
"Kalau begitu kita berangkat ya? Jaga diri kalian baik baik. Kalau ada bahaya, segera cari perlindungan."
"Baik, Mister."
Satu persatu para istri menjabat dan mencium punggung tangan Jiwo. Hal itu sekarang jadi kebiasaan baru saat Jiwo hendak berangkat berjualan. Setelah semua mendapat giliran, Jiwo lantas beranjak menuju motor roda tiganya dimana salah satu istrinya sudah duduk menunggu untuk ikut jualan.
Tak butuh waktu lama, Jiwo pun menjalankan motornya meninggalkan rumah beserta para istrinya. Setelah melepas kepergian sang suami, para istri kembali masuk ke dalam. Tidak ada kegiatan lain yang dapat mereka lakukan selain duduk dan mengobrol. Sedangkan semua pekerjaan rumah sudah beres di lakukan sejak Emak berangkat.
"Apa Mister sudah berangkat? Kok saya nggak dibangunkan?" suara protes Alana sedikit mengejutkan istri Jiwo yang lain, yang sedang ngobrol diatas karpet ruang tamu.
"Kata Mister kamu semalam nggak bisa tidur, jadi Mister melarang kita buat bangunin kamu," jawab Anisa.
Jawaban itu membuat Alis Alana berkerut. Tapi sedetik kemudian Alana sadar kenapa Jiwo menggunakan alasan itu. Memang benar semalam Alana tidak bisa tidur. Tapi bukan karena ada masalah melainkan sesuatu kejadian yang membuat Alana bahagia.
"Kalau kamu masih nggak enak badan, mending kamu istirahat saja sana di kamar. Mister udah bilang kok, buat ngebiarin kamu istirahat," ucap Alin.
"Nggak lah, nggak apa apa, kalau di kamar terus malah tambah pusing nanti," kilah Alana sembari duduk di sisi Alifa.
"Apa kamu masih sangat syok dengan kejadian kemarin?" Anisa bertanya.
"Ya pastinya aku masih syok lah. Jika Mister tidak datang tepat waktu, mungkin saat ini aku sudah dijadikan alat agar kalian juga tertangkap."
"Ya syukurlah, Tuhan masih melindungi kita. Tapi saya pribadi, semakin merasa tak enak dengan Mister," ucap Arum.
"Tak enak kenapa?" tanya Alana.
"Ya, kamu tahu sendiri kan, sejak kita datang kesini, Mister sudah sangat baik nolong kita, dia bahkan mengorbankan dirinya sendiri untuk nikahin kita agar kita bisa dilindungi. Bisa saja Mister memiliki impian punya istri, anak, tapi dia korbankan demi nolong kita. Tapi aku malah belum bisa membuat Mister senang," ungkap Arum lumayan panjang.
"Ya kalau kamu ingin membuat Mister senang ya mending kamu berpikir, apa yang membuat Mister senang dan lakukanlah," ucap Alana memberi saran. Seperti dengan apa yang diucapkan, Alana memang sudah berhasil membuat Jiwo senang.
"Maksud aku gini, kalian tahu kan dalam hubungan rumah tangga pasti ada hubungan suami istri. Bukankah hubungan seperti itu juga bisa membuat suami bahagia? Kenapa kita tidak lakukan saja dengan Mister? Toh kita udah halal."
"Tapi kan Mister sudah tegas menolaknya, Alana."
"Loh? Emang kalian sudah mengatakannya?"
"Tadi pagi kita sempat membahasnya. Mister menolak dan menyuruh kita agar tidak memikirkan hal itu. Ya mungkin karena perjanjian yang kita buat waktu menjelang nikah."
Alana nampak manggut manggut. Nyatanya semalam Jiwo juga selalu mengingatkan tentang janjinya. Meski pada akhirnya dua ronde berjalan dengan sempurna, tapi Jiwo sempat meragukan kesungguhan Alana.
"Ya kalau kita memang mau melayani Mister, mungkin kita harus mencari cara. Kalau kita jujur dan ditolak oleh Mister, sepertinya memang harus pakai cara lain," usul Alana hati hati agar dia tidak dicurigai kalau dia sendiri telah menyerahkan segalanya sebagai istri.
"Apa yang dikatakan Alana memang benar sih. Apa lagi kita juga sedang dikejar kejar orang yang akan menjual diri kita. Mungkin memang lebih baik, kita menyerahkannya pada suami kita daripada kita berakhir ditangan laki laki yang tidak bertanggung jawab," timpal Alena.
"Cara lain seperti apa? Aku nggak ada bakat buat menggoda laki laki," keluh Arum.
"Hahaha ... sama, aku sendiri nggak pernah dekat dengan laki laki. Mana ada bakat aku menggoda suami," timpal Anisa.
Dan semuanya hampir kompak saling mengakui kalau mereka memang tidak ahli merayu laki laki. Meskipun ada diantara mereka yang pernah pacaran, tapi hubungan mereka hanya sekedar pacaran yang masih ada batasannya.
Sementara itu di tempat lain, Bejo dan dua rekannya sedang sibuk mencari rumah kontrakan yang letaknya tidak jauh dari komplek tempat tinggal para gadis. Mereka tidak akan menyerah begitu saja. Sesuai perintah dari sang Bos, Bejo harus bisa mendapatkan seseorang yang bisa diperalat agar para wanita incaran mereka terusir dari kampung tersebut.
Saat ini Bejo dan dua rekannya sedang duduk di depan warung makan di pinggir jalan. Saat mereka sedang asyik ngobrol, mereka dikejutkan dengan obrolan sepasang pria dan wanita yang duduk tidak jauh dari mereka. Yang membuat Bejo penasaran adalah saat salah satu dari dua orang itu menyebut dengan penuh benci, pria yang menikahi tiga belas wanita.
"Sepertinya kita menemukan seseorang yang bisa kita gunakan untuk menangkap wanita wanita itu," ucap Bejo penuh arti sambil memandang ke arah pria dan wanita itu.
...@@@@@@...