
Hari-hari Kania dihiasi pelangi. Jika ada hujan pasti ada pelangi. Kania pantas mendapatkan pelanginya setelah apa yang sudah dilalui selama ini. Ia keluar dari mobilnya. Berjalan menuju kantor. Namun dering ponsel menghentikan langkahnya.
“Hallo.”
“I miss you, babe.”
Kania tertawa. Itu suara Drake. Padahal dulu pria itu sangat tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Drake kini lebih terbuka karena Kania yang selalu mengutarakan isi hati dengan blak-blakan. Mungkin Drake sedikit demi sedikit mengikuti keterbukaan Kania.
“I miss you to, Mr. Arogan.”
“Aku ingin cepat-cepat pergi dari pulau ini. Sangat menyebalkan—di sini tidak ada sinyal. Aku sampai harus memanjat pohon agar bisa menelepon kamu.”
“Benarkah?”
“Benar. Jangan terharu apalagi menangis mendengar perjuanganku.”
“Seharusnya kamus sengan bisa bertemu dengan saudara kembar kamu?”
“Siapa?” Drake pasti sedang bertanya-tanya. Tebakan Kania—Drake pasti sedang mengerutkan dahi dengan bingung.
“Yang bergelantungan di pohon.”
“Kamu mengejekku. Awas kamu. Saat aku sudah kembali. Hukuman menantimu.”
“Aku menunggu….”
Bip
Panggilan ponsel terputus. Bukan sepenuhnya terputus. Karena Kania tidak bisa mendengar ucapan Drake lagi. Pasti karena keterbatasan sinyal. Pada akhirnya Kania panggilan terputus. Tidak jelas siapa yang lebih dulu memutuskan. Yang pasti sekarang Kania dan Drake tidak lagi terhubung lewat sambungan telepon.
Kania memasuki ruangannya. Tak lama Putri, sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya. Memberitahukan jika sebentar lagi akan ada meeting dengan perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya.
“Saya sudah membuat rangkuman dengan perusahaan. Nanti bagian Humas akan mempresentasikannya.”
Kania mengangguk. “Bagus.” Mengambil jas yang berada di dalam sebuah lemari berwarna putih. Jas berwarna brown. Kania segera memakainya. Kini pakaiannya terasa sangat lengkap. Kemeja putihnya sudah terbalut jas. Ia juga menggunakan scarf berwarna putih bercorak.
“Perwakilan Devisi sudah tahu tugas mereka bukan?”
“Sudah, Miss.”
“Ayo.” Kania berjalan lebih dulu. Aura mahal memang terpancar dari dirinya.
Saat pintu terbuka. Kania masuk dengan anggun. Semua orang yang semula duduk kini berdiri dan memberikan salam hormat. Di ruangan ini—jajaran petinggi perusahaan tengah duduk.
“Saya Kania, selaku CEO dan pendiri Maharani Corp merasa terhormat karena Viction grup mengajukan kerja sama dengan Maharani Crop.” Kania membuka percakapan terlebih dahulu.
Meeting terus berlanjut. Dari pengenalan masing-masing perusahaan. Hingga pembahasan sebuah proyek baru yang menggabungkan dua perusahaan. Sudah dua jam lamanya meeting berlanjut. Titik terangnya adalah Maharani dan Viction
akan membuat sebuah colaborasi yaitu platform belanja online dari Viction akan menjadikan Skincare dari Maharani Corp menjadi produk utama. Skincare dari Maharani Corp akan menjadi produk pertama yang menghiasi platform belanja online Viction.
“Terimakasih. Semoga proyek ini berjalan dengan lancar dan sesuai rencana.” Kania berdiri. Tersenyum dengan ramah kemudian menyalami semua petinggi perusahaan Viction.
“Miss Kania, anda sangat cantik,” ucap seorang pria berjas Navy. Dengan potongan rambut rapi dan klimis.
“Thank you.” Kania tersenyum dan menunduk. Merasa tersanjung karena ada yang memujinya.
“Apa anda sudah mempunyai pasangan?”
Kania tertawa. “Tentu saja sudah punya, Sir.”
“Aku terlambat. Anda bisa menghubungiku jika sudah tidak bersama kekasih anda yang sekarang,” canda pria yang menjabat sebagai Manajer Pemasaran tersebut.
Kania hanya menanggapinya dengan senyum. Bayangkan jika Drake melihatnya—pasti pria itu sudah emosi dan bersiap melayangkan pukul. Kania bergidik ngeri—jangan sampai Drake melihat kebanyakan rekan kerjanya yang rata-rata pria genit.
“Kania come on—menjauhlah jika kau tidak suka. Kalau perlu langsung tolak saja.”
Kania mengedikkan bahu. “Aku hanya mencoba ramah jika tidak mereka akan mengira aku sejenis Gabby.” For your information, Gabby adalah anak harimau yang dipelihara oleh Jean dan Duke. Bahkan mereka merayakan ulang tahun Gabby dengan menggelar pesta mewah.
Joshua tergelak tawa. “Aku perhatikan kau terlihat lebih baik. Drake memperlakukanmu dengan baik bukan?”
Kania mengangguk. “Sangat baik. Dibanding dulu aku jauh lebih baik sekarang. By the way—aku tidak menyangka jika perusahaanmu mengajukan kerja sama dengan perusahaanku.”
“Aku tertarik dengan produkmu yang berkembang dengan pesat.”
“Padahal kau sudah mengenalku lama—tapi baru mengajukan kerja sama sekarang. Ada apa denganmu Josh? Kau sedikit terlambat dibanding yang lain.”
“Waaah…” Kania menunduk sebentar. “Aku merasa kau menjagaku dari jauh. Terimakasih atas pujiannya—Sir.”
“Terimakasih juga karena telah menerima pengajuan kerja sama perusahaanku—Miss,” balas Joshua dengan tawa ringan.
Joshua dan Kania sama-sama tertawa. Sebenarnya banyak kesamaan mereka. Sama-sama menyukai lukisan. Obrolan mereka selalu nyambung. Mereka lebih layak menjadi teman.
“Kapan-kapan kita harus makan bersama.”
“Sure.” Kania mengangguk.
“Aku pergi dulu, Kania.”
“Oke. Bye Josh.” Kania melambaikan tangan kecil.
Dering ponsel Kania berbunyi. Di sana ada sebuah pesan yang baru saja masuk. “Sepertinya aku harus segera mengikatmu—Kania. Ternyata banyak sekali buaya busuk yang mengincarmu.”
Kania mengernyit. Bagaiman bisa Drake mengetahui segala yang ia alami.
“Siapa yang memberitahu kamu?”
Tak menunggu waktu lama—Drake langsung membalasnya.
“Kamu tidak perlu tahu.”
Kania menatap sekitarnya sebentar. Meneliti CCTV yang terpasang di ruangan. Drake tidak bisa tersambung dengan internet. Tidak mungkin pria itu mengawasinya dengan CCTV. Pasti ada seseorang yang menjadi mata-matanya.
Kania menemukan seorang perempuan yang sibuk dengan ponselnya. “Putri?!”
“Ya—Miss?” Putri menjawab Kania sedikit gelagapan.
“It’s you?”
Putri meringis. “Sorry—Miss. Saya tidak bisa menolak suap dari tuan Drake.”
“Drake membayarmu berapa?”
“5 juta—Miss.”
“Astaga.” Kania menggeleng. “Drake kamu berlebihan..”
~~
Drake itu possesive titik! Drake tidak bisa melihat wanitanya diganggu apalagi dirayu pria lain. Jika mengetahui—darahnya akan langsung naik. Kecemburuannya akan langsung meningkat ke dalam kategori akut. Drake itu paling tidak suka melihat Kania tersenyum pada laki-laki lain. Kalau bisa ia akan menahan senyum Kania—menahannya hanya untuk dirinya seorang.
Setelah syuting berakhir. Drake langsung terbang pulang ke Negaranya. Ia langsung pulang dan ingin memeluk Kania. Mencium aroma Kania yang sangat candu baginya.
Setelah memasukkan sandi Penthouse. Drake langsung masuk. Di dalam Penthouse—semuanya sudah gelap. Kania sudah terlelap di dalam kamar. Setelah melepas sepatu beserta kaos kaki. Drake naik ke atas kasur dan masuk ke dalam selimut yang sama digunakan oleh Kania.
Drake memeluk Kania dari belakang. “Kania…” panggilnya pelan.
“Drake?” lirih Kania perlahan membuka mata.
“Kamu sudah pulang?”
“Aku sangat merindukanmu.”
“Aku juga.” Kania membalikkan badannya sehingga bisa menatap Drake secara langsung. “Ada banyak yang perlu kita bicarakan.”
“Tentang?”
“Kepercayaan di antara kita.”
“Kenapa?”
Kania menghela nafas. “Give me your trust.”
“Kenapa tiba-tiba seperti ini?”
“Aku hanya ingin kamu mempercayaiku.”
Drake bangun. Menyugar rambutnya kasar. “Jangan membuatku marah—Kania. Aku sangat lelah. Aku hanya istirahat dan ketenangan.”
BalasTeruskan