
Waktu terus merangkak maju. Hujan yang deras, kini telah berhenti, menyisakan rasa dingin yang menusuk kulit. Suara merdu dari arah masjid menandakan kalau subuh kini sudah menjelang. Dari alunan indah yang menggema di udara itu, membuat seorang wanita terbangun dari tidurnya. Wanita itu mengeluarkan suara khas orang bangun tidur dan mulai membuka matanya.
Wanita bernama Andin itu mengulas senyum disisa rasa kantuknya. Dia tidak menyangka dalam lelapnya, tangan kirinya masih menggenggam benda yang menegang di bawah perut suaminya. Dalam benak Andin bertanya, apa benda itu menegang semalaman? Karena hingga Andin terbangun, benda itu bentuknya masih sama.
Andin bangkit dan duduk di sebelah tubuh suaminya. Dipandanginya wajah terlelap sang suami yang masih terpejam. Hingga entah dapat keberanian darimana, Andin mencondongkan kepalanya ke arah wajah suami dan mendaratkan bibirnya di pipi Jiwo dengan penuh perasaan. Setelah itu, Andin menyelimuti tubuh polos suaminya, lalu dia segera beranjak keluar kamar.
Tak lama kemudian, Jiwo pun terlihat mulai sadar dari lelapnya. Bukannya langsung bangun, dia memilih semakin merapatkan selimutnya. Jiwo sadar, istrinya sudah tidak ada disisinya. Jiwo mencoba memejamkan matanya kembali, tapi tidak bisa. Mungkin karena semalam dia tidur lumayan awal, jadi rasa kantuk benar benar habis tak tersisa di pagi ini. Mau tidak mau Jiwo bangkit dan memakai sarung dan kaosnya, lalu dia beranjak keluar kamar.
Di lihatnya para istri yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing. Emak juga ada diantara mereka, sedang sibuk mempersiapkan barang dagangannya.
"Tumben jam segini sudah bangun, Wo? Mau subuhan?" tanya Emak sedikit meledek.
Jiwo langsung cengengesan sambil duduk di kursi yang ada di sana. Emak sebenarnya heran dengan anaknya yang satu ini. Kalau lagi rajin ibadah, rajin banget. Tapi sekalinya malas, malah keterusan. Emak sering menasehati, tapi ya begitulah adanya. Kadang nurut kadang cuma iya iya doang.
"Subuh dulu, Mister, sana!" perintah Aisyah yang kebetulan berada di dekat Jiwo.
"Iya, Sayang, bentar," balas Jiwo beralasan.
"Cepat, Mister, nanti keburu waktunya habis," balas Aisyah sedikit memaksa.
"Iya, Mister, waktunya pendek loh," timpal Arin yang sedang berdiri di dekat Emak.
"Ayo, Mister, buruan!" istri istri yang lain ikut bersuara.
"Astaga! Aku dikeroyok, iya, iya," balas Jiwo agak ketus, tapi hatinya menghangat diperlakukan seperti itu oleh istri istrinya. Jiwo segera saja beranjak ke kamar mandi meninggalkan istri istrinya yang tersenyum lebar dengan kemenangannya memaksa suami.
Beberapa menit berlalu Jiwo sudah selesai dengan kewajibannya. Dia keluar kamar menuju ruang tamu yang tidak ada kursinya untuk kembali mengecek barang dagangan. Jiwo akan memilih barang dagangan yang akan dibawa hari ini dan yang tetap tersimpan.
Salah satu istrinya menyusul Jiwo sambil membawa secangkir kopi dan sepiring pisang goreng yang Jiwo minta tadi, begitu keluar dari kamar. Tak lama setelah itu, Emak dan tiga orang istrinya pamit pergi ke pasar. Di depan rumah sudah ada ojeg langganan yang mengangkut dagangan Emak sekalian Emak ikut. Tiga istrinya memilih jalan kaki sebentar lalu naik angkot.
"Nggak lah, masih dingin," jawab Jiwo dengan tersenyum lebar.
"Kan bisa bilang sama kita, minta dibikinin air hangat," balas Alifa.
"Nggak lah, nanti aja kalau mau berangkat jualan," balas Jiwo sembari meraih cangkir kopi dan menyeruput isinya sedikit. "Di belakang sedang masak apa?"
"hati ayam cabe hijau sama bikin mendoan, kenapa? Mister pengin makan yang lain?"
"Nggak usah, yang ada aja."
Alifa nampak mengangguk, lalu dia membantu Jiwo memilih barang sesuai petunjuk sang suami. Bukan hanya Alifa saja yang membantu, beberapa istrinya yang telah selesai menunaikan pekerjaannya juga ikut bergabung dan membantunya.
Tanpa terasa, waktu kini beranjak siang. Jiwo sudah berangkat di temani Adiba. Sedangkan di rumah, istri istri Jiwo kembali belajar menghafal harga harga dari jenis barang yang kembali mereka bongkar dari dalam karung.
Sementara itu, dari dalam kios sembako di deretan pertokoan yang letaknya di pintu utara jalan masuk area pasar, sepasang suami istri benar benar sedang meradang saat ini. Karena sudah beberapa hari, mereka didiamkan oleh orang tua yang menjabat sebagai lurah.
"Kenapa sih? Hanya gara gara persoalan minta maaf aja, dibesar besarkan?" gerutu Titin kesal.
"Kamu sih, pake cerita ke Ibumu segala, mana ceritanya nggak benar lagi. Lihat imbasnya," sungut Malik.
Titin semakin kesal dibuatnya. Malik selalu mengungkit kesalahannya tanpa menyadari kesalahan sendiri.
"Gara gara Jiwo, aku jadi yang susah," gumam Titin dalam hati.
...@@@@@@...