MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Cara Menidurkan


"Mister, kenapa buka baju dan lepas celana?" tanya Adiba dengan mata membelalak. Namun sesaat kemudian dia langsung berpaling dan menutup mata.


Jiwo yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum lebar. Sebelum melepas celana sebenarnya Jiwo sudah memakai sarung untuk menutupi tubuh bagian bawah. Tapi dipikiran Adiba mungkin ke hal yang lainnya.


"Mau berdiri disitu saja apa gimana?" ucap Jiwo begitu selesai melepas semuanya dan menyisakan sarung dibagian pinggang ke bawah. Mau tidak mau, Adiba berjalan menunduk dan menghindari pandangan ke arah suaminya hingga Jiwo merasa gemas melihatnya.


"Kenapa nggak lihat sini? Nanti pas tidur juga deketan?" ledek Jiwo sambil cengengesan.


Begitu sampai di atas kasur, Adiba langsung berbaring miring membelakangi suaminya yang masih berdiri di depan lemari. "Lagian, kenapa pake buka baju segala sih, Mister?"


Sebelum menjawab, Jiwo ikut merebahkan tubuhnya, dan tangan Jiwo langsung melingkar diperut Adiba hingga wanita itu terkejut. "Nyaman aja tidur nggak pakai baju dan cuma pakai sarung."


Adiba semakin mati kutu dibuatnya. Dadanya berdebar kencang lebih dari biasanya. Namun dia berusaha bersikap biasa saja. "Apa nggak dingin?"


"Ya enggak lah, Sayang. Orang ada kamu, ada selimut, cukup buat menghangatkan," balas Jiwo santai. "Hadap sini, dong? Masa aku dikasih punggung?"


Tentu Adiba tambah terkejut, badannya bahkan sedikit menegang. Tapi itu tak lama, Adiba sadar kalau dia seorang istri. Lagian dalam hati juga Adiba bahagia bisa sedekat ini dengan suaminya. Perlahan Adiba memutar badan hingga menghadap tubuh suaminya. Mata Adiba menatap wajah sang suami yang dihiasi dengan senyum manisnya.


Nah! Begini kan enak," sorak Jiwo semakin mengeratkan pelukannya. "Tangannya jangan kaku gitu, dong, Sayang? Sentuh saja dada, perut, nggak apa apa?"


Adiba tersenyum canggung, dia menuruti apa yang dikatakan sang suami. Salah satu telapak tangannya menempel pada dada bidang Jiwo yang ditumbuhi bulu tipis. Tangan itu bergerak perlahan mengusapnya beberapa kali.


"Katanya, Mister kalau tidur nggak suka buka baju, tapi kok ini malah dibuka?" tanya Adiba.


"Sebenarnya dari dulu aku sukanya begini, cuma kan kemarin karena baru pertama kali satu kamar dengan perempuan, ya wajar dong, aku masih grogi dan tidak biasa, jadi aku terpaksa tidur pakai baju dulu."


"Oh gitu, harusnya Mister tetap jadi diri sendiri saja. Sesuai kebiasan Mister, jangan berubah demi kami."


"Hahaha ... tadi aja kamu kaget, pake nasehatin segala."


"Ya kan nggak tahu kalau Mister sukanya nggak pake baju."


Jiwo memilih tersenyum daripada membalas ucapan Adiba. Yang ada nanti malah berdebat. Mereka terdiam sambil menikmati apa yang sedang terjadi diantara mereka. Adiba yang mengusap dada suaminya dan Jiwo yang menikmati sentuhan istrinya.


"Mister."


"Hum?"


"Kalau bosnya belum ketangkap ya kemungkinan masih ada, kenapa?"


"Takut aja, Mister. Mungkin kali ini kita masih bisa selamat, tapi kita nggak tahu kapan mereka datang lagi. Takutnya ketika mereka datang, di saat itu juga kita lagi lengah."


"Nggak usah takut. Lain kali kalau kebetulan mereka datang dan akan menangkap kalian, berusalah untuk berontak dan berteriak. Terus kalian jangan pernah pergi sendirian. Pergilah bertiga. Entah itu di pasar atau dimana. Pokoknya jangan pergi sendirian, oke?"


Adiba mengangguk tiga kali. Lalu dia memeluk tubuh suaminya dan menempelkan kepalanya di dada bidang sang suami. "Makasih, Mister, masih mau menjaga kami hingga detik ini."


"Itu sudah kewajibanku, Sayang. Apa lagi kalian itu istri istriku. Udah sepantasnya kalian aku lindungi," balas Jiwo sambil mengusap rambut Adiba dengan lembut.


Karena badan yang sangat menempel dan terjadi pergerakan, Adiba merasa ada sesuatu yang menyentuh pahanya. Daster Adiba sedikit terangkat, dari sana jelas sekali kalau sesuatu itu menempel di paha dan berasal dari balik sarung yang di pakai suaminya.


Punya Mister sedang berdiri ya?" tanya Adiba seperti orang kaget.


Jiwo sontak tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat. "Kamu sih bergerak terus, jadi kan ada yang bangun itu. Tanggung jawab!"


"Tanggung jawab! Tanggung jawab apaan?"


"Ya kan itu sudah bangun, sebagai istri, harus bisa menidurkan dia lagi dong."


"Tapi kan aku nggak tahu caranya, Mister."


Mendengar jawaban Adiba yang seperti wanita lugu, sontak membuat Jiwo terkekeh. Sedangkan Adiba yang merasa sedang ditertawakan malah semakin bingung dengan sikap suaminya.


"Serius? Kamu nggak tahu caranya menidurkan isi saraungku?" tanya Jiwo memastikan setelah tawanya reda.


"Serius, nggak tahu caranya bagaimana," jawab Adiba masih seperti orang bingung.


Jiwo langsung menyeringai nakal dan berkata pelan, "Caranya, lepasin dulu semua pakaian kamu, Sayang."


Deg!


...@@@@@...