
Suasana rumah Jiwo siang itu benar benar terlihat mencekam. Bukan karena adanya kejahatan melainkan karena jawaban Aisyah yang membuat pihak kedutaan agak tercengang. Tidak ada yang salah dengan jawaban jujur dari Aisyah, tapi jawaban tersebut sepertinya adalah sebuah jawaban yang tidak diharapkan dari pihak kedutaan.
Dilihat dari gelagatnya, para pihak kedutaan kembali melempar pertanyaan yang sama kepada istri Jiwo yang lain. Lagi lagi mereka mengatakan hal yang diluar dugaan. Meski inti dari jawaban mereka hampir sama yaitu mencintai suami mereka, tapi hal itu sungguh mengejutkan. Bagaimana bisa ada tiga belas wanita jatuh cinta pada pria yang sama tapi mau berbagi?
Bukan hanya pihak kedutaan yang terkejut, tapi semua pihak yang ada di ruang tamu rumah sederhana milik Jiwo. Baru kali ini ada wanita yang terlihat sangat senang dipoligami. Bahkan para istri Jiwo tidak segan segan menunjukan wajah bahagia tanpa ada paksaan di hadapan semua yang hadir disana.
Tentu saja jawaban para istri Jiwo menjadi konsumsi yang sangat tepat oleh para pemburu berita yang hadir disana. Bagi para wartawan yang memang asli warga negara ini, pengakuan semua istri Jiwo adalah berita yang sangat unik yang baru ada di negara ini.
Sedangkan Jiwo sendiri, sudah tidak terbayang lagi perasaannya bagaimana. Dari senyum yang mengembang sedari tadi, membuatnya terlihat sangat jelas wajah bahagia yang tidak bisa dia sembunyikan. Kasak kusuk para warga yang melihat ekspresi Jiwo mengatakan kalau Jiwo adalah pria yang paling bahagia di dunia.
"Dengan jawaban kalian seperti itu? Berarti kalian akan memilih untuk tetap tinggal disini?" tanya salah seorang tamu yang ikut rombongan pihak kedutaan.
Sebelum menjawab, para istri Jiwo saling memandang sejenak. Mereka seperti sedang bermusyawah satu sama yang lainnya lewat tatapan mata mereka. Jiwo dan para tamu yang hadir juga memperhatikan gerak gerik tiga belas wanita itu sambil menunggu jawaban dari mereka.
"Kembali lagi ini menurut isi hati saya pribadi," lagi lagi Aisyah yang mengawali memberi jawaban. "Karena aku tidak tahu isi hati mereka jadi aku hanya mampu menjawab sesuai dengan isi hatiku saja."
"Baiklah, silakan."
"Sebagai seorang istri dan juga sebagai manusia yang beragama, bukankah akan lebih baik kita mengikuti kemana langkah kaki suami kita berpijak. Saya ingin mengikuti pedoman tersebut. Bukannya saya tidak sayang sama keluarga, tidak. Jika ada kesempatan berjumpa lagi dengan keluarga saya, tentu saja saya ingin menemui keluarga saya dan berkumpul dengan mereka. Tapi selama saya masih terikat dengan pernikahan, saya tetap akan mengikuti suami saya dan meminta restu pada keluarga saya jika kami bertemu dan berkumpul kembali."
"Kalian yakin? Ingin mempertahankan pernikahan kalian dengan satu pria?" tanya salah satu orang dari pihak rombongan kedutaan.
"Kenapa?" tanya Anisa dengan wajah menunjukan raut tidak suka mendapat pertanyaan seperti itu. "Apa anda juga ingin menikahi banyak wanita, Tuan?"
Sontak orang itu terkekeh mendengar pertanyaan yang Anisa lontarkan. "Bukan begitu maksud saya ibu, ibu. Begini, di negara ini memiliki aturan tentang berpoligami loh. Satu pria hanya boleh menikahi maksimal empat wanita dengan syarat yang tidak mudah. Apa kalian yakin ingin bertahan?"
Untuk kesekian kalinya ketiga belas istri Jiwo terdiam dan saling pandang. Tentu saja mereka baru tahu tentang peraturan pernikahan seperti itu. Mereka berpikir keras mencari jawaban yang pas dan tepat.
Jiwo sendiri sedari tadi memilih diam. Meskipun mulutnya tertutup rapat, di dalam hatinya, Jiwo sedang merasakan kegundahan yang luar biasa. Pertanyaan yang terlontar dari pihak kedutaan sungguh sangat meresahkan. Tapi Jiwo tak sedikitpun berniat menyela pertanyaan itu. Biar bagaimanapun juga, Jiwo ingin tahu isi hati istri istrinya saat ini.
"Apakah di negara ini juga ada peraturan tentang nikah siri dengan wanita banyak dan semua wanita itu ikhlas lahir batin berbagi suami?" Kini Alifa yang bersuara. Sontak saja pertanyaan Alifa membuat bingung pihak kedutaan. Yang mereka tahu, nikah secara agama memang tidak ada peraturannya.
"Meskipun kita nikah siri, tapi banyak orang yang menjadi saksi dan kita juga dibimbing oleh pemuka agama. Apakah hal itu akan menjadi pelanggaran dimana pelakunya mendapat hukuman? Padahal kita tidak ada istilah mana istri pertama dan mana istri terakhir. Kita sama sama wanita yang memiliki satu suami. Apakah akan mendapat hukuman juga?"
Pihak kedutaan untuk sementara terdiam, mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaann tersebut.
...@@@@@...