Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Pulang Kampung


“Kak Aji.” Kania mengernyit. “Waaah dia sudah punya kekasih tapi tidak memberitahuku.”


“Siapa?” tanya Flory.


“Aku belum mengenalkan kakakku padamu. Itu dia!” tunjuk Kania pada sang kakak Bersama seorang wanita. “Dia kakakku. Namanya Aji.”


“Benarkah?”


Kania tersenyum. “Ayo temui dia.” Menggandeng tangan Flory mendekat kea rah Aji. Pasti Aji akan sangat kesal saat kegiatannya dipergoki oleh Kania. Apalagi dalam urusan percintaan, Aji sangat merahasiakannya.


“Hai!” Kania melambaikan tangannya di depan kakaknya. Dengan senyum yang manis tentunya.


“A-apa yang kamu lakukan?”


“Kamu mengenalnya sayang?” tanya wanita di samping Aji.


“Woaah.” Kania menepuk pelan bahu Aji. “Kakakku sudah berkencan tapi aku tidak tahu. Hallo?” sapa Kania. “Aku Kania, adik kak Aji.”


“Oh..” Sang wanita mengangguk. “Aku Rose.”


Kania menatap Flory sebentar. “Ini temanku, Flory.”


“Apa maumu?” tanya Aji.


“Kita satu sama. Jangan melewatinya atau aku akan memberitahu rahasiamu.” Kania mengedipkan mata.


“Oke.” Aji langsung menyetujuinya.


Alasan kenapa berusaha menutupi kehidupan percintaan mereka adalah jika orang tua tahu, maka mereka akan cepat-cepat disuruh menikah. Adat istiadat yang masih kental di dalam keluarga membuat mereka tidak boleh berlama-lama menjalin hubungan dengan lawan jenis tanpa status yang jelas. Tentu dengan persyaratan yang tidak mudah dilalui.


“Sekarang aku pergi dulu. Selamat berhagia kakakku tersayang.”


Kania mengajak Flory keluar. Sekarang urusannya selesai. “Aku akan mentraktirmu baju,” ucapnya dengan merangkul bahu Flory.


“Kenapa kau senang sekali?”


“Aku tidak perlu mencemaskan bagaimana aku mengenalkan Drake pada orang tuaku. Aku masih butuh waktu untuk membawa Drake pada orang tuaku.”


Flory mengangguk. “By the way kakakmu tampan juga. Jika tidak mempunyai kekasih pasti akan kudekati.”


Kania tertawa pelan. “Flo—cukup jadi temanku. Aku tidak ingin kau tersangkut di dalam keluargaku yang sedikit rumit.”


“Maksudmu?”


Kania menghela nafas. “Kau tahu backround keluargaku.” Memutar bola matanya malas. “Masih keturunan kerajaan. Masih mengandung darah biru yang suci. Harus mencari pendamping minimal yang juga darah biru. Dari keluarga baik-baik. Bibit bobot harus jelas.”


“Kau pikir kenapa aku selalu menghindari Bunda yang selalu bertanya hubunganku dengan Drake?”


Flory menggeleng.


“Pasti mereka akan menentang hubunganku. Mereka pasti akan menanyakan latar belakang keluarga Drake yang bagiku itu juga masih teka-teki. Aku tidak peduli bagaimaan latar belakang keluarga Drake. Ataupun masa lalunya. Tapi pasti keluargaku akan menuntut semua yang terkait dengan Drake. Aku tidak ingin mereka melakukannya. Aku akan menghadapi mereka saat benar-benar sudah siap.”


Flory meringis pelan. “Ternyata sangat rumit….” Lirihnya. Flory merangkul bahu Kania. “Perjuangan untuk cinta. Fight for love. Kau pasti bisa melewatinya Kania!”


~~


Sesekali Kania mengirim kabar lewat pesan. Hubungannya dengan Drake berjalan baik. Sekarang ia sedang perjalanan ke kota asalnya. Ada proyek yang harus ia lakukan bersama rekan kerjanya. Rencananya Kania akan membuka kantor cabang yang didukung oleh Viction. Sesuai rencana yang sudah dibicarakan, ada tiga yang akan dibangun secara bersamaan yaitu kantor, Store dan juga pabrik.


“Aku akan survei bersama Joshua selaku CEO Viction. Aku harap kamu tidak akan cemburu.” Itu pesan Kania untuk Drake. Ia selalu jujur—agar kepercayaan Drake bisa tumbuh. Kania tidak akan membiarkan Drake menjadi seseorang pencemburu.


“Aku cemburu. Tapi aku berusaha percaya. Bukannya aku tidak percaya kamu. Tapi aku curiga pada pria yang dekat dengan kamu.”


“Just trust me, Drake. Ingat mantra kita. Cause im yours. It’s you, only one my boy.”


Kania tersenyum membaca balasan terakhir Drake. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku. Mobil berhenti di depan sebuah tanah lapang yang tidak jauh dari jalan utama. Tempatnya strategis. Dekat dari pusat kota namun jauh dari penduduk. Tempat ini paling strategis menjadi Pabrik dan Gudang.


Turun dari Mobil. Kania tidak membuka kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Cuaca yang begitu terik membuat matanya silau jika tidak mengenakan apapun. Dari arah samping. Sebuah mobil baru saja datang.


“Kau datang lebih dulu?” Joshua mendekat.


“Tidak. Aku memang tepat waktu. Kau yang telat—Josh.” Kania sedikit tersenyum.


“Sorry—Miss.” Joshua sedikit membungkuk layaknya karyawan pada bosnya.


Candaan yang membuat Kania tertawa ringan. “Bagaimana menurutmu? Tempat ini sudah cocok bukan?”


Joshua menghadap sebuah tanah lapang di depannya. Kemudian mengangguk pelan. “Tempat ini sudah tepat jika dijadikan pabrik. Setelah pabrik dibangun—pasti ada bangunan lain yang menyusul. Tugas kita bukan hanya membangun pabrik. Tapi juga perkampungan kecil. Tempat ini harus diisi dengan bangunan tempat tinggal yang nantinya dihuni pekerja pabrik yang rumahnya jauh, tempat makan—seperti warung ataupun restoran. Lalu juga klinik atau rumah sakit.”


Kania mengangguk. “Itu sempurna.” Kania bahkan tidak berpikir sejauh itu. “Devisi perencaan dari perusahaanku hanya mengajukan biaya pembangunan Pabrik dan gudang.”


“Itu masalah mudah. Devisi dari Viction akan mengurus sisanya.” Joshua tersenyum menatap Kania. “Location 1 almost done.”


“Sudah cukup?”


“Ayo berpindah tempat.”


Lokasi satu dan dua sudah selesai. Letak Store utama dan Kantor berdekatan. Akan dibangun di pusat kota. Namanya juga kerjasama—Store yang nantinya sudah jadi tidak hanya diisi dengan produk-produk perusahaan Kania. Tapi juga produk Viction.


Saat ini semua tim sedang berada di sebuah Restoran. Kania dan Joshua memang duduk memisah dengan para staffnya. Jika jauh dari staff—Kania dan Joshua bisa berbicara lebih leluasa layaknya teman.


“Jadi kota ini adalah kota asalmu?”


Kania mengangguk. “Hampir satu tahun aku tidak pulang.”


“Why? Biasanya anak perantauan sering pulang. Kenapa kau tidak pulang?”


“Sedikit rumit. Aku merindukan keluargaku tapi ada hal yang membuatku enggan pulang terlalu sering.” Kania menyuapkan suapan terakhirnya. Mengunyahnya pelan. Sesekali mengangguk senang karena akhirnya bisa makan makanan tradisional kesukaannya lagi.


Joshua sedikit tertawa melihat Kania. Posisi mereka memeng saling berhadapan. Joshua senang memperhatikan diam-diam Kania.


“Sepertinya kau senang sekali.”


“Sure.” Kania menyeruput es jeruknya. “Aku sudah lama tidak makan makanan ini. Bagaimana denganmu?”


“Aku suka. Tapi rasanya terlalu kuat. Aku tidak bisa terlalu sering makan makanan seperti ini,” jawaban jujur Joshua membuat Kania tertawa.


“Kau sudah terbiasa makan makanan Western.”


“Itu—memang benar.”


“Kania! Itu kamu!” suara seseorang yang terdengar heboh.


Kania dan Joshua menoleh bersamaan. Kania meringis pelan. Kenapa harus bertemu? Padahal ia berusaha tidak memberitahukan siapapun keberdaannya di kota kelahirannya. Karena ia memang tidak ingin bertemu siapapun termasuk keluarganya.


“Kenapa tidak memberitahu Bunda jika kamu pulang?!” wanita yang berstatus ibu Kania itu memukul gemas putrinya. “Kamu sengaja? Kamu menghindari bunda?”


Kania menggeleng. “Tidak. Kania akan memberitahu Bunda saat urusan Kania selesai. Setelah pekerjaan Kania selesai—Kania berencana akan pulang.”


“Kamu berbohong. Jika Bunda tidak bertemu dengan kamu di sini, Bunda tidak akan tahu kamu pulang. Kamu akan diam-diam kembali ke Jakarta dan tidak akan pulang.”


“Kania tidak mungkin berbohong—Bund.” Kania memeluk Bunda yang kesal bercampur ingin menangis. “Kania memang berencana Pulang.”


“Kamu dengan siapa?” tanya Bunda.