Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Im Yours


  “Drake..” lirih Kania. “Kita harus membicarakan hal ini secepatnya. Aku hanya ingin hubungan ini dilandasi dengan kepercayaan.”


            “Dari awal kamu tahu Kania aku tidak suka wanitaku bersama pria lain. Aku memang possesive. Jika bisa—aku akan lebih senang jika kamu di rumah saja tidak bekerja dan aku yang mencari uang.”


Kania menggeleng. “Itu berlebihan Drake. Aku hanya ingin kamu mempercayaiku. Sedangkan kamu menginginkan aku terkurung di rumah?”


Drake beranjak dari kasur. Mengambil coatnya kembali.


“Drake kamu akan ke mana?”


Drake melangkah keluar. Kania segera mengejarnya. “Drake!” Menahan tangan Drake. “Pembicaraan kita belum selesai.”


“Apa yang ingin kamu bicarakan? Kamu ingin aku memberikanmu kebebasan untuk bersama para pria rubah di luar sana? kamu ingin aku membiarkanmu dilihat oleh banyak laki-laki?”


“Drake itu pekerjaanku sedari dulu. Bidangku memang lebih banyak laki-laki. Aku juga berusaha memahami pekerjaan kamu. Aku berusaha membiasakan diri saat kamu melakukan adegan mesra dengan wanita lain. Aku tahu karena itu pekerjaan kamu—tapi aku tidak akan bisa menerima jika wanita itu terus mengejarmu di kehidupan nyata.”


“Bidang kita hampir sama Drake. Kita akan selalu berinteraksi dengan lawan jenis. Aku mohon sama kamu. Aku hanya meminta pengertian kamu. Kita harus berusaha saling percaya satu sama lain. Jangan terus-terusan mengawasiku.”


Drake melepaskan tangan Kania. “Lepaskan aku.”


“Drake..”


“Aku tidak bisa berpikir dalam keadaan seperti ini. Mengertilah Kania.” Drake pergi.


Bagi Drake yang dilakukannya sudah benar. Dia mengawasi Kania sebagai bentuk perhatian. Ia tidak ingin ada laki-laki yang mengganggu Kania. Ia juga ingin memastikan jika orang-orang yang bertemu dengan Kania adalah orang baik.


Namun nyatanya. Pemikiran Drake itu tidak bisa diterima Kania. Bagi Kania, Drake sama saja tidak mempercayainya. Drake tidak memberi kebebasan Kania untuk menjalani kehidupannya sendiri. Drake selalu mengawasinya dari sudut pandang manapun. Bagi Kania hal tersebut sangat mengekangnya.


Drake pergi ke sebuah klub malam. Di sana semakin ramai karena semakin malam. Drake masuk tanpa terkena keamanan. Ia menuju lantai dua, lantai di mana anggota VIP berkumpul. Drake duduk di salah satu bangku.


Mengambil seputung rokok dan menyulutnya. Tak lama seorang wanita dengan pakaian minim datang. Ditangannya ada beberapa botol minuman yang dipesan Drake.


“Mau aku temani?”


Drake hanya mengangguk samar.


Wanita itu menuangkan minuman untuk Drake.


“Kau terlihat kacau—Sir. Katakan apa yang terjadi denganmu?”


Drake bersandar pada sofa. Memejamkan mata—mengingat pertengkarannya dengan Kania membuat tangannya mengepal erat. Ia berusaha pulang lebih awal hanya untuk bertemu dengan wanita itu—tetapi saat sudah bertemu justru Drake dibuat marah oleh tingkah Kania.


Drake merebut gelas yang baru saja terisi penuh oleh minuman berwarna cokelat itu. “Menyebalkan,” desis Drake.


“Siapa Sir?”


Drake menghirup rokoknya. Mulai kehilangan kontrol atas dirinya. “Dia,” gumam Drake menjawab pertanyaan perempuan itu.


“Dia siapa? Kekasihmu?”


“Hm.” Drake mengambil minuman lagi. Kali ini mengambil dari botolnya langsung kemudian menegaknya kasar.


“Waw kau sudah mempunyai kekasih Sir. Lalu kenapa kau sampai datang ke sini? Kau bertengkar dengan kekasihmu?”


“Cerewet,” desis Drake kesal.


Wanita itu mendekat. Mengusap dada Drake dengan sensual. “Kalau kau mau. Aku bisa menghilangkan amarahmu—Sir.”


“Bagaimana caranya?”


“Pergi!” ucapnya dingin.


Drake mendongak. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya pada Manajernya.


Jefri berdecak pelan. “Di sini bukan tempatmu, Bos. Seharusnya kau berada di Penthouse menghabiskan waktu dengan Kania. Kau bisa bercocok tanam dengan Kania—kenapa kau malah datang ke sini?”


“Aku tidak ingin mendengar kata Kania.” Drake meneguk minumannya lagi.


“Kau mabuk, Bos. Sebaiknya kau pulang saja.”


Semenjak Drake pergi. Kania segera menghubungi Jefri. Meskipun Jefri sempat menggerutu tapi Manajer Drake itu tetap menjalankan tugasnya. Jefri tidak akan membiarkan Drake menghabiskan malam dengan wanita asing kemudian akan menjadi skandal besar yang akan merusak film baru yang saja selesai syuting.


“Ayo pulang, Bos.” Jefri membantu Drake berdiri. Tapi Drake tidak ingin pergi. Ia kembali duduk tanpa menghiraukan Jefri yang ingin memakinya.


“Biarkan dia. Kau bisa pulang, Jef.”


Suara perempuan. Jefri menoleh. Kania sudah berada di belakangnya dengan bersindekap. Kania menggunakan dress minim berwarna hitam. Lekuk tubuhnya terpampang nyata. Pria manapun tidak akan sanggup menolak pesona Kania.


“Kau yakin?”


Kania mengangguk.


Selepas kepergian Jefri. Kania mengambil duduk di samping Drake. Merebut minuman yang berada di tangan laki-laki itu. “Sudah berapa banyak yang kamu minum?”


Drake awalnya tidak menghiraukan keberadaan wanita yang tiba-tiba muncul di tengah perdebatannya dengan Jefri. Namun jika didengar suara wanita itu sangatlah familier. Drake terdiam. Kemudian menoleh—dengan sisa kesadarannya. Ia bisa melihat wajah wanita cantik yang baru saja ia tinggalkan di rumah.


“Kania…”


Kania tersenyum. “Jika kamu ingin pergi ke klub. Seharusnya mengajakku juga.” Tangannya meraih botol minuman dan menuangkannya ke gelas. Dengan gerakan yang sangat lambat—Kania meminum minuman berakhohol itu.


“Jangan!” ucap Drake, Kania sudah terlanjur meminum dari gelas itu. “Kania—jangan membuatku marah.”


“Aku sudah membuatmu marah sejak tadi.” Kania berdiri. Kemudian berjalan ke arah manusia yang sedang meliuk-liukkan badannya di tengah keramaian musik.


Drake menggeram marah melihat Kania terlihat begitu menggoda. Tanpa sadar ia berdiri. Menyusul Kania yang kini sudah berada di tengah-tengah. Drake memeluk Kania dari belakang.


“Kenapa kamu lakukan ini?” lirih Drake.


“I miss you—Drake...” Kania mengalunkan kedua tangannya di leher Drake. “Lihatlah banyak laki-laki yang sedari tadi mendekatiku. Tapi apa? Aku tetap bersamamu. Dimanapun kamu—aku akan selalu untukmu. Cause iam yours.”


Drake menyunggingkan senyumnya. Di bawah sorot lampu yang tidak seberapa terang ini. Jari-jarinya bergerak mengusap rahang Kania. Kania cantik. Kania seksi dan Kania hanya miliknya. Titik tidak boleh ada koma atau sama dengan.


“Aku lupa berhadapan dengan siapa..” Drake menarik pinggang Kania. “Kania—pengusaha yang pintar melakukan negosiasi. Dalam urusan percintaan sekalipun.”


“Drake..”


“Aku tidak bisa bernegosiasi denganmu dalam urusan ini—Kania.” Jawaban Drake membuat Kania mendesah kecewa. “Aku bisa gila jika melihatmu bersama pria lain selain aku.”


“Im yours Drake. Apa yang kamu takutkan?”


Drake menarik Kania. Menarik perempuan itu tidak sabaran menuju sebuah lorong redup yang berisi kamar-kamar tertutup. Tidak seberapa mewah—tapi kamar di sini menjadi pilihan bagi orang-orang yang ingin melakukan one night stand.


“Semua orang perlahan pergi….” lirih Drake.


Kania tidak menjawab karena Drake lebih dulu menciumnya. Drake benar-benar menyerang Kania hingga tidak bisa bernafas. Drake menurunkan tali dress hitam yang digunakan Kania.


“I want you—Kania.”