
Hujan diluar sepertinya sudah mereda. Saat ini hanya terdengar suara gemericik sisa tetesan air hujan di atas genting. Jam di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh malam lebih sedikit. di dalam sebuah kama, dua anak manusia yang telah menjadi suami istri nampak saling menempelkan badannya.
Keringat mereka bercucuran. Pakaian mereka berserakan di lantai. Tubuh mereka polos tanpa benang sehelaipun yang menutupi tubuh mereka. Keduanya benar benar tidak merasakan hawa dingin sam sekali. Bahkan, selimut yang biasa digunakan untuk penghangat badan, ikut terhempas di atas lantai.
Si pria berbaring telentang dengan mata terpejam dan kedua telapak tangannya berada di kepala bagian belakang. Sedangkan sang istri, menempelkan lubang hidungnya di bulu ketiak yang basah milik si pria dan tangan satunya menggenggam benda yang terkulai lemas dan terasa lengket dibawah perut suaminya. Sebuah benda yang telah melambungkan perasaan sang wanita dalam kenikmatan yang penuh hasrat.
"Tadi rasanya gimana? Waktu kamu jilatin punyaku, Sayang?" tanya Jiwo seraya melirik le arah sang istri yang sedang mengendus dan meninghirup aroma ketiak Jiwo.
"Enak," balas Anum singkat tanpa menatap sang suami. Tapj jawaban tersebut cukup mampu mengembangkan senyum Jiwo.
Jiwo tidak menyangka atas kelakuan istrinya yang satu ini. Tadi sebelum mereka melakukan permainan panas, rencananya Anum hanya akan mencium bau badan Jiwo saja. Saat Jiwo meminta Anum menghirup aroma bulu keriting yang rimbun di bawah perutnya. Tapi diluar dugaan, Anum bukan hanya menghirup aroma bulu, dia juga menjilat benda menegang milik Jiwo tanpa rasa jijik. Bahkan Anum menikmati benda menegang itu layaknya makan permen yang sangat enak.
"Enak banget apa gimana bau ketiakku, Dek? Kok rakus amat ciuminnya?"
Anum mendongak lalu tersenyum lebar menatap suaminya. "Benar kata Arum dan Anisa, bau badan Mister menenangkan dan bikin nyaman. Pasti yang lain nanti suka, aku aja jadi suka. Padahal. dulu ngebayangin ketiak cowok aja jijik."
Jiwo ikut ikutan tersenyum. "Berarti bau badan aku istimewa dong, Dek?"
"Sangat istimewa," jawab Anum sangat antusias, lalu dia duduk bersila menghadap Jiwo. Tangannya masih setia memainkan benda menegang milik suaminya. "Mister, kira kira Mister nanti kena penyakit berbahaya nggak ya?"
"Penyakit berbahaya? Maksudnya, Dek?" tanya Jiwo dengan kening yang berkerut. Dia masih terbaring sambil menikmati perlakuan istrinya di bawah perut.
"Mister kan punya istri banyak, berarti Mister masuk ke dalam banyak lubang kan? Apa itu tidak menimbulkan penyakit? Penyakit yang sering diderita orang orang yang suka berganti ganti pasangan gitu."
"Hahaha ... ya nggak tahu, Sayang. Tapi semoga nggak lah, kan aku cuma main sama istri istriku saja dan itu sah."
"Ya semoga aja Mister tetap sehat ya? Jangan sampe kena penyakit, hih ngeri!"
Jiwo kembali terkekeh. Kali ini salah satu tangan Jiwo bergerak meraih benda kembar yang megantung di dada istrinya. "Gimana, Dek? Rasanya disentuh laki laki?"
Jiwo lantas mengulum senyum. "Sekarang lubangnya masih sakit nggak?"
"Agak pegal, Mister. Wajarlah kalau masih sakit, punya Mister gede banget. Kayak penuh sesak gitu pas masuk semuanya. Tapi pas dimentokin, aku kayak melayang gitu, Mister. Enak banget," Jiwo semakin melebarkan senyummya mendengar kejujuran istrinya. Saking gemasnya, Jiwo memijat benda kembar milik istrnya agak kencang.
"Mau dimasukin lagi nggak, Dek?"
"Emang Mister masih mampu?"
"Hahaha ... Mau di coba?"
Anum mengangguk dengan sangat antusias. Jiwo langsung bangkit dan menerkam tubuh istrinya untuk melakukan ronde kedua.
Sementara itu di sebuah kontrakan, empat pria dan satu wanita sedang duduk melingkar di salah satu ruangan tanpa kursi. Hanya ada dua kasur lantai sebagai alas duduk kelima orang itu. Wajah mereka terlihat serius. Apa lagi saat salah satu pria yang biasa dipanggil bos sedang berbicara, yang lain tampak terdiam san mendengarkan apa yang keluar dari mulut si Bos dengan seksama.
"Jadi kalian harus bisa terlihat meyakinkan agar kalian dipercaya oleh warga kampung itu," titah Hendrik diakahir ucapannya yang terdengar panjang.
"Siap, Bos, itu memang keahlian kita, iya nggak?" jawab salah satu pria yang merupakan suruhan Suryo sambil melirik wanita yang datang bersamanya.
"Ya sudah, kalau sudah paham semuanya, aku mau tidur dulu, " ucap Hendrik mengakhiri rapat malam itu. Dia bangkit tapi sambil menarik tangan wanita yang duduk di sebelahnya. "Kamu temani aku tidur."
"Loh? Kok gitu, Bos?" protes Wito.
"Udah nggak usah protes, kalian tidur aja bertiga," titah Hendrik sambil menggandeng wanita yang sudah berdiri dan siap mengikuti keinginnya. "Ayok, Sayang."
"Dengan senang hati," jawab si wanita dengan genitnya.
...@@@@@...