti Joshua.”


Kania menggeleng. “Bunda gak bisa memaksa Kania. Lagipula Joshua belum tentu mau dijodohkan.”


“Hentikan.” Bhanu menenangahi. Pasalnya cekcok diantara kedua perempuan itu di dalam ruang kerjanya. “Benar apa kata—Kania. Joshua belum tentu mau. Bagaimana kalau Joshua sudah memiliki kekasih? Apa kamu punya hak untuk memaksa? Tidak—sudah Bund.”


“Bunda akan berbicara pada Jenifer. Semua bisa dibicarakan.”


“Sudah Bund. Jangan tergesa-gesa. Mereka masih muda. Biarkan mereka menentukan pilihan mereka sendiri.” Bhanu mendekati istrinya. Mengusap pelan bahu Dewi Sekar.


Dewi Sekar menatap kesal suaminya. Menghempaskan tangan suaminya dari bahunya begitu saja.  “Terus bela saja putri kamu!” marahnya lalu keluar dari ruangan.


“Yah…” lirih Kania.


“Its oke. Biarkan saja Bunda kamu. Ayah akan berusaha membunjuknya agar tidak memaksa kamu lagi.” Bhanu mengusap puncak kepala Kania. “Jadi ada pria yang sudah mengisi hati putri ayah.”


Kania mengangguk.


“Drake? Si aktor itu?”


“Ayah lihat berita gosip murahan di TV?”


“Bagaimana Ayah tidak melihat gosip murahan di TV jika topik perbincangan utama adalah putri Ayah sendiri.” Bhanu menatap Kania. “Kania… meskipun kamu hidup mandiri dan jauh dari orang tua. Ayah harap kamu bisa menjaga diri kamu. Kamu sanggup?”


“Kania sanggup.” Di dalam hati kecil Kania merasa sangat bersalah. Membohongi ayahnya tentang dirinya. Padahal dia seperti wanita murahan yang menyerahkan diri sendiri pada pria yang dicintainya.


Kania yakin, Ayah sudah melihat berita dirinya tentang Drake yang menghabiskan malam di sebuah Motel. Bagaimanapun Ayah tidak akan bertanya langsung padanya. Kalaupun bertanya langsung—Kania tidak punya pilihan lain selain berbohong. Berbohong kalau dirinya tidak menghabiskan malam di motel itu dengan Drake. Padahal dia dan Drake sering melanggar batasan.


~~


“Kenapa anda repot-repot datang di toko perhiasan Bos? Padahal anda bisa menyuruh mereka membawa barang yang bagus ke hadapanmu. Kau senang menyusahkan diri sendiri. Bagaimana kalau ada fansmu yang mengetahui keberadaanmu? Mereka pasti akan merusuh di tempat ini.”


Drake memutar bola matanya malas mendengar ocehan Jefri yang seakan tidak bisa berhenti. “Aku harus mencari hadiah untuk Kania dengan usahaku sendiri.”


“Bukan usaha bos sendiri lah. Kan ada aku juga,” balas Jefri.


“Mau aku robek mulutmu Jef?!” kesal Drake sudah tidak bisa ditahan.


Saat ini mereka sedang berada di toko perhiasan. Hari ini adalah tahun baru. Drake ingin mencari hadiah yang spesial untuk Kania.


“Kalung ini bagus.” Drake menatap kalung simple tapi elegan dengan gandul bulan sabit. Kania pasti akan menyukai desain yang seperti ini. Ingat—Kania tidak suka barang yang mencolok. Sederhana namun bagus. Namun tidak bagus di segi harganya.


Jika Kania tahu Drake membeli Kalung itu seharga dua mobil. Kania pasti akan memarahinya.


“Ini ada yang serupa. Namun desaiannya lebih detail yang ini. Gandulnya bintang.” Seorang pegawai menunjukkan kalung yang lain.


“Saya ambil yang ini.” Drake menunjuk kalung yang pertama.


Setelah dibungkus. Drake memasukkannya ke dalam sakunya. Setelah membeli hadiah, tugasnya adalah menjemput Kania di Bandara.


“Menurutmu Kania akan menyukainya?”


Jefri mengangguk. “Pasti Bos.”


Drake tersenyum senang. Sampai di Bandara ia mencari-cari keberadaan Kania. Tak lama seorang perempuan muncul dengan pakaian rapi. Menyeret kopernya pelan.


Kania yang dari jauh melihat keberadaan Drake tersenyum senang. Kania berlari kecil—ia langsung memeluk Drake dengan erat.


“Bagaimana urusan bisnismu? Apa semua lancar?”


“I miss you too.” Drake mengeratkan pelukannya. Dari sudut matanya. Ia melihat laki-laki yang tidak asing. Joshua menatap mereka—hal itu justru digunakan Drake mempertegas hubungannya dengan Kania.


Drake sengaja mendaratkan ciuman di kening Kania. “Apa kamu lapar?”


“Makanan di pesawat tidak ada yang enak. Ayo cari makan.” Kania menggandeng lengan Drake.


“Tunggu.” Drake menyampirkan syal hitam di leher Kania. Juga memakaikan Kania sebuah kacamata hitam. “You are Celebrity.”


“Please Drake….” Kania menghela nafas lelah. Di sana ada beberapa orang yang menyadari keberadaan Drake. Ponsel orang-orang itu senantiasa mengarah pada mereka.


“Lets go.” Drake merangkul bahu Kania. Mereka berjalan bersama.


~~


Makan malam romantis ala Drake. Kania melangkahkan kakinya perlahan dengan mata yang ditutup tangan Drake. Katanya pria yang paling arogan itu ingin memberikan surprise pada Kania. Di pinggir pantai—tepatnya di sebuah Yacht milik Drake.


“Drake… kamu berencana membunuhku?” tanya Kania saat Drake menyuruhnya sedikit melangkah. Takut-takut jika nanti Drake akan mendorongnya jatuh di air laut.


“Tentu….”


“Drake.” Kania berhenti. Kesal ingin segera membuka matanya.


“Tentu—tidak akan.” Drake menarik pinggang Kania hingga mereka benar-benar sudah berada di atas Yacht.


Akhirnya Drake melepaskan tangannya di mata Kania. Angin menerpa wajahnya—Kania mengedarkan pandangannya. Sungguh indah dengan bintang yang bertaburan di langit. Terakhir kali Kania melihat bintang seindah itu saat ia kecil.


“Kamu menyiapkan ini semua?” Kania terkejut ada bangku meja untuk makan malam.


“Yes.”


“No—tidak mungkin. Mencurigakan.” Kania menyipitkan mata.


Drake menyelipkan tangannya di pinggang Kania. “Tidak mungkin aku menyiapkan sendiri. Ada Jefri yang tidak berhenti mengeluh di belakangku.”


Kania tertawa. “Kasihan sekali Jefri—dia pasti tidak punya waktu berkencan karena mengurusi kita.”


“Dia impoten.”


“Drake! Jangan berbicara sembarangan.” Kania sedikit memukul bahu Drake.


Drake menyelipkan helaian rambut Kania ke belakang. “Aku tidak pernah melihatnya berkencan dengan perempuan. Dia selalu sibuk dengan pekerjaan.”


“Bagaimana kalau dia suka dengan kamu…”


Ucapan Kania membuat Drake bergidik jijik. “Aku akan menghabisinya.”


Kania tertawa. “Plot twist yang tidak terduga.” Mengalunkan tangannya ke leher Drake. “Saat aku bersama Flory. Aku tidak sengaja melihat Jefri di sebuah restoran dengan wanita. Asumsimu salah Drake.”


“Benarkah?” Drake mencuri satu kecupan di bibir Kania. “Jangan membahas orang lain. Ini momen kita.”


Drake menarik kursi sedikit ke belakang. Mempersilahkan Kania duduk. Kania bertanya-tanya dalam hati—bagaimana mungkin Drake yang selama ini sangat arogan dan pemaksa bisa bertingkah selembut ini. Apalagi romantis dan memperlakukannya seperti ratu.


“Kamu pasti sedang mengagumiku. Benar bukan? Pasti benar.” Drake mengambil duduk di depan Kania.


Baru saja dipuji di dalam hati—kepercayaan diri Drake yang mencapai level akut kambuh. “Aku baru saja berpikir—apa kamu belajar dari Google bagaimana caranya memperlakukan wanita dengan romantis.”


“Aku pernah—” perkataan Drake terputus. Ia segera menutup mulutnya.