MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Mereka Mulai Bergerak


"Jadi ini yang menyebabkan kalian betah bersembunyi disini?" gumam orang itu dengan tatapan tajam ke arah tiga orang wanita.


"Ada apa, Bos?"


"Tuh, lihat, target kita," tunjuk pria yang dipanggil Bos. Dua pria yang bersamanya langsung mengikuti arah tunjuk Bosnya.


"Benar, itu mereka!" pekik salah satunya. Pria yang di panggil Bos itu menyeringai.


Dialah Hendrik, laki laki yang belum menyerah dalam mengejar target targetnya. Kali ini dia sengaja turun tangan sendiri untuk menangkap tiga belas wanita buruannya. Bersama dua anak buahnya yang bernama Wito dan Kamso, Hendrik bertekad kali ini dia harus berhasil membawa semua wanita itu.


Melihat tiga orang targetnya sedang sibuk melayani pembeli, Hendrik memutuskan mencari tempat yang aman untuk mengawasi mereka sambil menunggu kesempatan. Bagi Hendrik, yang terpenting dia harus bisa menangkap salah satu wanita itu terlebih dahulu, untuk memancing wanita yang lainnya.


"Kita duduk disana," ucap Hendrik sambil melangkah ke arah sebuah kios kosong yang letaknya tidak jauh dari keberadaan targetnya.


Di waktu yang sama, Jiwo bersama istrinya yang bernama Arum baru sampai di pasar. Mereka memilih jalan yang berbeda sehingga tidak ketahuan Hendrik dan anak buahnya. Jiwo dan Arum langsung menuju lapak yang akan mereka tempati nanti. Ternyata begitu sampai di tempat tujuan, orang yang membawa pesanan Jiwo telah berada disana belum lama. Setelah berbasa basi sejenak, si tukang dan dua karyawannya mulai melakukan apa yang menjadi pekerjaan mereka, sedangkan Jiwo dan Arum hanya memperhatikan saja.


"Raknya di ganti, Wo?" tanya Emak tiba tiba membuat Jiwo dan Arum sedikit kaget.


"Emak darimana?" tanya Arum sambil maju selangkah hingga berdiri di sebelah kanan Emak.


"Dari toilet," jawab Emak singkat.


"Iya, Mak, di ganti, kan nggak jualan celana kolor aja, Mak. Ada daster dan yang lainnya. Jadi ya harus ada perombakan," ucap Jiwo membalas pertanyaaan Emaknya.


Lapak yang dipakai Jiwo memang lumayan luas. Awalnya lapak itu cuma berukuran dua kali dua meter, tapi disebelah kanannya ada orang yang menjual lapaknya seluas satu kali dua meter dan dibeli oleh bapak Jiwo dulu. Maka itu lapak Jiwo terlihat lumayan luas.


Hampir memakan waktu dua jam, akhirnya perombakan pun selesai di lakukan. si tukang juga menjelaskan setiap tempat dan fungsinya. Untuk yang lainnya, Jiwo sudah paham jadi tidak perlu dijelaskan lagi. Jiwo mengecek satu persatu di setiap bagian. Dari tempat untuk menaruh daster, celana kolor dan underwear. Sedangkan Emak memilih kembali ke tempat jualannya.


Setelah dirasa cukup dan puas dengan hasilnya, Jiwo lantas menghampiri si tukang guna mengucapkan terimakasih serta membayar biaya keseluruhan. Si tukang dan anak buahnya pun pamit setelah semua urusan selesai. Jiwo dan Arum memilih duduk di tengah tengah lapak sambil menikmati suasana.


"Untung lapak ini ada dipinggir ya, Mister, jadi orang yang lewat bakalan tahu dagangan kita dengan mudah," ucap Arum sambil memperhatikan kanan dan kiri jalan yang membelah antar barisan lapak. Jalan itu lumayan ramai karena lurus dengan pintu utama pasar ini.


"Emak sama Bapak, dari dulu emang beda jualannya apa, Mister?" tanya Arum sambil mendekat dan duduk di sebelah kanan suaminya.


"Iya, Emak lebih suka jualan jajanan," balas Jiwo. "Berarti besok barang dagangan udah harus dibawa kesini semua dan dirapikan. Kamu dan yang lainnya ke pasar ya?"


"Semuanya suruh kesini?" tanya Arum agak terkejut.


"Nanti kita bahas di rumah aja yah?" ucap Jiwo dan Arum mengangguk.


Masih di komplek pasar tapi di sisi yang lain, Emak dan tiga menantunya nampak telah selesai jualan. Terlihat disana, mereka sedang sibuk berkemas pertanda dagangan. telah habis.


"Mak, aku ke toilet dulu yah?" ucap Adiba begitu mereka selesai beres beres.


"Ya udah sana, jangan lama lama," bukan Emak yang menjawab tapi Alifa.


Adiba mengangguk lalu dia segera pergi menuju ke arah toilet berada. Tanpa dia sadari ada tiga pasang mata yang sedang mengawasi gerak gerik mereka dari seberang kios.


"To, ada satu cewek yang pergi sendirian tuh? cepat ikutin!" titah Hendrik.


"Siap, Bos!" balas Wito, dan dia bergegas pergi dengan langkah yang cepat menyusul Adiba.


"So, kita juga harus bergerak untuk mengawasi keadan. Kalau sepi kita langsung aja tangkap satu cewek yang tadi."


"Oke, Bos, laksanakan."


Keduanya segera beranjak menyusul Wito dengan langkah tenang.


...@@@@@...