
Denger darimana kamu, berita itu?"
"Ya dari Ibu lah, Mas. Katanya kemarin sore rame banget tuh di depan rumah Jiwo."
Cih! Orang belagu ya kayak gitu. Nggak bakalan tenang hidupnya. Gaya gayaan nikahin tiga belas cewek, pasti yang ada masalah mulu yang Jiwo dapat," cibir seoang pria pada wanita dihadapannya. Pria itu sedang menikmati sepiring nasi beserta lauknya, sedangkan si wanita hanya sesekali minum es teh yang dia pesan dan menggigit gorengan yang tersaji di hadapannya.
"Apa mungkin istri istri Jiwo itu sebenarnya wanita wanita yang bermasalah? Kalau nggak bermasalah, nggak mungkin kan? Mereka hendak dibawa orang?" ucap si wanita kepada suaminya yang sedang asyik makan sendiri.
"Bisa jadi itu," timpal sang suami. Di saat dia hendak melanjutkan ucapannya, tiba tiba ada suara yang memotong pembicaraan sepasang suami istri tersebut.
"Mereka memang wanita wanita yang bermasalah," sepasang suami istri itu menoleh ke arah sumber suara dengan kening yang berkerut. Pria itu memasang senyum terbaiknya dan mendekat serta duduk di salah satu kursi yang ada disana. "Maaf, saya tadi mendengar kalian membicarakan tentang wanita asing yang menikah dengan penduduk sini bukan? Wanita itu adalah wanita yang sedang kami cari."
"Maksudnya?" tanya si wanita.
"Wanita wanita itu sebenarnya wanita bermasalah, saya dan rekan saya kemarin datang untuk menjemput mereka dan memulangkan mereka ke tempat asalnya. Tapi laki laki yang menjadi suaminya malah menghalangi niat baik kami. Mungkin laki laki itu sudah dipengaruhi pikirannya jadi dia percaya saja apa yang dikatakan wanita itu," terang pria itu dengan tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Emang wanita wanita itu bermasalah bagaimana?" tanya si wanita dengan jiwa penasaran yang lumayan tinggi.
"Ya kalian pasti tahu kan istilah wanita yang nggak benar. Itu lah aslinya mereka. Mungkin karena di sini mereka masih baru, jadi mereka harus berpura pura baik gitu. Tapi nanti setelah mereka beraksi, akan banyak rumah tangga yang hancur karena pesona dan daya pikat mereka."
"Hah! Serius mereka separah itu?"
"Loh? Masa iya aku harus bohong. Sekarang logika aja deh. Mereka wanita, pasti butuh harta, iyakan? Sedangkan laki laki yang menjadi suami mereka bukan laki laki kaya raya. Apa mereka mampu hidup kekuarangan selamanya. Ya mungkin sekarang mereka masih mau hidup susah, tapi kelak jika nafkah yang mereka terima kurang, kalian pasti tahulah apa yang akan terjadi."
"Ah benar! Mereka pasti akan menjerat laki laki lain untuk mendapatkan uang. Wahh! Mas, ini nggak bisa dibiarkan," ucap si wanita antusias kepada sang suami yang sedari tadi lebih banyak diam dan hanya menjadi pendengar bagi pria asing yang mendatangi mereka.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" tanya sang suami antara percaya atau tidak.
"Wah! Bener itu, lebih baik bawa mereka pergi jauh dari kampung kita, Mas. Kasian nanti bapak, di sisa masa jabatannya sebagai lurah akan tercoreng," timpal si wanita begitu antusias.
"Benar juga, kita tidak bisa membiarkan mereka terlalu lama berada di kampung kita," balas sang suami.
"Dan saya siap membantu membawa mereka pulang," sambung si pria dengan senyum yang begitu lebar.
Di sisi lain, pria yang sedang menjadi bahan gunjingan sedang duduk diatas rumput di bawah pohon mangga sambil memperhatikan sang istri yang sedang melayani dan mengawasi beberapa anak muda mengaduk aduk koleksi celana kolornya. Mereka mencari celana kolor yang bisa digunakan untuk seragam main bola.
"Larisan, Wo?" sebuah suara mengejutkan pria yang sedang melamun sambil menatap lurus ke arah dagangannya. Merasa ada yang menyapa, Jiwo lantas menoleh ke sumber suara.
"Eh, Zi. Kamu ngapain disini?" tanya Jiwo kepada sahabatnya, Ozi.
"Kirim barang, tuh!" tunjuk Ozi ke arah sebuah mobil box yang menyalurkan barang barang kebutuhan rumah tangga. "Sepertinya istrimu sangat menikmati ikut jualan dengan kamu, Wo."
"Yah, seperti yang kamu lihat, mereka malah bikin jadwal sendiri buat gantian ikut keliling," balas Jiwo sambil memandang ke arah istrinya.
"Hahhaha ... keren! Gimana rasanya punya banyak istri, Wo? Tiap malam pasti menyenangkan bukan?" tebak Ozi, Jiwo hanya mengulu senyum sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan Ozi. "Cih! cuma senyum doang? Jangan jangan, kamu belum menyentuh mereka, Wo?"
"Apaan sih, Zi. Hal kayak gitu pakai di omongin segala," protes Jiwo.
"Astaga! Ya nggak salah kan kita ngomong hal tabu kayak gini. Udah nikah ini. Jangan bilang kalau sebenarnya sampe detik ini kamu belum menyentuh mereka?"
...@@@@@...