MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Siaran Langsung


"Ijab qabul selesai hampir dua jam? Amzing! gimana ceritanya?" salah satu pertanyaan yang keluar dari mulut pembawa acara mengundang rasa penasaran jutaan pasang mata yang sedang menyaksikan siaran langsung acara di salah satu stasiun televisi di negara ini. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dan mengalir hingga membentuk cerita yang layak untuk di dengar.


Sang nara sumber tak henti hentinya mengukir senyum di setiap jawaban yang dia ucapkan. Bahkan jawaban yang dia berikan nyaris membuat para penonton ikut tertawa atau merasa iba, tergantung dari pertanyaan dan jawaban pada menit itu.


Salah satu yang membuat penonton terharu adalah, kisah awal pertemuan sang nara sumber bersama ketiga belas istrinya. Para istri berkisah bagaimana getirnya hidup sebelum mereka bertemu dengan suami mereka. Banyak penonton yang tanpa sadar mengeluarkan airmata karena rasa haru, miris dan prihatin campur jadi satu.


Beruntung, masa sulit itu mereka bisa lalui dengan hadirnya sesosok pria yang sangat melindungi mereka sejak awal pertemuan. Gemuruh tepuk tangan terus menggema sebagai tanda salut kepada seorang pria beristri tiga belas.


"Karena saya harus benar benar hafal nama asli mereka," jawab Jiwo.


"Dan anda berhasil?"


"Yah, seperti yang anda lihat, sekarang mereka menjadi istri saya."


"Hebat!" puji pembawa acara sambil mengajak penonton bertepuk tangan. "Berarti tiga belas wanita ini, sah menjadi istri anda secara bersamaan dihari itu juga?"


Jiwo mengangguk. "Ya. cuma berlangsung dua jam."


"Gila! bikin iri kaum laki laki aja anda, Pak."


Jiwo hanya bisa senyum senyum, begitu juga dengan semua orang yang ada disana. Bukan hanya Jiwo yang di lempar berbagai pertanyaan, para istri juga mendapat jatah pertanyaannya sendiri. Ada pertanyaan yang jawabannya bisa membuat tertawa, ada pula pertanyaan yang jawabannya bisa membuat sedih.


Hingga tanpa terasa, acara yang memiliki durasi hingga satu jam pun hendak berakhir. Sebelum acara ditutup, pembawa acara memberi kesempatan kepada Jiwo dan juga istrinya untuk mengatakan sesuatu di hadapan kamera.


"Apakah saya boleh menitipkan pesan?" tanya Aisyah.


"Oh tentu silakan," balas sang pembawa acara.


"Terima kasih, saya ingin menitipkan pesan untuk keluarga kami yang mungkin saja melihat acara ini disuatu tempat. Boleh saya menggunakan bahasa kami sendiri?"


"Terima kasih," balas Aisyah. Lalu dia menatap kamera yang diarahkan ke wajahnya. Dengan menahan gemuruh di dalam dada Aisyah mulai menyuarakan isi hatinya dengan bahasa asal negara mereka.


"Ibu, Bapak dan keluargaku dimanapun kalian berada. Apa kabar? Semoga semuanya dalam keadaan baik baik saja, seperti kami disini juga baik baik saja. Ibu, Bapak ... kalian jangan khawatir. Kami disini sangat dilindungi oleh pria yang menjadi penolong kami dan sekarang menjadi suami kami. Ibu bapak ... kami berharap kalian mau merestui kami meski kami menikah tanpa kalian. Dia adalah pria yang hebat, yang mau menerima apapun keadaan kami dengan tangan terbuka lebar. Ibu Bapak ... kabari kami segera jika kalian melihat acara ini. Terima kasih."


Prok! Prok! Prok!


Suara gemuruh tepuk tangan kembali menggema diruangan tersebut. Meski banyak yang tidak tahu artinya, tapi para penonton yakin kalau apa yang diucapkan Aisyah adalah sesiatu yang bisa membuat sedih dan terharu.


Acara pun berakhir dengan lancar. Semua pihak merasa puas dan senang dengan kisah unik yang baru saja disuguhkan. Jiwo dan para istri segera saja kembali ke hotel atas arahan kru acara. Hari ini akan ada satu lagi, acara yang harus mereka hadiri sebagai bintang tamu.


Dari tempat hotel menginap, Jiwo malah mendapat kejutan tambahan dari beberapa pengusaha produk dengan memberi berbagai hadiah, baik berupa uang tunai maupun dalam bentuk barang. Sungguh Jiwo benar benar dilimpahi banyak rejeki akhir akhir ini.


"Makanan hotel enak ya?" ucap Alifa. Saat ini mereka sedang menyantap makanan yang disedikan pihak hotel sembari istirahat.


"Iya, enak, tapi sayang, porsinya sedikit," balas Aziza.


"Kalau kurang ya tinggal minta nambah. Tuh! Banyak makanan," ucap Arin sambil menunjuk deretan berbagai jenis hidangan.


"Tapi malu kali, Rin. Gila aja! Makan di hotel, nambah, apa kata mereka?" dumel Alifa.


"Astaga! Ngapain malu? Kalau aku sih mending memilih kenyang daripada malu," ucap Arin dan dia langsung membuktikan ucapannya menuju ke deretan makanan yang tersaji rapi dan menggugah selera.


Sementara itu di kampung Jiwo, dua pasang suami istri nampak kesal bukan main setelah menyaksikan orang yang mereka benci, tampil sukses di acara televisi.


"Sial! Kenapa malah jadi tenar tu Jiwo? Bakalan makin sombong saja dia!"


"Udah pasti itu, Mas. Tapi paling terkenalnya nggak akan lama, Mas. Lihat aja, sebentar lagi juga kembali ke habitatnya."