MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Alasan Membatalkan Perjanjian


"Ya ampun, Mister udah malam banget! Sebentar lagi pagi itu!" pekik seorang istri saat melihat jam di dinding menunjukkan pukul dua belas malam lebih tiga puluh menit. Wajahnya sedikit panik mengingat dia harus bangun pagi dan juga sang suami juga harus jualan, tapi sampai lewat tengah malam mata suami istri itu belum terpejam.


Bagaimana mungkin mata mereka akan terpejam jika menit itu juga mereka baru menuntaskan hubungan panas dan penuh hasrat sebagai suami istri. Bahkan keringat di tubuh keduanya masih membasahi hampir setiap sisi kulit mereka. Namun deru nafas mereka sudah mulai normal kembali saat itu.


Sang suami hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dia malah semakin erat menempelkan tubuhnya pada sang istri. Selain senyum karena tingkah istrinya, pria yang akrab dipanggil Jiwo itu tersenyum karena merasa sangat bahagia.


Jiwo begitu bahagia karena malam ini dia berhasil lagi membohol pertahanan salah satu istrinya. Pertahanan yang lebih dikenal dengan nama mahkota wanita, berhasil Jiwo robek dan koyak dengan senjata andalannya yang menurut para istri besar dan gagah. Setelah perjuangannya merayu dengan penuh kelembutan dan rasa sayang, akhirnya sang istri luluh dan pasrah bahkan sangat bahagia saat menyerahkan kehormatannnya kepada sang suami.


Meski bilangnya istirahat, nyatanya, tangan Jiwo tidak berhenti menjelajah bagian bagain penting tubuh istrinya. Bahkan saat ini telapak tangan Jiwo yang kekar sedang memijat lubang yang baru saja memberi Jiwo rasa nikmat yang luar biasa. Entah kenapa Jiwo jadi senang bermain lubang milik wanita, tiap habis berhubungan, pasti dia akan menempatkan tangannya untuk bermain di bawah perut istrinya.


"Mister mending kita tidur, yuk? Biar besok nggak kesiangan," ajak Adiba.


"Nggak lah, besok libur lagi aja," balas Jiwo sambil sesekali menyesap pucuk dada istrinya yang lumayan besar. Jiwo benar benar seperti bayi yang sedang kehausan.


Loh, kenapa libur lagi? Baru juga jualan satu hari?" tanya Adiba heran.


"Besok mau ke kantor polisi, mau nyari info tentang penjahat tadi siang, dan sekalian mau ngecek pesananku buat tambahan lapak nanti," balas Jiwo. Setiap selesai mengeluarkan suara, mulutnya langsung mendarat di salah satu pucuk bukit kembar istrinya.


Adiba hanya ber'oh' saja, lalu dia terdiam sembari menikmati perlakuan Jiwo pada tubuhnya. Melihat Jiwo bertindak seperti itu, membuat Adiba merasa bahagia luar biasa. Setidaknya Adiba merasa, dia bisa melayani suaminya dengan baik.


"Mister."


"Hum?"


"Sebenarnya yang di inginkan para penjahat itu apa yah? Kok nggak ada kapok kapoknya ngejar kita terus?"


"Yang pasti mereka menginginkan mahkota kalian. Apa lagi kamu dan yang lainnya cantik cantik banget. Bisa saja kalian sudah ditawar dengan harga yang mahal, makanya mereka tidak mau menyerah. Dan mungkin juga mereka berpikir kalau pernikahan kita itu pernikahan bohongan."


"Apa karena itu juga, Mister jadi membatalkan perjanjian tentang hubungan suami istri yang Mister jaga?"


Bibir Jiwo mengukir senyum, dan tangan kanannya semakin liar memainkan benda kembar milik Adiba dengan gemas. "Bisa saja itu salah satu alasannya. Bukankah berhubungan ranjang juga termasuk melindungi kalian? Apa lagi kalian juga kan yang sejak awal ingin melakukannya?"


"Tapi kan, para menjahat nggak tahu, kita masih suci apa nggak, Mister?"


"Nggak apa apa, yang penting kan tugas aku melindungi kalian."


Adiba kembali terdiam setelah kepalanya mengangguk beberapa kali. Dia sudah kehabisan pertanyaan. Padahal malam kini semakin larut, tapi rasa kantuk belum juga menghampiri mereka. Apa lagi hasrat keduanya kembali bergelora.


"Mister, aku tidur dulu yah? Takut besok kesiangan? Nggak enak sama yang lain," ucap Adiba setelah beberapa menit terdiam. Tiba tiba Adiba teringat dengan kegiatan pagi yang sering dia lakukan bersama istri isyri Jiwo yang lain.


Jiwo yang hasratnya sudah meninggi tentu saja menolaknya. Dia tahu kalau sang istri juga ingin melakukannya lagi, maka itu Jiwo bangkit dan meraih ponselnya. Jiwo terlihat sedang mengetik pesan kemudian beberapa saat kemudian dia langsung mengirimnya.


"Sudah beres, nggak perlu mengkhawatirkan esok hari," ucap Jiwo sembari meletakan kembali ponselnya di atas lantai.


"Loh? Kok bisa?" tanya Adiba dengan kening berkerut.


"Aku sudah ngirim pesan, kamu besok bangun siang," balas Jiwo dan langsung menyerang tubuh atas Adiba dengan ciuman bertubi tubi. Adiba yang hentak bertanya lagi, seketika mengurungkan niatnya dan pasrah dengan apa yang Jiwo lakukan. Ronde kedua segera di mulai.


...@@@@@...