
"Jadi kalian cemburu? Hahaha ..."
Anum mendengus lalu dia bangkit dan bergabung dengan istri Jiwo yang lain, yang sedang duduk di depan televisi. Sedangkan Jiwo masih tersenyum lebar dengan suara tawa yang berangsur hilang sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali menatap istri istrinya yang sedang tidak bersahabat. Jiwo terlebih dahulu menghabiskan makanannya yang tinggal beberapa suap lagi sebelum memberi penjelasan yang sebenarnya.
Beberapa menit berlalu. Begitu makanannya telah habis, Jiwo beranjak dan mendaratkan pantatnya di atas kursi yang ada di ruang depan televisi. Sambil cengengesan, Jiwo menatap satu persatu wajah istrinya yang memasang wajah ketus, bahkan ada yang berpaling sambil bisik bisik.
Tiga istri yang tidak melihat kejadian langsung tingkah Jiwo di pasar tadi siang, ikutan memasang wajah ketus juga kepada suaminya. Padahal tiga istri Jiwo yang lain tadi ikut jualan Emak, tapi mungkin mereka telah mendengar dan terpengaruh oleh sepuluh istri Jiwo yang lain jadi mereka ikutan ketus juga.
"Apa kalian tidak ingat wanita itu siapa?" tanya Jiwo. Senyumnya masih samar samar terlihat dari bibir kehitamannya.
"Ingat," jawab Andin ketus.
"Siapa?"
"Wanita yang tadi senyum senyum dengan Mister. Kelihatan mesra banget, sampai istrinya dicuekin saking asyiknya ngobrol sama wanita itu."
"Astaga! Bukan seperti itu, Sayang," bantah Jiwo masih sambil cengengesan.
"Iya, padahal istrinya ada di hadapannya sedang sibuk, bukannya bantuin malah asyik ngobrol dengan wanita lain," sahut Aluna.
"Mana wanitanya duduk disebelahnya lagi, dan Mister malah nggak nolak," sambung Arin.
Jiwo semakin terperangah dan tawanya kembali pecah. "Astaga! Kenapa aku jadi dikeroyok begini? Hahaha ..."
"Tuh kan, ketawa, pasti lagi bahagia dan terbayang bayang dengan wajah wanita itu," sungut Alifa.
"Jangan jangan sebentar lagi, Mister mau nambah istri," selidik Arum.
"Hahaha ..."
Bukannya mereda, Jiwo malah semakin terpingkal mendengar tuduhan istrinya. Hati Jiwo benar benar menghangat saat ini. Kecemburuan istri istrinya sungguh seperti warna baru dalam hidup Jiwo. Mungkin karena sudah terlalu lama menjomblo dan dulu dia yang selalu merasa cemburu sendirian saat bersama Titin, jadi Jiwo merasa senang ketika para istri cemburu.
"Kalian tambah cantik tahu nggak kalau lagi cemburu gitu," goda Jiwo masih dengan senyum yang tak surut.
"Nggak usah merayu deh, ngggak mempan," ucap Aziza. "Lagian siapa juga yang cemburu. Kami nggak ada waktu buat cemburu."
Jiwo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mungkin ini yang namanya wanita selalu benar, dan Jiwo langsung disalahkan oleh tiga belas wanita sekaligus. Hanya rasa gemas yang keluar dalam diri Jiwo dengan sikap istrinya.
"Baiklah, baiklah ... aku yang salah oke, aku minta maaf, oke?" Tiga belas wanita itu hanya saling lirik tanpa mengeluarkan kata kata. Jiwo menghela nafasnya pelan lalu berkata, "Wanita itu namanya Vita, istrinya Fadil. Dia juga orang yang ikut merias wajah kalian saat kita mau nikah. Masa kalian tidak ingat?"
Lagi lagi para istri saling lirik, tapi kali ini pikiran mereka mengingat kejadian dimana mereka akan menikah beberapa hari yang lalu. Ada beberapa istri yang akhirnya mengingat wajah wanita itu hingga menimbulkan rasa malu. Mereka pun tersenyum tipis menyadari kesalahannya.
"Siapa yang cemburu?" sangkal Anum.
"Terus kalau bukan cemburu, tadi kenapa coba tiba tiba marah terus aku disidang seperti seorang tersangka?" cecar Jiwo.
"Astaga! Siapa yang marah? Kita tuh tadi cuma ngajak Mister ngobrol," balas Alana ikutan berkilah.
"Astaga!" Jiwo mengusap kasar wajahnya. Wanita memang paling pandai menghindar dari rasa salah. "Masa ngajak ngobrol pake nyalah nyalahin segala, mana nyindir nyindir lagi."
"Siapa yang nyalahin? Tadi kan kita ngajak ngobrol dari pada nggak melakukan apa apa," kilah Alina.
Jiwo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Jiwo kembali memilih mengalah. Dia tahu, melawan wanita dalam keadaan seperti ini, tidak akan bisa menang.
"Baiklah ... Sekarang aku tanya, apa Arum sudah cerita sama kalian?" tanya Jiwo mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Cerita apa, Mister?" Arum bertanya dengan wajah bingung.
"Yang semalam kita bahas, Sayang. Soal anak," balas Jiwo mengingatkan.
"Oh itu, kenapa, Mister? Mister sudah sangat ingin cepat punya anak apa?" tanya Aisyah.
"Karena aku memiliki istri, ya wajarkan kalau aku ingin punya anak?" Para istri kompak mengangguk. "Nanti aku yang buat aturan tidur bergilirnya gimana?"
"Kok di ubah?" tanya Aziza.
"Ya memang harus di ubah, seenggaknya ada usahanya kan? Apa kalian nggak ingin mempunyai anak bersamaku?"
"Ya bukan begitu, Mister. Kalau memang diubah, diubahnya bagaimana?"
"Nanti aku kasih tahu jika mahkota kalian udah hilang semuanya."
"Yah, kelamaan."
"Udah, jangan protes, yang penting aku bikin enak kalian."
"Dih!"
...@@@@@...