MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Setelah Pesta Usai


Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi lebih tiga puluh menit. Di dalam kamar seorang pria sedang menyesap batang rokok sembari menatap dua wanita yang telah terlelap sejak beberapa menit yang lalu, di atas kasur dengan tubuh tanpa menggunakan pakaian. Bibir pria itu tersenyum, tangannya bergerak merapikan selimut yang digunakan dua istrinya yang telah melorot ke bawah.


Pikiran pria itu menerawang dengan kejadian yang baru saja dia lalui. Sungguh diluar dugaan, sebuah pesta ulang tahun yang tidak biasa, baru saja dia lakukan bersama tiga belas istri sahnya. Sebuah ide gila dari para istri demi menyenangkan hati suami di hari spesialnya.


Satu pria melawan tiga belas wanita dalam satu malam. Pria itu berpikir adegan itu hanya ada dalam film dewasa yang kadang pria itu tonton. Namun nyatanya, adegan itu bukan hanya terjadi dalam film saja, tapi juga terjadi dalam hidupnya dan pria itu baru saja melakukannya.


Meskipun terlihat lebih merepotkan, tapi pria itu mampu menikmati semua lubang dalam satu waktu. Walapun satu lubang di jatah sekitar satu menit karena harus bergiliran, tapi pria bernama Jiwo itu sukses memasuki semua lubang hingga hampir memakan waktu dua jam. Selama bermain, Jiwo pun diperlakukan secara spesial. Jiwo hanya disuruh duduk bersandar dan para istri yang bergantian duduk dipangkuan Jiwo.


Setelah rokok habis dan rasa kantuk datang, Jiwo mulai merebahkan tubuhnya diantara tubuh para istri. Sebelum terlelap, Jiwo mengecup pipi dua istrinya dan berbisik mengucapkan kata terima kasih. Hingga beberapa menit kemudian mata Jiwo terpejam melepas lelah.


Hingga hari berganti dan kini menjelang siang.


"Jiwo belum bangun?" tanya Emak dengan wajah herannya.


"Belum, Mak," jawab salah satu istrinya.


"Astaga! sudah hampir jam sepuluh ini loh? Kenapa nggak dibangunin?"


"Udah, Mak. Udah dua kali malah, semalam katanya dia nggak bisa tidur. Itu aja Mister baru tidur pukul empat pagi."


Emak pun tak protes lagi setelah mendengar penjelasan dari memantunya. Lalu Emak pun melangkah hendak pergi.


"Emak mau ke rumah paman?"


"Iya, abisnya bingung kalau di rumah. Nggak ada kerjaan."


"Aku ikut lah, Mak. Pengin lihat usaha krupuk Paman kayak gimana."


"Ya ayok."


Aku juga ikut dong."


"Aku juga."


"Astaga, Mister! Kenapa nggak pakai sarung sih?"


Dengan langkah gontai, Jiwo merebahkan badannya di atas kasur lantai dengan posisi tengkurap. "Males, gerah," jawab Jiwo santai dengan suara agak berat khas bangun tidur.


"Untung Emak pergi. Coba kalau Emak ada di rumah, mana berani Mister keluar kamar polosan gitu."


Jiwo tersenyum tipis. " Ya karena tadi aku mendengar Emak pergi makanya aku kayak gini. Emangnya kalian saja yang bisa bikin kejutan."


"Astaga!" Para istri Jiwo hanya menggelengkan kepalanya. "Mister kapan mau belanja dagangan lagi? Sayang loh keseringen libur? Nanti pelanggan pada kabur."


Sebelum menjawab, Jiwo menelantangkan badannya, lalu dia menarik tangan salah satu istrinya yang jaraknya paling dekat dan menyuruhnya untuk memijat benda di bawah perut Jiwo. "Rencananya, kan, hari ini aku belanja, tapi gagal. Jadi besok aja belanjanya."


"Oh iya, lupa. Ya maaf, Mister."


"Ngapain minta maaf? Orang nggak salah kok. Justru harusnya aku yang bilang terima kasih. Kalian benar benar bekerja keras untuk membahagiakan aku. Sedangkan aku sendiri, belum berbuat banyak untuk kebahagiaan kalian."


"Kata siapa, Mister belum berbuat banyak? Justru Mister sudah melakukan banyak hal buat kami yang awalnya hanya orang asing. Coba kalau nggak ketemu Mister, bagaimana nasib kami saat ini."


"Iya, Mister. Kami tuh sangat bersyukur menjadi bagian dari hidup Mister. Di negara ini, tidak ada satu orangpun yang kami kenal. Kami juga tidak memiliki apapun selain baju yang melekat. Namun dengan tangan terbuka lebar, Mister menyambut kami, menolong kami dan memberi perlindungan pada kami. Itu adalah hal yang sangat berharga bagi kami, Mister."


Hati Jiwo seketika menghangat. Ada rasa haru mendengar kejujuran dari mulut istrinya. Rasa syukur kembali Jiwo panjatkan dalam hatinya.


"Hari ini kalian masak apa?" tanya Jiwo mengalihkan pembicaraan.


"Bikin nasi kuning, kata Emak, nasi kuning identik dengan perayaan. Ya udah berhubung hari ini Mister sedang ulang tahun ya kita bikin aja nasi kuning."


Jiwo kembali mengulas senyum. Disaat bersamaan, mereka mendengar ada suara bising dari luar rumah. Dua istri Jiwo beranjak menuju ruang tamu untuk melihat keadaan. Kening mereka berkerut saat mata mereka melihat sebuah Bis dan sebuah mobil terparkir diluar rumah. Tak lama setelah itu, mata kedua istri Jiwo membelalak ketika melihat orang orang yang turun dari dalam bis.


"Nggak mungkin! Ini pasti mimpi!"


...@@@@@...