
“Bisa jelaskan backround keluarga kamu?” Dewi Sekar mengajukan pertanyaan yang sudah diketahui Kania. Pasti Bunda akan menanyakan hal itu lebih dulu.
Drake tersenyum tipis. “Saya tidak tahu orang tua saya. Dari kecil saya dititipkan di Panti Asuhan.”
Dewi Sekar semakin menunjukkan ketidaksukaannya pada Drake. “Selain menjadi Aktor apa pekerjaan kamu? Saya hanya ingin menjamin kehidupan putri saya. Karir aktor tidak mungkin selalu di atas.”
“Saya punya bisnis. Saya berencana pensiun dari dunia akting dan fokus mengelola bisnis saya sendiri.”
“Bisnis kamu apa?” seperti introgasi. Dewi Sekar seperti polisi yang sedang mengintrogasi penjahat.
“Bund…” sela Kania.
“Bunda ingin tahu calon pilihan kamu,” balas Dewi Sekar.
“Properti. Saya punya Resort di beberapa Negara. Saya juga punya beberapa gedung Apartemen yang saat ini disewakan,” balas Drake dengan tenang.
Dewi Sekar nampak cukup puas. “Walaupun kamu tidak sebagus Joshua. Tapi kamu cukup memenuhi standart kriteria menantu keluarga kita.”
“Joshua?” Drake menoleh pada Kania.
“Kamu belum tahu? Joshua anak teman kami. Dia pernah ke sini bersama Kania. Dia sangat baik dan tampan. Pewaris utama Viction—”
“Bund cukup.” Kania menatap Dewi Sekar. “Kania gak mau bunda banding-bandingin Drake sama Joshua. Joshua cuma teman Kania. Dia pernah datang ke sini karena Bunda sendiri yang mengundangnya. Kami datang ke sini karena ada proyek dan tidak sengaja bertemu dengan Bunda.”
“Terserah kamu,” sewot Dewi Sekar. Dia berdiri, meninggalkan ruang makan dengan raut kemarahan.
“Tidak usah dipikirkan.” Ayah Kania juga berdiri. “Bundamu memang seperti itu.”
Kacau—Kania mengusap rambutnya kasar. “Drake kamu—” Kania terdiam sebentar melihat Drake yang hanya diam. “Drake kamu salah paham. Aku melakukannya karena gak mau kamu marah. Lagipula kita hanya sebatas rekan bisnis.”
“Aku minta maaf.” Kania mengambil tangan Drake. Mengusapnya pelan.
~~
“Ke mana calon kamu itu?” sewot Dewi Sekar.
“Drake menginap di Hotel dekat sini,” jawab Kania. Ia mengambil tas slempangnya dan mencangklongnya.
“Mau ke mana?”
“Jalan-jalan sebentar.”
“Jam 10 harus sudah di rumah.”
Kania hanya mengangguk. Mengambil kunci mobilnya. Berjalan keluar kemudian masuk ke dalam mobil. Kania tidak pernah menyangka jika akan sekacau ini. Drake tidak berkata apapun namun hal itulah yang semakin menambah ketakutan Kania. Tidak sampai 15 menit ia telah sampai di sebuah hotel tempat Drake menginap.
Kania masuk menuju kamar Drake. Menekan tombol, tak lama Drake membukanya. Kania langsung menghambur di pelukan Drake. “Tolong jangan hanya diam saja, Drake. Beritahu aku bagaimana perasaanmu.”
Drake hanya diam. Tangannya menggantung—sama sekali tidak membalas pelukan Kania.
“Kania apa benar kamu mencintaiku?” tanya Drake pelan.
Kania mendongak. Mengalukann kedua tangannya di leher Drake. “Tentu saja aku sangat mencintai kamu.”
“Apa kamu bisa melakukan apapun yang aku inginkan?”
Kania mengernyit. “Memangnya seperti apa? Kamu tidak mungkin kan menyuruhku melompat dari atas hotel ini?” candanya. Tapi Drake terlihat tidak ingin bercanda. Kania buru-buru melanjutkan kata-katanya. “Aku akan menurut. Apa yang kamu inginkan?”
“Tidur denganku.”
“Of course. Tapi nanti, tidak malam ini. Orang tuaku akan mencariku.”
Drake membalikkan badannya. “Pilih aku atau orang tuamu.”
“Jika pilih orang tuamu. Pergi dari sini,” ucap Drake dengan dingin.
Kania terdiam. Mungkin dengan kehadirannya di sini, Drake tidak marah dengannya lagi. Urusan orang tuanya. Kania akan memikirkannya belakang. Ia memeluk Drake dari belakang. Melingkarkan kedua tanganya di pinggang Drake.
“Aku memilihmu.”
Drake menampilkan smirknya. Ia membalikkan badan. Menarik pinggang Kania hingga terbentur dengan dadanya. Mengangkat tubuh Kania dengan mudah ke atas sebuah meja. “Aku ingin meluapkan emosiku.” Jemari Drake mengusap pipi Kania.
Kania gugup. Jujur ini pertama kalinya Drake sedingin ini. Tidak ada raut bahagia. Mata Drake lebih tajam dari sebelum mereka kenal.
“Apa kamu siap?” Drake mengangkat dagu Kania.
“Ak-aku…” Kania sampai tergagap.
“Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku akan melampiaskan semuanya malam ini. Aku tidak akan bisa berhenti meskipun kamu memohon agar aku berhenti.” Drake tersenyum—bukan senyum hangat melainkan senyum devil.
Kania menelan salivanya susah payah. “Drake..”
“Hm?” Drake menaruh wajahnya di ceruk leher Kania. “Takut hm?”
“Tidak.” Kania mengambil tangan Drake dan diarahkannya pada pinggangnya. “Lakukan. Aku siap.”
Sreet
Tangan Drake dengan mudah menyobek dress yang sedang digunakan Kania. Belum sempat melayangkan protes, bibir kania lebih dulu dibungkam bibir Drake. Drake tidak bermain lembut malam ini. Ya seperti katanya—dia ingin meluapkan emosinya.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Drake membawa Kania ke ranjang. Menghempaskannya dengan kasar. Kania terpekik—jujur ia sangat terkejut. Dadanya berdegup dengan kencang. Drake berdiri melepas semua pakaian yang tersisa di tubuhnya.
Kemudian kembali menyerang Kania—memberi tanda kepemilikkan di leher jenjang wanita itu. Drake seperti kesetanan. Tidak berhenti menyentuh tubuh Kania. Ingin terus-terus dan terus. Rasanya tubuh Kania malam ini benar-benar remuk. Bukan hanya tubuhnya—tapi juga hatinya.
Pukul 4, barulah kegiatan mereka selesai. Kania sudah tertidur pulas. Drake memandang Kania dari samping. Pikirannya begitu berkecamuk. Drake pergi ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air shower.
~~
Kania mengernyit. Sinar matahari yang masuk mengenai kedua matanya. Ia meregangkan ototnya tanpa membuka mata. Meraba sampingnya—tidak menemukan siapapun. Ia akhirnya terbangun. Drake tidak ada—ia menatap kamar mandi. Tidak ada bunyi apapun di sana.
“Drake pergi?”
Kania menatap sebuah kertas di atas nakas. Mengambilnya kemudian membacanya pelan. “Aku pergi dulu.”
“Apa yang dia maksud? Pergi ke kota dan meninggalkanku?” Kania meremas kertas itu. Rasanya tidak percaya dengan apa yang dilakukan Drake. Setelah kegiatan mereka tadi malam—dengan teganya Drake meninggalkannya begitu saja.
Kania meremas rambutnya frustasi. Apa yang akan dikatakannya pada orang tuanya saat dirinya tidak pulang semalaman. Menginap di rumah teman? Tidak mungkin mana ada yang percaya.
Kania beranjak dari ranjang. Berjalan tertatih. Semalaman Drak benar-benar menyiksananya. Tenaga pria itu tidak pernah habis—terus menghujam Kania tanpa ampun. Kania menatap dirinya di depan cermin.
Begitu banyak tanda di tubuhnya yang dibuat Drake. “Apa yang harus kulakukan?” menatap Dressnya yang sudah sobek tidak berbentuk.
Tubuh Kania merosot ke bawah. Memeluk tubuhnya sendiri yang terbalut dengan selimut tebal. Haruskan berakhir seperti ini? Kenapa Drake meninggalkannya?
~~
“Dari mana saja kamu?” tanya Dewi Sekar begitu Kania masuk ke dalam rumah.
Kania hanya diam. Ia melewati ibunya begitu saja.
“KANIA!” sentak Dewi Sekar. Ia menarik lengan anaknya. “DARI MANA SAJA KAMU?” teriaknya mengamati lamat-lamat Kania.
“Aku menginap di Hotel,” balas Kania. Mau berbohong pun tidak bisa.
“Kamu menginap dengan Drake?” Dewi Sekar menarik sweater yang digunakan Kania hingga kerah lehernya terbuka. Dewi Sekar melihat bercak yang begitu banyak di sana. “JADI INI KELAKUAN KAMU SELAMA DI KOTA?”