
"Mampus kamu, Wo! Emang enak dihujat oleh seluruh rakyat! Hahaha ..."
"Postingannya tambahin lagi aja, Mas. Kata katanya lebih didramatisir lagi, biar makin banyak yang menghujat."
"Beres, tenang aja."
Sepasang suami istri saling tertawa penuh kedengkian. Mereka yang bernama Titin dan Malik, benar benar tidak ada jeranya sama sekali dalam mengusik ketenangan Jiwo. Setelah tidak punya muka dalam menghadapi Jiwo langsung, mereka menyerang Jiwo dengan membuat berita yang sangat menjatuhkan namanya pria beristri tiga belas itu.
Karena ulah Malik dan Titin, kini berita yang mereka buat, bukan hanya menuai hujatan bagi Jiwo, tapi membuat kisruh pemerintahan. Duta besar dari negara yang sama dengan istri Jiwo, merasa kecewa dan sangat menyayangkan sekali jika berita yang sedang beredar itu benar. Dia langsung mengerahkan beberapa pekerjanya untuk mengusut tuntas kebenaran berita tersebut.
Wajar jika berita yang beredar karena ulah Malik menjadi rame, sebab berita itu menyangkut hubungan dua negara dimana salah satu negara tersebut ada warganya yang sedang mencari perlindungan karena sebuah konflik. Sungguh sangat kejam jika ketiga belas wanita itu hanya diperalat dengan dalih melindungi mereka lewat pernikahan.
Karena berita itu melibatkan pemerintah, para wartawan dari berbagai jenis media, tentu saja tidak menyia siakan berita itu. Berapa tim wartawan lansung bergerak mencari infomasi.
"Ini ada apa sih? Kenapa di depan rumah makin rame dan banyak orang?" tanya salah satu istri Jiwo dari balik kaca hitam yang terpasang di ruang tamu. Istri istri Jiwo yang berada di dalam rumah benar benar dibuat terkejut dengan adanya orang orang itu.
"Apa mereka anak buahnya orang yang menculik kita?" tanya Aisyah.
"Sepertinya bukan," bantah Andin. "Lihat! Di leher mereka ada name tag. Mereka pasti karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan."
"Kalau mereka karyawan, terus kenapa mereka pada ngumpul di depan rumah kita?" timpal Alana.
"Lagian, lihat tuh! Ada beberapa orang yang membawa kamera, mereka seperti wartawan saja."
"Kalau nyatanya memang wartawan, gimana?"
"Tahu ah! Pusing aku!" ucap Andin.
"Kenapa kita nggak bukain pintu aja sih?"
"Jangan! Nanti kalau ada apa apa bagaimana? Mending kita kabari Mister coba?"
Semua nampak setuju dengan usulan Anisa. Salah satu dari mereka bergegas masuk ke ruang tengah untuk mengambil ponsel. Sedangkan tak jauh dari rumah mereka. Tepatnya di pertigaan jalan yang menuju rumah Jiwo, Emak dan tiga istrinya terlihat sedang berjalan kaki menuju rumahnya. Dilihat dari barang yang mereka bawa, sepertinya mereka terlihat baru saja pulang dari pasar.
"Mak, kok sepertinya banyak orang di depan rumah kita," ucap Aziza dengan tatapan lurus ke depan.
"Iya, Mak, mereka siapa?" tanya Alifa.
"Permisi, Bu? Apa benar ini rumah saudara Jiwo?" tanya salah seorang dari mereka. Sebelum ada yang menjawab, pertanyaan lainnya sudah terlempar kembali.
"Apakah anda ibunya Jiwo dan ini istri Jiwo yang pengungsi itu?"
"Maaf, Bu? Bisa dijelaskan tidak, kronologi mereka menikah?"
Dan masih banyak lagi pertanyaan terlontar dari orang orang yang ternyata adalah para wartawan. Emak dan tiga menantunya tentu saja sangat terkejut. Tanpa banyak bicara, Alifa langsung saja menarik Emak dan menyuruhnya agar berjalan lebih cepat lewat pintu samping. Sedangkan para wartawan mencoba menghalangi dan terus mencerca dengan berbagai pertanyaan.
"Kenapa di luar banyak wartawan sih?" tanya Alifa begitu mereka berhasil masuk ke dalam rumah.
"Nggak tahu, dari tadi sekitar pukul sepuluh, mereka berdatangan. Tadi mereka juga beberapa kali mengetuk pintu, tapi nggak kita bukain," balas Aisyah.
"Apa Mister sudah dikasih tahu? Terus yang di lapak gimana?"
"Mister sudah dikasih tahu, yang di lapak juga sudah. Sekarang aku yang bingung mau berangkat lewat mana?" jawab Aisyah lagi.
"Duh! Kok ada ada aja sih! Apa gara gara ketangkapnya oknum yang mau menjual kita, jadi mereka kesini untuk membuat berita?" tanya Arin.
"Kayaknya bukan deh, Rin," bantah Alifa. "Kamu tadi dengar sendiri kan, apa yang mereka tanyakan?" balas Alifa.
"Benar juga," balas Arin.
"Emang mereka tanya apa?" Alana bertanya. Alifa pun menjawab sama seperti yang dia ketahui. "Astaga! Kok ada ada aja ya?"
Sementara itu di kantor kabupaten.
"Siapkan jadwal buat besok! Kita kunjungi warga kita yang menikahi tiga belas wanita itu."
"Siap, Pak!"
...@@@@...
Jangan lupa, kunjungi cerita ini juga yuk