MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Menikmati Waktu


"Wah! Pantainya sangat indah!" seru istri istri Jiwo begitu mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah pantai yang cukup terkenal terletak di kabupaten tetangga. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam, Jiwo dan istri istrinya kini sudah berada di salah satu sisi pantai yang terlihat agak sepi.


Banyak mata yang memandang ke arah mereka. Mungkin dalam hati mereka mengira kalau Jiwo dan ketiga belas wanita yang bersamanya adalah saudara. Sendainya mereka tahu yang sebenarnya, mungkin akan lebih heboh tanggapan mereka.


Jiwo dan para istri memilih menggelar tikar di bawah dua pohon kelapa serta pohon lainnya. Tempat yang mereka pilih tidak terlalu ramai oleh pengunjung jadi mereka merasa tenang menikmati suasana.


"Kalian nggak ingin bermain air?" tanya Jiwo sambil mencomot tahu isi yang tersedia di hadapannya.


"Nggak lah, nggak bawa baju ganti, Mister," jawab Arin.


"Astaga! Udah tahu mau ke pantai kenapa malah nggak bawa baju ganti?"


"Nggak niat mandi, Mister. Paling nanti main air di tepian aja," balas Arin.


"Main sekarang aja, yuk?" ajak Aisyah.


"Yuk," sahut yang lain.


Akhirnya para istri pun kompak main air saat itu juga. Jiwo melepas kepergian para istrinya dengan senyum yang sangat lebar. Meski kadang merasa heran, tapi Jiwo sepertinya sangat menikmati setiap momen bersama semua istrinya.


Jiwo merasa bersyukur karena sampai detik ini, dia belum pernah mendengar ataupun menyaksikan istrinya bertengkar satu sama lain karena memiliki satu suami. Jiwo tahu betul kalau para istrinya itu menaruh hati padanya, tapi mereka mampu menahan rasa cemburu dan mungkin sakit hati demi menghindari perselisihan dan pertengkaran.


Meski Jiwo merasa senang memiliki banyak istri, kadang dalam hati Jiwo ada rasa takut juga. Jiwo hanya manusia yang minim tentang pengetahuan ilmu agama, tapi setidaknya dia tahu bagaimana harus bersikap jika memiliki banyak istri. Jiwo takut tidak bisa bersikap adil pada istri istrinya.


"Mister! Sini ikut main!" teriak salah satu istrinya. Jiwo hanya tersenyum lebar sembari menggeleng tanda menolak. Para istrinyapun hanya melempar senyum lalu melanjutkan bermain air dan pasir.


Setelah merasa puas bermain, para istri kembali ke tempat dimana Jiwo sedang duduk menyendiri. Jiwo menyambut mereka dengan senyuman lebar.


"Kurang puas, Mister, karena nggak mandi," jawab Alina.


"Kan aku udah bilang, kenapa nggak bawa baju ganti?" ucap Jiwo gemas. Para istri hanya tersenyum lebar hingga terkekeh. Kemudian obrolan mereka dilanjut sambil menikmati hidangan yang mereka bawa. Tak henti hentinya suara tawa menggema mewarnai kehangatan yang mereka ciptakan.


Tanpa terasa sudah hampir lima jam mereka menikmati suasana yang ada. Karena sudah merasa jenuh dan lelah, mereka memutuskan untuk pulang. Bahkan dalam perjalanan pulang, beberapa istri Jiwo nampak terlelap karena terbuai angin hingga menimbulkan rasa kantuk yang tidak tertahan.


Di tengah perjalanan, Jiwo berhenti sejenak di depan sebuah toko. Dengan mengajak salah satu istrinya, Jiwo memasuki toko oleh oleh khas kabupatennya yaitu gethuk goreng. Jiwo membeli dua keranjang gethuk untuk oleh oleh Emak dan para istrinya.


Tak lama kemudian, mobil pick up yang Jiwo kendarai sampai di halaman rumahnya. Mereka bergegas turun sambil membereskan barang bawaan mereka. Disaat bersamaan, Jiwo dikejutkan dengan datangnya tiga orang yang kemarin sempat membuat rusuh di rumahnya. Kening Jiwo berkerut karena tiga orang yang terdiri dari Ibu, nak dan menantu itu datang dengan kepala menunduk.


Mereka adalah Darmi, Titin dan Malik. Mungkin mereka sudah berpikir sangat keras dan akhirnya memilih salah satu pilihan yang sama beratnya bagi mereka, dan pilihan mereka membawa mereka melangkah ke rumah Jiwo.


Jiwo berdiri dan bersandar dibagian belakang mobil. Para istrinya sudah dia suruh masuk meski mereka tidak langsung masuk dan memilih melihat Jiwo dan tamunya dari teras depan rumah. Jiwo menatap tajam tamunya yang sedari tadi diam.


"Ada apa? Mau bikin keributan lagi?" akhirnya sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Jiwo karena sejak datang, tiga orang tamunya tidak mengeluarkan suara sama sekali. Namun, bukannya menjawab pertanyaan Jiwo, mereka malah mendongak dan menatap Jiwo dengan sorot mata yang penuh kebencian.


"Jangan belagu deh, Wo! Kami kesini juga karena terpaksa. Kalau bukan karena Bapak, mana mau kami kesini," balas Malik lantang tanpa menyadari akibat yang akan dia terima karena masih tidak menyadari kesalahannya.


"Kalau terpaksa ya sudah sana balik! Bilang aja sama Bapak kamu! Kamu memilih dipenjara gitu! Gampang, kan?" balas Jiwo tak kalah lantang, dan dia langsung melangkah masuk meninggalkan tamunya yang terkejut.


"Sial!" umpat Malik.


...@@@@@@...