MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Tak Tahu Malu


"Maaf ni, Pak Lurah, Bapak kesini memang ada perlu sama saya?"


"Ah iya, hampir lupa!" seru Pak Lurah sambil menepuk keningnya. "Apa anak saya udah kesini dan minta maaf sama kamu, Wo?"


Sejenak Jiwo tertegun, lalu dia tersenyum masam. "Bapak tanya langsung aja sama mereka," ucap Jiwo sambil menunjuk arah pintu yang terbuka.


Pak Lurah spontan langsung menoleh dan melihat tiga orang yang dia kenal berdiri mematung di depan pintu. Pak Lurah menghela nafasnya yang terasa berat. Entah apa yang ada dipikiran anak, menantu dan besannya saat ini. Bisa bisanya mereka terdiam di depan rumah orang.


Jiwo sendiri sebagai pemilik rumah merasa heran. Dia pikir tiga orang yang selalu membuat masalah dengannya sudah pulang, tapi mereka datang lagi dan menghentikan langkah kaki mereka di depan pintu. Maksudnya apa coba berbuat seperti itu?


Sedangkan Malik, Titin dan Darmi mau tidak mau memang harus kembali ke rumah Jiwo untuk menyelesaikan masalahnya. Semua itu mereka lakukan karena adanya Pak Lurah di rumah Jiwo. Mereka jelas tidak mau mendapat masalah dengan Pak Lurah jadi mereka terpaksa memilih kembali menemui Jiwo.


"Kenapa kalian malah berdiri disitu? Kalau nggak niat masuk mending pulang!" titah Pak Lurah dengan suara sedikit lantang karena menahan kesal dengan tingkah tiga orang itu. Dengan perasaan campur aduk Malik masuk terlebih dahulu, disusul Titin kemudian Darmi.


Jika bukan karena adanya Pak Lurah, Jiwo sebenarnya enggan menghadapi tiga orang biang masalah tersebut. Orang orang yang bermasalah dengan hati dan pikirannya sendiri dan selalu memandang hina orang lain memang paling enggan untuk dihadapi. Namun kali ini Jiwo terpaksa menerima mereka karena menghormati niat baik Pak Lurah yang memang terkenal adil dan bijaksana.


Sedangkan di ruang tengah, Emak dan para istri Jiwo memilih berdiam diri dan mendengarkan apa yang terjadi di ruang tamu. Emak sebenaranya ingin keluar dan menyambut kedatangan Pak Lurah. Tapi mendengar ada Darmi datang, Emak mengurungkan niatnya dan memilih duduk bersama para mantunya.


"Jadi mereka tadi kesini ngapain, Wo?" tanya Pak Lurah.


"Maaf, Pak. Pak Lurah tanya sendiri saja sama anak Bapak. Kalau aku yang cerita nanti malah kelihatan semakin salah dimata mereka," jawab Jiwo terkesan menyindir sampai ketiga orang itu memandang Jiwo dengan tatapan yang berbeda beda.


"Tadi kan kami mau minta maaf, tapi kamu malah main masuk rumah begitu saja," Titin mengeluarkan suaranya. Jelas sekali kalau dia menahan kesal.


Jiwo tersenyum masam mendengar ucapan Titin. "Kamu tuh memang pintar memutar balikkan fakta ya, Tin? Apa kamu tadi nggak dengar suami kamu ngomong apa saat baru datang?"


"Nah kan? Pasti memang kalian yang nggak ada niat baik. Kesini juga paling terpaksa karena ada saya disini, iya, kan?" terka Pak Lurah terdengar sangat kecewa dengan sikap anak, menantu dan besannya itu. "Mending kalian pulang saja sana. Benar benar bikin malu. Nggak anak, nggak mantu, nggak besan sama saja kelakuannya. Heran."


"Loh, kalian itu memang nggak bisa dibaik baikin ya?" balas Pak Rohim dengan tatapan tajam ke arah besannya. "Nggak perlu pake alasan mau menghormati saya, Bu Darmi. Justru sikap Bu Darmi yang membuat rasa hormat saya itu hilang."


"Pak Lurah tuh seharusnya ..."


"Diam!" bentak Jiwo hingga Darmi menghentikan ucapannya karena kaget. Begitu juga dengan yang lainnya. "Mending kalian pergi deh, pergi!"


Terpaksa Jiwo harus mengusir tiga orang tak tahu diri itu. Jika didiamkan, bisa saja akan ada keributan antara Pak Lurah dan Darmi. Jiwo tidak mau rumahnya malah jadi ajang keributan keluarga.


Melihat ketiganya malah terdiam, Jiwo langsung ambil tindakan. Didorongnya satu persatu orang tak tahu malu itu agar bangkit dari tempat duduk dan segera pergi dari rumahnya.


Pergi, kalian! Pergi! Pergi!" bentak Jiwo sambil terus mendorong tubuh ketiga orang itu hingga mau tidak mau mereka berdiri dan bergerak keluar rumah dengan dorongan tangan Jiwo yang bertubi tubi. "Pergi kalian!"


Brak!


Pintu di tutup dengan keras dan Jiwo kembali duduk sambil menstabilkan emosinya.


"Maaf ya, Wo. Malah jadi ribut di rumah kamu," sesal Pak Lurah merasa tak enak hati.


"Nggak apa apa, Pak Lurah. mereka aja yang nggak tahu diri."


Pak Lurah nampak manggut manggut membenarkan dengan penuh rasa malu.


"Benar benar harus dikasih pelajaran mereka bertiga!" gumam Pak Lurah.


...@@@@@@...