MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Musyawarah


"Apa anak buahmu sudah berangkat?"


"Sudah, Tuan. Kenapa?"


"Baguslah. Saya harap kali ini mereka tidak mengecewakan. Kalau anak buahmu gagal lagi, sepertinya aku harus turun tangan juga."


"Ya memag harusnya Tuan Suryo ikut bertindak. Tuan itu pejabat, pasti punya kuasa yang luas."


"Baiklah, baiklah. Nanti aku pikirkan masalah ini. Apa kamu masih punya stok gadis bersegel?"


"Kalau ada sih, aku nggak akan pusing, Tuan."


"Pesanan gadis yang masih bersegel sangat banyak. Harga yang ditawarkan juga nggak main main, Hen. Sepertinya kita harus gerak cepat nangkap gadis gadis itu."


Hendrik mengangguk pelan. Apa yang dikatakan Suryo memang benar, banyak pria kaya yang mencari gadis bersegel. Karena harga jualnya berbeda jauh dengan gadis yang sudah pernah terpakai. Itulah alasan mengapa Hendrik dan Suryo masih mengincar ketiga belas gadis itu.


Untuk pergi ke pengungsian dan mencari korban baru juga butuh waktu dan dana yang tidak sedikit. Dari soal pembiayaan buat para calon korban sampai uang suap buat para oknum untuk memuluskan aksi mereka. Maka itu, mau tidak mau Hendrik harus bisa menangkap ketiga belas wanita itu agar modal yang telah dia keluarkan segera balik.


Sementara itu di hari yang sama, namun di tempat yang berbeda, Jiwo hendak pergi ke toko bangunan untuk mengganti kaca yang pecah akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Niat hati hanya ingin libur sehari tapi malah karena kejadian di luar dugaan, Jiwo harus kembali libur.


Hari ini juga rencananya Jiwo akan membicarakan hal lain dengan istri istrinya menyangkut rumah tangga mereka. Berhubung tiga istrinya sedang ikut jualan Emak, Jiwo menunda musyawarah sampai para istrinya berkumpul nanti.


"Aku mau ke pasar dulu, jaga rumah dan diri kalian baik baik. Kalau ada apa apa telfon. Jangan kayak kemarin, nggak ada yang ngabarin sama sekali," pamit Jiwo yang sudah duduk diatas motor maticnya.


"Iya, Mister," cuma itu yang jawaban dari para istrinya. Jiwo langsung menyalakan mesin motor dan motor pun melaju meninggalkan rumah.


Sebelum pergi ke toko bangunan, Jiwo mampir sebentar untuk memeriksa kembali lapak yang akan digunakan istri istrinya. Tak jauh dari tempat keberadaannya, Jiwo melihat ketiga istrinya sedang sibuk melayani pembeli jajanan yang di jual Emak. Mereka dengan semangat menyambut para pembeli, sedangkan Emak lebih banyak diam dan duduk bersandar pada kios yang belum ada pemiliknya.


Tempat jualan Emak memang di emperan kios yang tutup. Bukan hanya Emak yang ada disana, banyak pedagang lain berjejer hampir memenuhi sisi kanan dan kiri jalan pasar. Namanya juga pasar tradisional, seperti itulah keadaannya.


"Bu, beli klepon lima ribu, lupis lima ribu juga dong."


Kedua istrinya yang sedang sibuk membungkus pesanan para pembeli sontak mendongak karena mendengar suara seseorang yang yang mereka kenal.


"Eh, Mister!" pekik keduanya hampir bersamaan. Jiwo lantas mengulas senyum kepada mereka.


"Wah! Dagangannya tinggal dikit, sebentar lagi pulang ya?" ucap Jiwo sambil berjongkok di belakang istri istrinya. "Emak sama Alana kemana, Dek?"


"Lagi belanja, Mister. Tadi masuk ke dalam, Mister nggak lihat?" balas Anisa.


"Oh, nggak lihat aku. Ya udah, aku pergi dulu ya? Mau ke toko bangunan beli kaca," pamit Jiwo. Kedua istrinya pun mempersilakan.


Sebenarnya banyak mata yang melihat Jiwo dan istri istrinya. Berita tentang Jiwo yang memiliki banyak istri, memang bukan rahasia lagi. Berbagai tatapan yang memiliki arti beda tertuju pada pria itu. Namun Jiwo memilih cuek. Toh semuanya sudah berjalan dan keadaannya baik baik saja.


Waktu terus bergerak maju. Kini kaca sudah terbeli dan tergeletak di belakang kursi panjang ruang tamu. Tinggal mencari tukang yang lebih tahu, untuk memasangnya esok hari. Kini Jiwo juga sedang berkumpul bersama ketiga belas istrinya. Mereka terlihat sedang membahas sesuatu yang sangat serius. Sedangkan Emak memilih istirahat sejak pulang dari pasar.


"Aku sudah menceritakan pada Alena tentang alasan saya belum menyentuh kalian dan meminta hak saya sebagai suami. Apa Alena sudah menceritakannya?"


"Sudah, Mister, dan kita memahaminya. Terima kasih, Mister, karena Mister sudah berpikir jauh tentang nasib kami di masa depan. Tapi, Mister, tolong, jangan jadikan itu sabagai beban yang membuat hati Mister dilema," balas Adiba.


"Terus? Keputusan kalian bagaimana?"


Sebelum menjawab, para istri saling lirik satu sama lain dan hal itu sukses membuat kening Jiwo berkerut.


"Kami semua siap, Mister, jika Mister ingin menggilir kami satu persatu."


"Waduh."