
Kania terdiam—butuh waktu lebih lama bagi otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan Drake. “Aku makan malam dengan orang tuaku.”
“Orang tuamu ada di sini?”
“Hanya berlibur. Mereka sekedar jalan-jalan tidak lebih.” Kania memeluk Drake. Menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.
“Apa kamu sibuk akhir-akhir ini?”
“Hm.” Kania memejamkan mata. “Banyak hal yang harus aku urus. Bagaimana dengan syutingmu Drake?”
“Bagus.” Drake menggendong tubuh Kania ke kasur. Lalu menjadikan lengannya sebagai bantalan.
“Drake…”
“Ya?” Kania mendongak. “Apa kamu marah? Apa kesalahanku?”
Bukannya menjawab, Drake hanya diam. Kania merasa ada sesuatu yang mengganjal. Raut wajah Drake menandakan laki-laki itu sedang tidak bersemangat. Lebih terlihat seperti malah namun berusaha ditahan.
“Babe… katakan padaku.” Jemari Kania mengusap rahang Drake. “Apa aku berbuat kesalahan?” mengecup pipi kiri Drake singkat. “Beritahu aku.” Mengecup lagi. “Cepat beritahu aku atau aku akan selalu mencium pipimu.”
Drake kesal—Kania tidak tahu kesalahannya sendiri. Padahal katanya di dalam hubungan komunikasi adalah hal utama. Mereka tidak komunikasi lebih dari seminggu, apa itu wajar? Bagaimana jika mereka terpisah dengan waktu yang lama. Bisa-bisa hubungan mereka putus ditengah jalan.
“Kania cukup.” Drake menarik pinggang Kania. “Kamu harus cari tahu kesalahan kamu sendiri.”
Kania menghela nafas. “Tapi—kesalahan apapun itu. Aku minta maaf. Bisakah kamu menerima maafku?”
“Kamu bahkan tidak tahu kesalahan kamu apa. Bagaimana bisa kamu meminta maaf?” Drake beranjak dari kasur.
“Drake… ayolah.” Kania menyugar rambutnya kasar. “Kenapa kamu seperti ini? Kita baru saja bertemu. Tidak bisakah kamu melupakan kesalahan yang bahkan tidak aku tahu? Aku juga tidak ingin membuatmu marah.”
“Kania..” geram Drake. “Aku tidak ingin berdebat denganmu.” Drake keluar dari kamarnya.
“Drake!” pekik Kania. Ia buru-buru mengejar Drake. “Sekarang beritahu kesalahanku apa? Aku akan berusaha memperbaikinya. Aku akan berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang aku perbuat.”
Drake berhenti di ambang pintu Penthouse. “Kemana saja kamu selama seminggu ini? Apa kesibukan yang membuat kamu melupakan kekasih kamu? Padahal di luar negeri aku syuting pagi sampai malam tapi aku bisa menghubungi kamu. Tapi kamu hanya bekerja 12 jam di kantor tapi tidak pernah mencoba menghubungiku lebih dulu.”
“Ada banyak pekerjaan yang menyita waktuku—Drake. Aku bahkan sering melupakan makan dan minum, bagaimana sempat menghubungimu. Selagi aku baik-baik saja tidak ada yang perlu dikawatirkan.” Kania menghela nafas. “Oke kalau kamu merasa hanya kamu yang berusaha di hubungan ini, aku minta maaf. Aku terlalu cuek dan bahkan aku tidak bisa menerima banyak perhatian kamu.”
“Bukan hanya masalah memastikanmu baik-baik saja. Tapi juga tentang kepercayaan yang sudah kamu coba yakinkan padaku. Bagaimana aku bisa percaya kamu tidak bertemu laki-laki lain jika kamu saja tidak mengabariku. Bagaimana aku tidak berpikir buruk di saat kamu sama sekali tidak mempunyai inisiatif membuatku tenang?”
“Drake… kita sudah sama-sama dewasa. Komunikasi itu tidak harus selalu intens. Lagipula kita sama-sama orang dewasa. Tidak mungkin selalu berbicara 24 jam. Dari awal kamu tahu—kita punya dunia sendiri-sendiri. Dunia yang jauh berbeda. Seharusnya kamu mengerti dari awal.”
Kedua tangan Drake mengepal dengan erat. Ingin sekali melampiaskan kekesalannya. “Ternyata dua orang yang sama-sama keras kepala tidak bisa bersatu dengan mudah.” Drake keluar dengan membanting pintu.
“Drake!” pekik Kania.
Drake tidak peduli. Laki-laki itu pergi meninggalkan Kania sendirian. Kania menghempaskan tubuhnya di sofa. Tangannya melempar semua barang-barang yang berada di atas meja.
~~
Di mana lagi tempat untuk membuang segala permasalahannya selain klub. Drake menginjakkan kakinya kembali setelah sekian lama. Ia duduk di salah satu bangku milik VVIP. Pelayan datang untuk melayani kebutuhannya.
“Wine.”
Bagaikan magnet yang terus menarik sekitarnya. Drake bukan sekedar pria tampan dan seksi. Mempunyai segudang kekayaan yang bisa membeli apapun. Bagi seseorang yang bisa menyenangkannya pasti akan mendapat sebutir kekayaannya.
Pelayan datang membawakan Wine. “Apa anda membutuhkan sesuatu lagi?”
Drake diam.
“Di sana ada anak baru. Dia pasti bisa membuat anda lebih bersemangat.” Pelayan itu menunjuk seorang wanita yang menggunakan dress hijau.
“Aku butuh orang menuangkan minuman.”
Pelayan itu mengangguk. Tak lama wanita yang tadi sempat ditunjuk datang ke bangku Drake. Duduk di samping Drake dengan anggun.
Tanpa kata—wanita itu tahu tugasnya. Ia menuangkan perlahan minuman ke gelas. Kemudian memberikannya pada Drake.
“Apa anda sedang ada masa—”
“Bukan urusanmu.” Drake bersandar pada sofa dengan salah satu kaki terlipat ke atas. “Pergi jika kau banyak bicara.”
“Baiklah.” Wanita itu memilih diam daripada kena semprot Drake.
Tugasnya memang hanya menuangkan minuman. Sampai satu botol habis. Drake tidak pernah menghabiskan satu botol langsung untuk menjaga kesadarannya. Namun kali ini ia melanggar batas yang sudah dibuatnya sendiri.
“Kania…” lirihnya. “Kenapa kamu ada di sini?” tangannya menarik pinggang wanita yang ia yakini sebagai Kania. “Kamu pasti mau menjemputku!” Drake memeluk Kania erat.
“Aku kesal—aku sangat kesal denganmu,” racaunya. “Jadilah wanita yang penurut. Aku tidak suka kamu lebih dominan daripada aku.” Drake mencengkram pinggang Kania. “Jangan katakan hal yang menyakitkan. Atau aku tidak akan berhenti menyentuhmu.”
“Touch me.” Bisiknya.
“Kania…” geram Drake.
~~
Berbalik, mencari posisi ternyaman. Kania membuka matanya perlahan saat menyadari jika telah tertidur di sofa. Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ia bangun—mencari keberadaan Drake yang tidak ia temukan dimanapun ruang di dalam Penthouse.
Artinya Drake tidak pulang. Kania mengambil ponsel. Mencoba menghubungi pria itu. Namun beberapa kali mencoba memanggil—ponsel Drake tidak aktif. Kania ingin menelepon manajer pria itu. Namun hari masih gelap—lagipula pasti Jefri masih tidur.
Pada akhirnya Kania masuk ke dalam kamar. Merebahkan dirinya kembali ke atas kasur. Memejamkan mata—melupakan pikiran buruknya tentang Drake.
Keesokan harinya. Kania sudah menanyakan keberadaan Drake pada Jefri. Namun Jefri sendiri tidak tahu ke mana perginya Drake. Jefri bilang akan mencari Drake.
Kania menatap pantulan dirinya di depan cermin. Tangannya melingkarkan scarf di leher. Begitu penampilannya di rasa sempurna. Ia mengambil tas dan bersiap berangkat. Baru saja mencapai pintu keluar—ia mendapati Drake yang baru saja sampai.
“Drake,” panggil Kania mendekat. “Darimana saja kamu?” tanyanya mendekat. Namun aroma Drake begitu menyengat. Aroma alkohol dan juga parfum asing. Kania mencium aroma tubuh Drake lebih dalam.
“Kamu dari mana saja Drake?!”
Drake menghempaskan tangan Kania dari lengannya.
Kania mengernyit. Semakin tercium di hidungnya. Kania semakin curiga. “Kamu bermain dengan wanita lain?”