MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Emak Dan Anaknya


Jiwo dan Andin pulang ke rumah dengan membawa beberapa barang yang diambil dari dalam kotak penyimpanan yang ada di lapak. Dari barang barang yang di ambil, yang paling banyak adalah gantungan baju. Semua barang itu akan di bersihkan.


Begitu Jiwo sampai rumah, ternyata istri istrinya masih belajar menghafal harga serta jenis jenis barang dagangannya. Beberapa tumpuk celana kolor, daster, underwear pria maupun wanita masih terlihat berserakan.


Awalnya Jiwo hendak menegur agar barang barang segera dibereskan. Tapi Jiwo mengurungkan niatnya karena merasa tak tega melunturkan semangat istri istrinya yang sedang semangat belajar. Jiwo hanya bisa memperhatikan kegiatan istrinya dari kursi tamu sambil bermain game di ponselnya.


Di saat itu juga, Emak datang menghampiri Jiwo. Emak juga memperhatikan para menantunya itu sambil mengajak putranya ngobrol. Semua hal yang Emak tanyakan, di jawab dengan yakin oleh anaknya. Terutama seputar niat menantunya yang akan berjualan, Emak jadi teringat dengan almarhum suaminya. Emak merasa para menantunya seperti meneruskan usaha Bapak Jiwo yang memang sudah benar benar berhenti sejak lama.


"Sepertinya mereka semua pada semangat, Wo," ucap Emak setelah memasukan satu sendok bubur kacang hijau dari dalam mangkuk yang dia bawa.


"Ya, seperti yang Emak lihat, mereka memang semangat semua," jawab Jiwo sambil meletakkan ponselnya yang sempat dia mainkan. Jiwo memang selalu menghentikan bermain ponsel jika ada yang mengajaknya ngobrol.


"Nanti mereka jualannya gimana? Apa dijadwal juga?"


"Sepertinya, Mak. Biar adil katanya, semua dapat jatah."


Melihat semangat istri Jiwo, tiba tiba Emak terdiam dengan tatapan menerawang. Tapi tak lama kemudian, Emak kembali bersuara, "Wo, kalau seandainya mereka sudah tiba saatnya untuk pulang ke negaranya, bagaimana?"


Jiwo sontak tertegun mendengar pertanyaan Emaknya. Dia menoleh, menatap lekat wanita yang telah melahirkannya, lalu kembali menatap istri istrinya. Dadanya tiba tiba bergemuruh dan merasa sesak. Sudah pasti ada perasaan tidak rela jika semua istrinya pulang.


Jiwo sudah terlanjur nyaman dengan adanya mereka. Hidupnya semakin penuh warna sejak ketiga belas wanita itu menjadi istrinya. Jadi mana mungkin Jiwo akan sanggup melepas mereka semua jika waktu itu akan datang.


"Nggak tahu, Mak. Aku belum kepikiran kesana. Lagian selama ini, mereka tidak pernah cerita tentang kepulangan mereka. Entah karena tidak ingin terlalu berharap apa gimana? Hanya mereka yang tahu," balas Jiwo.


"Nah terus diantara mereka? Ada yang nyantol di hati kamu nggak? Salah satunya?"


Jiwo langsung tersenyum lebar, "Mereka semua sudah nyantol di hatiku, Mak. Nggak bisa pilih salah satu. Berat itu kalau pilih satu saja."


Emak melirik anaknya sambil mendengus. "Tapi, kenapa mereka nggak pernah ribut punya satu suami ya, Wo? Kalau wanita lain, pasti sudah ngamuk ngamuk tuh kalau suaminya punya istri lain. Tapi kok istrimu tenang tenang aja, Wo?" tanya Emak.


"Aku sendiri juga kagum sama ketulusan mereka, Mak. Malah aku yang takut kalau aku nggak bisa adil. Tapi sampai detik ini mereka belum pada protes satupun. Entah karena nggak enak ngomongnya atau gimana, hanya mereka yang tahu jawabannya."


Emak hanya mampu menganggukan kepala beberapa kali. Tanpa membalas ucapan sang anak, Emak bangkit dan masuk ke dalam sambil membawa mangkok kosong bekas makan bubur kacang hijau.


Jiwo juga terdiam menatap kepergian Emak, lalu kembali memandangi istri istrinya yang sedang ngobrol memakai bahasa negara mereka. Jiwo hanya mengulas senyum sambil kembali mengambil ponselnya. Dipilihnya menu kamera, lalu Jiwo mengabadikan kegiatan para istri.


Sementara di kota lain, seseorang yang baru saja mendapat tawaran mengiurkan dari seorang pejabat daerah, terlihat sedang bersiap diri menuju tempat tujuan, setelah menerima uang muka. Orang tersebut sudah terbiasa melakukan pekerjaan kotornya sendirian. Maka itu dia terlihat tenang saat hendak pergi.


Pria itu sangat yakin kalau kali ini dia juga tidak akan gagal. Berbekal sebuah alamat serta informasi tentang terget operasinya, pria itu sangat yakin kalau misi kali juga akan segera dia tuntaskan sebelum dua puluh empat jam.


"Mau pergi lagi?" tanya seorang wanita yang keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan kain apapun untuk menutupi tubuhnya.


"Iya, Sayang. Ada tugas dadakan," jawabnya sambil menarik tubuh wanita yang selama ini menjadi teman tidurnya tanpa adanya ikatan sah.


"Perginya jangan lama lama, aku nggak mau malamku kedingingan lagi," rengeknya manja.


"Kan masih ada pria lain?"


"Tapi nggak ada yang senikmat isi celanamu, Bang."


"Hahaha ... bisa aja kamu, Sayang," ucap sang pria lalu menyesap pucuk benda kembar si wanita beberapa saat. "Ya udah, aku berangkat ya?"


Si wanita pun mengangguk pasrah.


...@@@@@...