MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Mau Tidak, Dek?


"Dek."


"Iya, Mister, kenapa?"


"Kamu sendiri gimana, Dek?"


"Aku? Maksudnya?"


"Iya kamu ... kamu sendiri gimana? Mau disentuh atau tidak, Dek?"


Alena terkesiap, degup di dadanya langsung terpacu lebih cepat. Dia bingung memberi jawaban atas pertanyaan suaminya. Meskipun Alena mau disentuh, dia merasa tidak nyaman jika menjawab kalau dia mau. Tapi kalau Alena menjawab tidak mau, nanti yang ada dia dikira munafik. Bukanlah kemarin pagi dia juga ikut membahas masalah hubungan suami istri di ranjang,


"Nggak mau ya, Dek?" tanya Jiwo lagi sedikit mendesak. Mendengar Jiwo seperti orang merajuk membuat Alena malah terkekeh. "Malah tertawa."


"Hehehe ... abis Mister gemesin. Masa hal kayak begituan ditanyakan? Ya aku bingung jawabnya."


"Loh kenapa bingung? Kan tinggal jawab mau atau tidak? Gampangkan?"


"Astaga! Ya nggak semudah itu, Mister!" pekik Alena semakin merasa gemas.


"Ya kan maksud aku bertanya seperti itu, aku takut aja diantara kalian ada yang nggak mau disentuh gitu loh, Dek."


Alena manggut manggut, tapi dia masih ragu untuk memberi jawaban. Mungkin bagi Alena lebih baik langsung diserang daripada dikasih pertanyaan. Apa lagi ini adalah yang pertama bagi wanita itu, dimana rasa malu masih mendominasi meski dia penasaran rasanya berhubungan suami istri.


"Apa Mister sedang ingin melakukannya?" Alena memberanikan diri bertanya seperti itu setelah beberapa saat terdiam dan mencerna maskud pertanyaan sang suami hingga dia mendapat kesimpulan seperti itu.


"Ya gimana ya, Dek. Bayangin aja deh. Sepasang suami istri di dalam kamar, nggak bisa tidur. Masa iya melewatkan malam itu dengan ngobrol saja, kayak ada yang kurang," jawab Jiwo sambil senyum senyum sendiri.


"Bilang aja lagi pengin, pake muter muter tanya ini itu segala, Huu ..." sungut Alena.


Jiwo semakin terkekeh mendengar ucapan Alena. Namun setelah suara tawanya berhenti, dia melayangkan kecupan beberapa kali dipundak dan leher Alena hingga nafas wanita itu sejenak merasa sesak dengan desiran hebat yang baru dia rasakan.


"Dek, kalau boleh? Aku malam ini mau melakukannya, kamu mau?"


"Yang lain nanti gimana? Aku takut mereka ada yang iri, Mister."


"Ya kalau nanti mereka semua mau disentuh, ya aku akan menyentuh mereka semua. Tenang aja, aku akan selalu belajar untuk adil."


"Emang Mister kuat melawan semuanya?"


"Hahaha ... eh jangan salah. Butuh bukti?"


Dan malam ini kembali menjadi malam yang panjang bagi Jiwo dengan salah satu istrinya. Malam ini juga untuk ketiga kalinya, Jiwo berhasil menembus dinding penghalang dari kehormatan seorang wanita.


"Sakit," rintih Alena beberapa detik setelah darah keluar dari dalam lubang nikmatnya.


"Tahan ya, Sayang. Sakitnya cuma sebentar saja kok," jawab Jiwo sambil terus menggerakan pinggangnya maju mundur secara pelan. Jiwo juga melayangkan ciumnya bertubi tubi serta sentuhan dan pijatan di dada Alena agar sakit yang dirasakan sang istri sedikit teralihkan.


Tak butuh waktu lama, rasa sakit itu sekarang sudah berubah. Rintihan Alena lebih terdengar ke arah rintihan menikmati, tidak seperti beberapa saat yang lalu. Jiwo pun tersenyum senang. Perhalan tapi pasti, gerakan maju mundur pingang Jiwo semakin cepat dilakukan.


Beberapa puluh menit kemudian permainanpun mencapai puncaknya. Badan Jiwo menegang dan bergetar hebat setelah dua kali membuat Alena merasakan nikmatnya puncak kenikmatan. Benda menegangnya mengeluarkan beberapa kali semburan air putih nan kental di dalam lubang Alena. Tubuh Jiwo ambruk dengan keringat membanjiri tubuhnya.


Begitu juga dengan Alena, meski rasa sakit masih terasa di bawah perutnya, tapi semua itu tersamarkan dengan rasa nikmat yang baru saja dia rasakan untuk pertama kali. Rasa nikmat dari sentuhan laki laki yang sebut suami.


Kini, Alena yang merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami. Dia tidak peduli dengan bau asam yang keluar dari tubuh Jiwo. Bahkan dia sepertinya juga menikmati aroma asam itu.


"Mister," panggil Alena lembut. Kini deru nafas mereka sudah normal kembali.


"Iya, Sayang. Ada apa?"


"Enak."


Jiwo terkekeh mendengar kejujuran istrinya. "Lubangnya masih sakit nggak?"


"Agak nyeri."


"Sini aku pijat. Kamu duduk, Sayang."


Alena menurutinya, dia duduk dihadapan wajah Jiwo dengan kedua kaki terbuka seperti hendak melahirkan. Tangan Jiwo bergerak ke arah lubang nikmat putih berbulu tipis dan rapi. Ditatapnya pemandangan indah itu dan dipijatnya pelan pelan lubang yang baru saja kehilangan mahkotanya.


"Mister."


"Iya, Sayang?"


"Nanti lagi ya?"


"Siap!"


Jiwo tersenyum lebar sambil terus memijat benda indah idaman para pria termasuk dirinya.


...@@@@@...