
Pagi ini terlihat ada yang berbeda dengan pagi kemarin. Meski dinginnya masih sama akibat sisa hujan yang semalam turun, tapi tidak melunturkan semangat orang orang yang akan menjalankan aktifitasnya pada hari ini. Begitu juga dengan sekumpulan wanita cantik yang ada di salah satu rumah warga.
Pagi ini istri istri Jiwo semangat berkali lipat dari biasanya karena hari ini adalah hari pertama mereka jualan di pasar. Meski tidak semuanya ikut jualan, tapi tetap mereka sangat antusias menyambut hari ini.
Di saat para istrinya sedang bersemangat mengerjakan aktitas pagi, satu satunya pria di rumah itu justru nampak baru membuka matanya. Jam di dinding sudah menunjukan pukul enam pagi kurang beberapa menit. Pria bernama Jiwo itu langsung bangkit dan menyingkap selimutnya serta memungut sarung dan kaos yang tergeletak di lantai. Setelah memakainya, Jiwo berjalan gontai keluar kamar.
Melihat suaminya baru bangun tidur, para istri hanya menatapnya sembari mengulas senyum lalu kembali mengerjakan apa yang sedang mereka lakukan. Yang paling sibuk tiap pagi itu adalah bagian memasak, sedangkan pekerjaan yang lain nampak santai.
"Mister kenapa malah duduk disitu? Langsung mandi sana loh," omel Alena begitu melihat Jiwo duduk di atas dipan yang ada di dapur.
"Bentar dulu, nyawanya belum kumpul," jawab Jiwo beralasan. "Kalian masak apa sih?"
"Nah itu! Orang kelihatan dihadapan Mister, malah pake tanya," balas Alena lagi.
Jiwo malah terkekeh melihat Alena yang sedikit galak. Rasa ingin menggoda langsung muncul dalam diri Jiwo. "Kenapa galak banget sih, Dek? Lagi pengin ya?"
"Pengin? Pengin apa?" tanya Alena. Wajahnya mendadak bingung dengan pertanyaan suaminya.
"Pengin malam pertama kayak yang lain," ucap Jiwo sambil cengengesan. "Kamu kan belum pertama?"
Alena langsung terkesiap lalu dia mendengus. "Apaan sih? Udah sana mandi! jorok."
Jiwo bangkit sembari terkekeh, lalu dia baranjak ke kamar mandi. Sedangkan yang lain hanya ikut tersenyum tanpa mau mengeluarkan suaranya.
Waktu terus bergerak maju menuju siang. Waktu kini sudah menunjukkan pukul sembilan. Jiwo juga saat ini sudah berada di pasar guna membantu istrinya jualan. Hari ini yang pertama jualan adalah Andin dan Alina. Nanti siang sekitar pukul dua belas, gantian Adiba dan Alana. Entah kapan semua diatur, Jiwo saja tidak tahu akan hal itu.
"Kok belum ada yang beli ya?" keluh Alina. Sejak buka tadi pulul delapan, memang tidak ada satupun pengunjung pasar yang mendekat.
"Ya sabar, Sayang. Namanya juga baru buka. Orang belum banyak yang tahu. Semua itu ada prosesnya," ucap Jiwo mencoba bijak dalam menanggapi kegundahan istrinya.
"Benar kata Mister! Ibaratnya kita tuh sekarang sedang perkenalan. Wajar jika orang hanya melirik pas lewat sini," sambung Andin lalu dia menatap ke arah suaminya."Mister, kenapa nggak di kasih tulisan kayak gitu?"
Jiwo menoleh ke arah yang ditunjuk Andin. Di lapak lain yang tak jauh dari lapak mereka, ada tulisan harga yang menggantung diatas beberapa barang. "Ah iya, aku nggak kepikiran kemarin. Ya udah nanti pas pulang jam dua belas aku mampir dulu bikin yang seperti itu."
Di saat semua mata sedang fokus dengan apa yang mereka lihat, telinga mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu dan memberi salam. Sontak saja semuanya terperanjat.
"Sepertinya ada tamu?" ucap Adiba.
"Iya, ada tamu, coba di cek," balas Alifa.
"Kamu aja ngecek, kali aja tamu penting," ucap Adiba lagi.
"Ish ... Kalau ternyata itu penjahat gimana?" ucap Anum.
"Daripada berdebat, mending kita lihat bareng bareng," ucap Aisyah dan semuanya setuju. Mereka segera ke ruang tamu dan mengintip sejenak dari kaca.
"Sepertinya ada Pak Lurah dan Pak Rt," ucap Aisyah lagi.
"Pak Lurah? Ada perlu apa yah?" ucap Arin.
"Udah buka aja, nggak enak mereka nungguin," kata Adiba. Anum yang paling dekat dengan gagang pintu, langsung membukanya.
"Eh ada Pak Lurah dan Pak Rt, mari masuk," ucap Anum ramah. Sebenarnya bukan hanya Pak Lurah dan Rt yang datang, tapi ada dua tamu lagi yang sepertinya ikut dengan Lurah dan Rt.
"Jiwonya ada?" tanya Pak lurah begitu dia telah duduk di kursi tamu.
"Jiwonya lagi di pasar, Pak. Bapak ada perlu?" balas Aisyah.
"Iya, saya ada perlu sama Jiwo," balas Pak Lurah. "Oh iya, ini perkenalkan, mereka berdua adalah orang dari kantor kedutaan negara kalian."
"Apa!"
...@@@@@...