
Malam ini, hujan yang lumayan besar mengguyur di beberapa wilayah negara ini. Salah satunya kota kecil yang di huni seorang pria dengan tiga belas istrinya. Di dalam kamar pribadinya, pria bernama Jiwo itu sedang bercengkrama dengan salah satu istrinya dengan badan yang sangat menempel.
Saat asyik menikmati suasana berdua, salah satu kaki sang istri bergerak di atas paha suaminya hingga tanpa sengaja lututnya menempel pada sesuatu yajg ada di dalam sarung Jiwo. Sang istri nampak kaget.
"Mister hanya pakai sarung?"
"Hehehe ... iya, kaget ya?"
"Kenapa nggak pake segitiga bermuda?"
"Nyaman aja, Dek, kalau tidur nggak pake itu."
"Astaga!"
"Mau lihat nggak, Dek?" tawar Jiwo mulai keluar pikiran nakalnya.
"Ih mesum! Nggak mau," tolak Andin sambil bergerak hendak pindah posisi. Tapi tangannya yang melingkar di perut suaminya langsung ditahan oleh Jiwo dengan erat. Sontak saja Andin langsung merengek, "Mister, lepasin."
"Katanya penasaran punyaku gede apa nggak?" Ledek Jiwo sambil perlahan menggerakkan tangan memegang tangan Andin ke arah bawah.
"Kata siapa? Itu, kan, Anum yang bilang," bantah Andin sambil berusaha menahan dan melepaskan tangan yang Jiwo pegang. Tapi sepertinya usaha Andin sia sia, karena sekuat apapun tenaga yang dia kerahkan, akan tetap kalah dengan kekarnya bahu Jiwo.
"Yakin, kamu nggak ingin lihat, Sayang?" Jiwo masih berusaha menggoda sang istri. Bahkan sekarang tangannya semakin mendekat dengan benda yang berada diantara dua paha pria itu.
"Mister, ih," rengek Andin sambil terus berusaha melepas diri. Telapak tangannya terkepal, dadanya bergemuruh kencang. Bukannya tidak suka diperlakukan seperti itu, tapi ini terlalu membuat grogi. Tapi sayang, usaha Andin tidak membuahkan hasil sama sekali. Kini Andin bisa merasakan benda yang mengeras dibalik sarung suaminya.
Jiwo terus menatap wajah istrinya dengan senyum yang sangat lebar. Entah kenapa melihat reaksi Andin yang seperti orang takut, justru membuat Jiwo semakin semangat menggodanya. Tidak ada maksud lain Jiwo melakukan hal ini, dia hanya ingin melihat reaksi istrinya saat memegang benda di bawah perutnya. Apa lagi, dia jarang sekali bercanda dengan istri istrinya seperi itu.
"Gimana rasanya, Dek?" tanya Jiwo dengan santainya. Tangannya terus membimbing tangan Andin untuk menggenggam benda yang sudah menegang di balik sarungnya.
"Mister, gila, ih, mesum," sungut Andin dengan mata terbelalak saat kulit tangannya merasakan benda milik Jiwo tanpa halangan kain sarung. Jiwo langsung terbahak bahak melihat reaksi terkejut istrinya.
"Tinggal pegang aja, Sayang, sambil dipijitin ya?" ucap Jiwo dengan senyum yang semakin lebar.
Andin memang menolak dan berusaha melepaskan diri dari tangan suaminya. Tapi gesekan kulit tangan yang berulang kali Jiwo lakukan, membangkitkan rasa penasaran wanita itu untuk menggenggamnya.
Meski dadanya semakin bergemuruh, tapi ada rasa kagum dalam hati Andin saat matanya melihat benda menegang milik suaminya yang sangat menegang. Darahnya berdesir saat kulit jarinya menyentuh urat dan bulu bulu keriting yang tumbuh di sana.
"Pegang aja, Sayang, jangan malu, nanti kalau kamu sudah selesai datang bulannya, itu juga akan jadi milik kamu," Rayu Jiwo seakan mengerti apa yang Andin rasakan.
Dan sepertinya rayuan lembut sang suami mampu melunturkan pertahanan Andin. Perlahan wanita itu membuka kepalan tangannya, lalu dengan agak gemetar tangan itu mulai menggenggam bagian pangkal hingga terasa gesekan kulit tangannya dengan bulu keriting yang lumayan tebal.
Jiwo tersenyum penuh kemenangan. Matanya juga ikut menatap benda menegang yang sekarang sedang digenggam tangan mungil istrinya. "Tangannya gerakin dong, Sayang. Jangan diam kayak gitu. Gerakin naik turun pelan pelan."
Andin tak mampu membantahnya. Tangannya mulai bergerak sesuai perintah. Rasa malu yang sedari tadi menguasai diri Andin perlahan sirna. Detik demi detik yang terlewati, menghempas rasa malu itu dan menggantikannya menjadi rasa kagum dan senang. Jiwo lansung melepas tangannya dan membiarkan sang istri memainkan benda di bawah perutnya.
"Bisa gede begini, dikasih ramuan apa sih, Mister?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Andin.
"Nggak dikasih ramuan apa apa, Sayang. Bagus nggak?" balas Jiwo sambil mengusap kepala Andin yang kini kembali menempel di dadanya.
"Bagus banget, Mister, gemesin banget," jawaban Andim sontak membuat Jiwo terkekeh.
"Ada ada aja kamu, Sayang. Ya udah, mainkan aja sesukamu," ucap Jiwo dengan mata terpejam menikmati sentuhan lembut tangan Andin.
"Baik, Mister."
...@@@@@...