
“Jadi—aku akan tinggal di dekatmu, oke?”
Tidak mudah memang melakukan penawaran dengan Drake. Kania sampai merelakan harga dirinya jatuh. Menahan malunya sampai ingin menghilang saja. Menahan ketakutannya melihat kemarahan yang tercetak jelas di wajah Drake.
Drake menatapnya datar. “Hm.”
“Oke!” seru Kania. Jelas bahagia karena mendapatkan apa keinginannya.
Ia melirik jam tangannya. Sebentar lagi ada meeting di perusahaan. Ia harus segera berangkat. “Sekarang biarkan aku pergi.” Berusaha mengenyahkan tangan Drake di pinggangnya. “Drake—aku harus pergi. Ada meeting di kantor.”
“Kau akan pergi setelah mendapatkan keinginanmu?”
“Bukan seperti itu—tapi memang keadaan genting. Aku harus segera ke kantor—Drake.”
“Aku belum mendapatkan keinginanku, Kania.”
Kania mendongak. “Apa keinginanmu?”
Seringaian muncul di wajah tampannya. “One kiss.”
“Aku sudah menciummu,” jawab cepat Kania. Ia mengingat sekali kejadian beberapa menit lalu, ia memang mencium Drake tapi—di kening.
“Itu bukan ciuman. Aku tahu kau amatir— sangat amatir. Tapi aku tidak tahu kau juga bodoh. Kau tidak bisa membedakan mana ciuman dan mana kecupan.” Tidak salah Drake menilai Kania seorang perempuan kuno, meski perempuan itu mengaku tidak sepolos yang dipikirannya.
“Yaaaa! aku memang tahu kau seenaknya, tapi ternyata kau juga suka menghina orang lain.” Sebenarnya Kania malu diakui amatir di usianya menginjak 25 tahun. Kania tidak ingin orang-orang menilainya sebagai perempuan yang norak dan kaku, ya hanya itu saja. “Dengar ya! Kau salah menilaiku.”
“Kalau begitu tunjukkan padaku.” Drake tersenyum menantang.
“Aku tidak punya waktu—Drake. Lain kali aku akan belajar dan praktek denganmu.”
“Right now.”
“No—“
Drake langsung menarik mencium Kania. Mencecap bibir berlapis lipstik pink itu dengan lembut. Drake tidak pernah salah menilai orang—Kania memang pemula dan amatir. Perempuan itu tidak membalas ciumannya.
“Balas ciumanku,” kata Drake di sela-sela ciuman mereka.
“Aku—“
“Gerakan bibirmu,” potong Drake. “Lakukan seperti apa yang telah kau tonton di film.”
Kania melupakan satu hal, Drake seorang aktor. Pastilah sangat handal dalam mencium. Apalagi film yang dibintanginya rata-rata bergendre romance. Teknik-teknik berciuman pasti sudah dikuasainya.
Perlahan dengan ragu, Kania menjalankan perintah Drake. Bibirnya bergerak menyapu bibir pria itu. Nikotin dan mint bercampur menjadi satu dirasakan oleh indra perasanya. Kania berpikir untuk segera menghentikan aksi gila ini, ia harus menjadi dominan.
Kania membalikkan posisinya. Bukan dirinya lagi yang terhimpit di tembok. Kini tangannya melingkar di leher pria itu. Ia berjinjit, berusaha mengusai permainan.
Hingga—Ups
“Oh sepertinya saya menganggu.” Seorang lelaki berseragam petugas keamanan masuk.
Kikuk dan sangat malu. Kania menjauhkan dirinya dari Drake. Ia merapikan rambutnya dengan canggung. Sedangkan Drake hanya diam, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Sungguh—hari ini tidak akan terlupakan. Hari yang sangat memalukan bagi Kania.
**
Alasan kenapa Drake tidak bermasalah meski telah menghancurkan pintu Apartemen orang. Karena Drake adalah pemilik gedung Apartemen yang ditinggali oleh Kania selama setahun ini. Pantas saja ia tidak ragu mendobrak hingga membuat rusak pintu.
Kania mnegalihkan pandangannya ke samping. Melihat ke arah pohon-pohon yang bergerak diterpa angin. “Aissh,” rutuknya. Membenturkan kepalanya ke jendela mobil beberapa kali.
“Sampai jendela mobilku lecet, kau yang tanggung jawab,” suara dari orang sebelahnya membuat Kania tersardar.
Kania mendengus. Tidak ada lagi kata pagi cerah. Paginya suram akibat awan mendung yang dibuat oleh Drake. Katanya aktor terkenal, tapi kenapa tidak bekerja. Malah sekarang menjadi supir yang mengantarnya ke kantor.
“Ada keluhan yang ingin kau sampaikan padaku?” Drake melirik Kania sebentar.
Kania menggeleng.
Kania menepis rasa malunya. Tangannya bergerak mengibaskan rambutnya. “Sudah kubilang, aku tidak seperti bayanganmu. Sorry—tapi aku lumayan ahli.”
Drake menahan geli. Bersama Kania membuatnya candu. Entah kenapa, meski dibuat kesal setengah mati, namun ia suka berlama-lama dengan perempuan itu. “Tapi kau harus belajar lebih giat lagi, setelah itu praktek denganku.”
Kania mengerjapkan mata. “Dasar tidak sopan. Aku tidak akan melakukan hal itu.”
Mobil sport merah menepi masuk ke parkiran sebuah gedung. Sampai, gedung tinggi yang salah satu lantainya digunakan sebagai kantor perusahaan Kania. Pintu mobil yang tidak bisa dibuka membuat Kania mengernyit.
“Ada lagi?” tanya Kania.
“Aku jemput.”
“Huh?”
“Aku akan ke sini lagi saat waktunya pulang.”
“Drake—Kau tidak bekerja?” akhirnya Kania menanyakan hal yang sangat ingin ditanyakan pada pria itu.
“Bukan urusanmu.”
Kania hanya menaikkan salah satu alisnya. ‘Sombong sekali.’ Sial, kenapa juga ia repot-repot menanyakan hal tersebut pada Drake. Ia mengedikkan bahunya. “Terserah.”
“Tunggu.”
“Apalagi?” kesal Kania yang seakan dihalangi keluar dari mobil.
Mengambil selembat tisu. Drake mengusap sudut bibir Kania yang terdapat lipstik. Seperti biasa, dengan raut datarnya pria itu hanya diam tanpa kata.
“Sudah?” Kania meraba sudut bibirnya. Mengeluarkan cermin kecil dari tasnya. Benar, lipstiknya sedikit keluar dari tempat yang seharusnya.
“Thanks.” Kania langsung turun tanpa mendengar balasan Drake.
**
“Bagaimana dengan perusahaanmu?” tanya seorang dari seberang sana.
Kania bersandar sebentar pada kursinya. Matanya terpejam. “Mungkin semakin berkembang.”
Terdengar kekehan ringan. “Apa kamu sangat bekerja keras? Kamu sangat ingin menyaingiku?” tanyanya.
Aji Bamantara, kakak laki-laki Kania satu-satunya. Pria paling arogan setelah Drake. Sering mengejek Kania yang berusaha mandiri dengan mendirikan usaha sendiri. Itulah alasan kenapa Kania tidak meminta bantuan Aji mengatasi masalah perusahaannya. Ia tidak ingin Aji semakin mengejeknya. Moto Kania ‘aku bisa mengatasi segala hal sendirian.’
“Aku bekerja keras untuk diriku sendiri. Tidak ada urusannya denganmu.”
“Benarkah? Jika kau butuh bantuanku, bilang saja.”
“Tidak akan. Daripada mengurusiku, lebih baik urusi orang tua kita. Temui mereka, sesekali pulanglah. Setidaknya kamu masih satu kota dengan Bunda dan Ayah. Apa kamu tidak merasa bersalah pada mereka?” cecar Kania.
“Kenapa aku harus merasa bersalah? Aku sudah dewasa. Aku berhak menentukan apa yang baik untuk hidupku sendiri.”
“Tapi tidak pulang ke rumah selama 3 tahun itu sangat keterlaluan. Orang tua kita sangat merindukanmu, Kak. Pulanglah—sudah cukup selama ini menjauh. Aku tidak tahu alasanmu menjauh, tapi aku berharap secepatnya kamu menyelesaikannya.”
“Tidak bisa diselesaikan. Sudah terlanjur rumit.” Panggilan diakhiri secara sepihak.
Kania melihat ponselnya. Menghela nafas panjang setelah sekian lama tidak berbicara dengan kakaknya.
Tok tok
“Masuk.”
Putri masuk, sekretaris Kania yang sekarang memegang kotak berpita ungu. “Dari Drake Cole, Miss.” Meletakkan kotak itu di atas meja Kania.
“Baiklah.” Kania membiarkan Putri keluar. Perlahan tangannya mengambil kotak itu. Membukanya, hingga terlihatlah gaun berwarna maroon. Kania mengeryit. Tidak ada yang ulang tahun saat ini, jika memang itu adalah hadia untuknya.
Terdengar bunyi suara pesan masuk. ‘Pakai saja. Nanti aku akan menjemputmu.’