
"Asal kalian tahu, justru kami lah yang punya bukti kalau semua istri Jiwo itu bukan wanita baik baik!" ucap Malik dengan suara menggelegar.
Sontak saja semua yang mendengar ucapan Malik langsung terkejut tak percaya. Begitu juga dengan Emak. Sedangkan istri istri Jiwo berusaha keras mencerna apa yang sedang diucapkan orang yang sedang marah marah itu. Mereka memang belum sepenuhnya mengerti bahasa negara ini, makanya mereka terlihat seperti orang bingung.
"Apa maksudmu, Malik?" tanya Emak dengan dada yang bergemuruh sangat hebat, tapi dia tetap mencoba bersabar diri.
"Mereka itu wanita wanita yang berkelakuan buruk, Mak! Mereka suka menggoda pria pria beristri. Harusnya Emak itu nggak percaya begitu saja sama mereka!" ucap Malik lantang sambil menunjuk istri istri Jiwo yang bergerombol bersama Emak.
"Kamu tahu dari mana, Lik?" tanya salah satu warga.
"Yang jelas dari orang yang kenal sama mereka lah. Kalian tahu? Mereka itu sebenarnya sedang dicari oleh orang yang akan membawa mereka kembali ke tempat asal mereka!" balas Malik berapi api. Bahkan sesekali senyum sinis dan mengejek tersungging dari bibir pria itu. "Harusnya kalian tuh selidiki dulu wanita wanita itu. Bukan malah langsung menolongnya. Yah, walaupun aku tahu, Jiwo kan orangnya sok pahlawan dan sok baik."
Selain Darmi dan Titin, semua yang ada disana dibuat heran dengan ucapan anak Pak Lurah tersebut. Dalam benak mereka bertanya tanya, siapa orang yang dimaksud Malik itu?
Emak hanya bisa menahan emosi juga heran dengan ucapan Malik. Emak tahu banget, bencinya pria itu kepada putranya seperti apa. Hanya gara gara dulu Jiwo dan Emak tidak merestui hubungan adiknya Jiwo dengan Malik, menjadikan alasan Malik untuk membenci dan selalu berusaha menjatuhkan Jiwo. Maka itu, meski Emak terkejut dengan tuduhan Malik dan Darmi, Emak memilih menahan amarahnya. Melawan amarah orang orang itu juga percuma. Emak sudah tua, tidak mau menambah penyakit.
"Mending kita masuk, tidak perlu menanggapi orang orang seperti mereka," ucap Emak pada para menantunya sambil berbalik badan dan melenggang menuju ke dalam rumah.
Malik, Titin dan Darmi langsung membelalak melihat sikap Emak yang memilih masuk ke dalam rumah bersama istri istri Jiwo.
"Tuh, liat, tetangga kalian! Anaknya salah bukannya minta maaf, malah seenaknya main masuk rumah aja. Nggak ada tanggung jawabnya sama sekali," ucap Darmi sarkas.
Emak yang langkah kakinya baru sampai pintu lantas kembali berbalik badan, "Dengar ya Darmi, aku tuh sudah males ngeladenin sikap kamu itu. Dari dulu kok ya kerjaannya ngrurusin anakku mulu, apa nggak capek? Kamu mau Jiwo minta maaf? Baik nanti aku sampaikan."
"Lah terus mau kamu apa? Tadi katanya bukannya minta maaf malah masuk, sekarang nggak sudi memaafkan. Ya mending aku masuk, kan? Daripada ngladenin kalian yang nggak bakalan tahu kapan selesainya. Aku udah pasrah, Darmi. Kamu mau jelek jelekkin anakku ke semua warga ya silakan. Nggak ada untungnya buat aku," balas Emak dengan menahan sabar tingkat tinggi. Lalu Emak segera masuk dan menyuruh semua menantunya juga masuk.
"Benar kata Emak, Bu Darmi. Ngurusin kalian itu nggak akan pernah ada ujungnya," salah satu warga ikut berkomentar dan disahut oleh warga yang ada di sana. Dan para warga juga langsung membubarkan diri.
Darmi pun dibuat semakin kesal. Amarahnya kian memuncak mendengar tanggapan warga yang sama sekali tidak berada dipihaknya. Darmi emosi, dia memungut batu yang lumayan besar dan melemparkannya ke arah jendela kaca.
Prang!
"Astaga! Bu Darmi udah gila apa?" umpat beberapa warga yang masih sempat melihat aksi Darmi yang sudah di luar batas. Tapi wanita itu tak peduli dengan umpatan para warga. Dia segera pergi meninggalkan halaman rumah Jiwo dengan amarah yang masih membara.
Sedangkan Titin dan Malik juga nampak syok dengan sikap Darmi. mereka yang tadinya mendukung aksi orang tuanya, justru jadi merasa tak enak hati dengan sikap Darmi. Mereka bahkan segera saja pergi tanpa mempedulikan cibiran warga yang mengumpat kelakuan mereka.
Di dalam rumah, Emak dan istri istri Jiwo juga sangat terkejut mendengar kaca rumahnya pecah. Ingin rasanya Emak meluapkan amarahnya juga tapi dia sadar, masalah tidak akan selesai kalau kalau keadaan emosi. Emak memilih duduk di ruang tengah memilih menahan diri.
Beberapa saat setelah keadaan sudah tenang, istri istri Jiwo langsung gerak cepat membersihkan pecahan kaca yang tersebar di ruang tamu dan teras rumah.
"Ini, apa yang terjadi?" tanya Jiwo begitu dia pulang dan melihat kaca jendelanya sudah tidak ada.
...@@@@@...