
Seperti yang sudah direncanakan, hari ini semua istri Jiwo akan menghadiri hajatan di tempat saudaranya. Jiwo sengaja membawa semua istrinya untuk membungkam mulut saudaranya yang selalu mencibir dirinya yang belum menikah jika keluarga besar sedang berkumpul. Meskipun katanya hanya bercanda tapi nyatanya pertanyaan kapan nikah menjadi pertanyaan yang sangat menyebalkan.
Itulah alasan kenapa Jiwo bilang agar bisa pamer. Nyatanya dia ingin perbuktikan kepada saudaranya kalau dia bukan hanya menikah dengan satu wanita saja, tapi tiga belas. Dan yang membuat Jiwo tambah unggul, wajah para istrinya cantik dengan badan yang aduhai. Kalau saudaranya masih ada yang nyinyir, sudah dipastikan saudara itu punya penyakit hati.
Tapi ya namanya hidup, sejelek jeleknya seorang saudara, mereka tetap anggota keluarga kita yang pastinya akan kita butuhkan juga kehadirannya. Jiwo juga sengaja membawa ketiga belas istrinya agar mereka mengenal siapa siapa saja saudara Jiwo.
Seperti biasa, dengan mengandalkan mobil sewaan Jiwo mendatangi pernikahan saudaranya yang letaknya di desa sebelah yang letaknya agak jauh. Hampir menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka pun sampai di tempat tujuan.
Tentu saja, kehadiran Jiwo menjadi pusat perhatian para tamu yang hadir disana. Apa lagi Jiwo datang saat acara akad sudah selesai, tinggal acara resepsi saja. Hampir semua mata tertuju pada pria yang sempat viral beberapa waktu lalu.
"Wah! Selamat ya, Zal. Akhirnya nikah juga," ucap Jiwo kepada mempelai pria di atas pelaminan.
"Makasih, Mas. Aku juga ngucapin selamat, Mas Jiwo juga udah nikah. Maaf nggak sempat datang di acara kamu, Mas. Nggak ada kabar," balas Rizal.
"Nggak apa apa, namanya juga mendadak, jadi nggak sempat ngasih kabar seluruh keluarga."
Para istri Jiwo juga ikut memberikan selamat kepada dua mempelai yang sedang berbahagia, lalu mereka mengikuti suami mereka yang akan mengenalkan mereka ke keluaga Jiwo.
"Mas Jiwo!" seru seorang pria ketika Jiwo hendak menemui keluarganya.
Jiwo yang merasa terpanggil lantas menoleh. "Eh, Jamal, Iqbal. Apa kabar? Wahh! Sekarang kalian udah jadi CEO ya? Tampilannya beda, makin tampan kalian?"
"Apaann sih, Mas. Perusahaan milik mertua juga, " Iqbal yang menjawab. "Keren ya, Mas. Istrinya di bawa semua?"
"Kalau diajak salah satu, takutnya dibilang nggak adil gimana?" balas Jiwo.
"wah iya yah."
"Ya udah, aku kesana dulu yah?" pamit Jiwo menuju ke tempat keluarganya.
"Oh iya, Mas."
"Wah! Keren kamu, Wo! Sekalinya nikah langsung sama tiga belas cewek, sialan!" ucap salah satu saudara Jiwo.
"Kok sialan? Kamu iri ya?" ledek yang lainnya.
"Wajarlah kalau iri, aku satu aja dapatnya susah, lah dia mudah banget dapat tiga belas, mana bening bening lagi."
Jiwo hanya cengengesan melihat perdebatan kecil anggota keluarganya. Terdengar seru jika sedang berkumpul. Apa lagi mereka memang jarang sekali bertemu dan berkumpul jadi satu. Hanya ada acara keluarga bisa membuat mereka berkumpul dan menjalin silatuhrahmi.
"Eh istrinya Rizal namanya siapa sih? Tadi aku lupa nggak nyebutin namanya saat bersalaman," tanya Jiwo mengalihkan pembicaraan saudaranya yag sedari tadi membahas tentang dirinya terus.
"Miranda, cantik yah?" jawab saudara Jiwo.
"Ya cantik, namanya juga cewek," balas saudara yang lain. "Kalau cowok terlihat cantik, baru boleh dipertanyakan."
Jiwo hanya bisa tersenyum lebar. Selalu saja ada keseruan jika sedang berkumpul bersama. Meski kadang ada juga nyinyiran, tapi tidak menghilangkan rasa kekeluargaan yang ada.
Selang beberapa jam kemudian, acara pernikahan pun selesai. Jiwo langsung meluncur pulang begitu keadan mulai sepi. Dan saat ini mereka telah sampai di kediamnnya dengan rasa lelah.
"Iya, musik dangdutnya juga enak enak ya?" balas yang lainnya. Di saat bersamaan, Emak keluar dengan wajah agak lesu.
"Emak kenapa? Sakit?" tanya Jiwo mendadak khawatir.
"Bayu baru aja ngasih kabar katanya hari ini istrinya mau melahirkan," balas Emak.
"Loh? Katanya dua minggu lagi?"
"Ya kalau menurut perhitungan dokter, tapi kan bisa saja mundur atau maju."
"Jadi gimana? Emak mau kesana?"
"Ya iyalah, kasian kalau nggak ada yang bantuin."
"Ya udah, besok aku antar."
"Ya udah, Emak mau ngasih kabar sama Paman dulu, kali aja paman kamu atau bi Siti mau ikut."
Jiwo lantas mengiyakan. Emak segera beranjak keluar rumah menuju rumah sang paman.
"Kita nggak ikut jenguk kakak ipar Mister?"
"Jangan dulu, nanti aja kalau udah empat puluh hari atau pas mau belanja, kita kesana."
"Wah! Pasti senang banget ya punya anak. Duh jadi nggak sabar pengin cepat punya anak juga."
"Sama, aku juga. Kira kira benih Mister yang keluar di dalam rahimku, ada yang jadi nggak ya?"
"Ya semoga ada lah, Rum, secara tiap kali Mister muncrat, sepertinya banyak banget benih yang keluar, mana kental banget lagi."
"Eh tapi kan kita nikah aja baru dua bulan, apa bisa kita hamil dengan cepat,?"
"Ya bisa saja kalau Tuhan menghendaki."
"Tapi sepertinya kita harus usaha lebih keras lagi."
"Benar banget, kita harus semaksimal mungkin memberi pelayanan pada suami kita agar dia lebih maksimal lagi menebar benih di dalam rahim kita."
"Setuju!"
Jiwo hanya menggelengkan kepala beberapa kali saat melihat kekompakkan istri istrinya.
"Astaga! Kalau soal ranjang, istri istriku kompaknya bukan main."
...@@@@@@...