
Drake telah menyusuri seluruh Penthouse Kania. Tidak ada tanda-tanda jika wanita itu pulang. Melihat ponselnya, mengotak-atik sebentar. Akhirnya ia tahu keberadaan Kania. Kemampuan Drake di bidang IT tidak perlu diragukan lagi. Sempat mengenyam bangku kuliah di jurusan teknologi, memudahkan segala urusannya. Seperti saat ini, tidak perlu membutuhkan waktu lama melacak keberadaan wanitanya.
Sampai di depan Apartemen kelas menengah. Drake berdiri, pelahan membuka masker dan topinya. Menghadapi Kania menguras seluruh tenaganya. Sekarang Drake tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya untuk menaklukan Kania selain memaksa.
Sesaat setelah menekan bel pintu, seorang perempuan membukanya. “Di mana Kania?” tanyanya. Drake memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, teman Kania yang berada di depannya hanya diam seperti patung.
“Flo…. Kenapa lama sekali.” Suara Kania terdengar dari kejauhan. Namun langkah kakinya terdengar mendekat.
Langkah Kania langsung terhenti saat melihat seorang pria yang dihindarinya sudah berada di depannya. “What are you doing here?!”
“Meet you,” jawab Drake.
Kania memegang bahu Flory dari belakang. Berusaha menjadikan Flory tameng agar dirinya selamat dari Drake. “Flo—selamatkan aku,” ujarnya.
Drake mendekat. Melangkah masuk begitu saja membuat dua perempuan di hadapannya reflek mundur.
“Kau benar-benar si Drake itu? Kau si aktor terkenal itu?” tanya Flory pelan seakan tidak percaya.
“Iya—sekarang aku ada urusan dengan temanmu,” jawab Drake.
Flory berbalik badan. Menatap Kania dengan serius. Memegang kedua bahu Kania dengan serius. “Pawangmu sudah menjemput—ikutlah bersamanya Kania.”
Kania menggeleng. “Tidak! aku tidak mau. Selamatkan aku kumohon,” balas Kania menyatukan kedua tangannya.
Yang dilakukan Flory justru mendekatkan Kania dengan Drake. “Pulanglah dengan kekasihmu, Bestie. Kekasihmu pasti sangat merindukanmu hingga rela repot-repot datang ke sini.”
“Flo!” protes Kania. “Kau teman siapa sih? kau temanku atau teman dia?” tanya Kania sembari menunjuk Drake.
Flory mengangguk sembari tersenyum. “Tentu kau temanku. Tapi kali ini aku mendukung Drake. Tadi kau bilang kau merindukan kekasihmu. Kau bilang kau merindukannya karena selalu sibuk syuting dan menghabiskan waktu bersama wanita lain. Kau juga sebenarnya ingin bilang cemburu tapi kau gengsi.”
“Aku tidak pernah berkata seperti itu,” Kania menggeleng. ‘Flory kurang ajar! Dasar penghianat!’ rutuk Kania dalam hati.
Drake yang mendengar hanya tersenyum tipis. Tangannya meraih tangan Kania. “Ayo pergi.”
“Aku ingin menginap di sini.”
“Tidak—kau harus pulang.” Drake menarik tangan Kania terpaksa berjalan mengikutinya.
“Drake…. aku tidak ingin pulang,” keluh Kania. Ia menoleh ke belakang, menatap tajam Flory yang kini terkikik geli sembari melambaikan tangan. Kania membalasnya dengan mengacungkan jari tengahnya pada teman sekaligus penghianatnya itu.
Drake berhenti. Tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Kania seperti karung beras. Dengan keadaan yang berbalik Kania berusaha memberontak, memukul bahu Drake sekuat tenaga. “Lepaskan aku—Drake!”
Tidak ada apa-apanya bagi Drake. Hanya saja teriakan Kania membuat telinganya sedikit panas. Terpaksa ia menurunkan Kania dari bahunya. “Kau suka dipaksa ‘kan?”
“Aku tidak ingin pulang. Aku hanya ingin bersama temanku malam ini!” jerit Kania tidak tertahankan lagi.
Drake mendekat. “Ingin menghindariku huh?”
“Aku hanya butuh waktu sendiri.”
“1 bulan aku tidak ada di sekitarmu itu belum cukup?”
Kania terdiam. Setelah itu ia merasakan tangannya ditarik kembali. Sesampainya di dalam mobil, Drake mendorong Kania agar masuk. Drake hanya diam saja sembari mengemudikan mobil. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya keheningan yang menghiasi perjalanan mereka.
“Jadilah seperti anjing penurut. Setidaknya aku tidak akan memaksamu jika kau selalu menurut.”
“Aku bukan anjing,” sahut Kania cepat.
“Kau benar-benar menguji kesabaranku—Kania.” Drake menepikan mobilnya di jalanan yang sepi. Mencengkram stir dengan kuat. “Bukankah aku cukup sabar sampai di sini?”
“Aku lelah.” Kania menghadap ke samping jendela. Enggan menatap Drake yang kini tengah marah dengannya.
Drake tersenyum. Menaikkan salah satu alisnya. “Kau ingin aku menghancurkan bisnismu?”
Kania langsung menoleh. “Kau tidak boleh melakukannya.”
“Kau yang membuatku memberontak. Aku tidak suka diatur, dikekang, aku suka kebebasan. Aku sangat tersiksa berada di dekatmu. Kau selalu berbuat seenaknya padaku.”
“Jangan munafik—Kania. Kau menikmatinya—kau menikmati kekuasaan yang telah kuberikan padamu, kau juga menikmati sentuhan yang kuberikan pada tubuhmu.” Drake mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan sebuah rekaman di mana dirinya dan Kania sedang melakukan hal panas. Suara Kania yang mendesah terdengar sangat jelas.
“KAU MEMANG BAJINGAN DRAKE!” umpat keras Kania.
“Kau sangat tahu aku memang bajingan, maka jangan pernah main-main denganku jika kau tidak ingin kuhancurkan.”
“AKU TERPAKSA MELAKUKANNYA. AKU TERPAKSA TERIKAT PERNJAJIAN DENGANMU. KAU TIDAK MEMBERIKU PILIHAN SELAIN MENERIMA!”
Dengan tangan yang gemetar. Kania menarik kerah kemeja Drake. “Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kau tidak perlu mengusik hidupku lagi?”
Drake meraih tangan Kania. Dicengkramnya pergelangan tangan wanita itu. “Hanya satu, yaitu tidak muncul di hadapanku. Itu bisa dilakukan hanya dengan satu cara yaitu mati.”
“Kau gila, kau psikopat, kau bukan manusia!” pukul Kania bertubi-tubi pada Drake.
Drake tersenyum miring. “Yes that’s me.” Tangannya menyusuri wajah cantik Kania. “Karena kau mengangapku bukan manusia—jadi kau memberiku kesempatan melakukan apapun yang kuinginkan, sekalipun itu menyakitimu.”
Kania menggeleng. Berusaha keluar dari mobil yang kini sudah terkunci otomatis. “Lepaskan aku!” teriaknya frustasi.
Lagi—Kania harus menerima dirinya tidak diberi pilihan selain menerima. Drake menarik tengkuknya. Menciumnya paksa, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Terus memaksanya membuka mulut hingga berhasil mempermainkan lidahnya di sana. Tangan pria itu tidak tinggal diam. Berusaha membuka kancing teratas kemeja yang digunakan Kania.
Tangan Kania masih memberontak, berusaha mencegah tangan Drake. Tapi apa yang terjadi. Drake mengambil sebuah borgol dari dalam dashbord mobil. Memborgol tangan Kania ke belakang. Hingga memudahkan dirinya menyentuh setiap inci tubuh wanitanya. Drake mengangkat tubuh Kania ke atas pangkuannya.
Tangannya terus bergerak meloloskan setiap pakaian yang digunakan Kania.
“LEPASKAN AKU DRAKE!”
“Tidak semudah itu, babe,” bisik Drake. “Tubuhmu ini sayang jika tidak kunikmati. Secara tidak langsung aku telah membelimu—Kania. Kau harus ingat, kau milikku. Aku berhak melakukan apapun padamu.”
“Aku membencimu.” Sorot Kania menunjukkan jika dirinya saat ini memang sangat membenci pria itu.
“Aku menyukai tubuhmu.”
Drake kembali menyentuh tubuh Kania. Menyentuh bagian terdalam yang membuat wanita itu mendesah. Kania menggigit bibirnya kuat agar tidak mengeluarkan suara ******* menjijikkan. Karena usaha Kania tidak bersuara, membuat Drake semakin gencar.
“Please stop…”
“Ini masih permulaan, sayang.”
Semua kegiatan mereka terekam di layar ponsel milik Drake. Drake memang selalu mengabadikan kegiatan panas mereka.
“Please stop,” lirih Kania yang bersandar pada bahu Drake.
Drake mencium pipi Kania lama. Melihat wanitanya yang tidak berdaya membuatnya kasihan. Akhirnya Drake mengembalikan Kania ke posisi semula. Lalu menyelimuti wanita itu. Tidak jauh dari tempat mereka berhenti ada sebuah hotel. Keputusan Drake adalah membawa Kania ke hotel daripada pulang ke Penthouse yang jaraknya masih lumayan jauh. Dia juga harus menuntaskan gairahnya secepat mungkin
~~
Pagi hari seorang wanita terbangun lebih awal. Merasakan sebuah tangan yang menimpa pinggannya. Perlahan ia memindahkan tangan itu. Lalu menyibak selimut pelan. Ia masih menggunakan pakaian semalam, meski sangat berantakan.
“Kau sudah bangun?” suara berat seorang pria yang baru saja terbangun.
Tidak ada jawaban.
“Kania—kau ingin melawanku lagi hm?” bisikan Drake membuat Kania merinding. Apalagi bibir pria itu telah mengecup basah lehernya.
“Ya.”
“Hanya itu saja? kau tidak ingin berbicara lain?”
“Tidak.”
“Baiklah.”