
"Kenapa dilepas, Mister?"
Jiwo mengulas senyum. "Ingin melihat darah kamu sejenak."
"Sekarang Mister percaya kan? Kalau Mister yang pertama?"
Jiwo dengan semangat mengangguk. "Saya masukin lagi ya? Bisa tahan?"
Kini Alana yang mengangguk lemah. Jika boleh jujur itu memang sangat sakit dan perih, tapi Alana sadar, prosesnya memang harus seperti itu.
"Akhh ..." rintih Alana lumayan panjang saat dia merasakan kembali benda menegang milik suaminya perlahan masuk ke dalam lembah miliknya.
Jiwo terus bergerak perlahan sambil memandangi wajah kesakitan istrinya. Ada rasa bersalah dan tidak tega melihat wanita itu pasrah menahan sakit, tapi Jiwo sadar, rasa perih memang harus dirasakan oleh sang istri.
Setelah semuanya masuk, Jiwo mendiamkan pinggangnya sejenak. Dia perlahan bergerak mengungkung tubuh istrinya. Dikecupnya bibir dan leher sang istri berkali kali sambil Jiwo mulai kembali menggerakkan pinggangnya.
"Akh!"
"Sakit?"
"Sedikit, Mister."
"Tahan, ya?"
Alana mengangguk. Jiwo terus menggerakan pinggangnya maju mundur secara perlahan hingga beberapa menit kemudian dia tidak melihat lagi ekspresi kesakitan pada wajah istrinya.
"Udah enakan?"
Alana tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher sang suami. "Enak banget, Mister."
Seketika Jiwo langsung menyeringai. Gerakan pinggangnya secara bertahap tapi pasti, mulai bergerak cepat hingga racauan rasa nikmat, keluar dari mulut keduanya. Dada Alana juga selalu mendapat serangan dari tangan dan mulut Jiwo. Wanita itu hanya bisa pasrah dan juga sangat menikmati hujaman yang Jiwo lakukan.
Hingga beberapa menit kemudian, tubuh Alana menegang dan bergetar hebat. Setengah badannya terangkat saat dari dalam sana keluar air putih nan kental yang membanjiri benda menegang milik suamianya.
"Aahh ... ahhh ... aahh ..." rintih Alana beberapa kali. Jiwo hanya bisa menyeringai melihat ekspresi istrinya yang baru saja meraih puncak kenikmatan. Pinggang Jiwo terus bergerak. Kini dia menegakkan badannya dan fokus mengamati geraka keluar masuk dari benda menegang miliknya yang sudah sangat basah. Keringat pasangan suami istri itu juga sudah berbaur menjadi satu.
Menit demi menit terus bergerak maju hingga kini saatnya Jiwo yang merasakan ingin segera meraih puncak dari kenikmatan yang dia lakukan. Jiwo mempercepat gerakan pinggangnya sampai tubuh Alana kembali mengejang dan bergetar hebat.
"Akhh!" rintih Alana beberapa kali sambil badannya menegang hingga dia terkulai lemas. Tak lama kemudian kini giliran Jiwo yang tubuhnya menegang dan bergetar hebat.
Beberapa kali benda menegang Jiwo mengeluarkan air putih nan hangat di dalam lubang istrinya hingga dia ambruk diatas tubuh Alana dengan benda yang masih menancap di dalam sana.
Nafas keduanya tersengal sengal dengan keringat yang sangat membanjiri keduanya. Alana memeluk tubuh berkeringat suaminya. Jiwo sedikit mengangkat kepalanya dan mengungkung tubuh mungil istrinya. Dipagutnya bibir Alana beberapa saat lalu Jiwo membaringkan badannya menghadap langit langit.
Alana bergeser dan merebahkan kepalanya di dada Jiwo. Matanya menangkap benda di bawah perut rata Jiwo dan dia meraih benda yang basah dan lengket. Awalnya Jiwo agak risih, karena ini pertama kalinya isi celana Jiwo dipegang oleh seorang wanita.
"Wahh! Ini sudah tidak menegang, tapi bisa masih terlihat gede, Mister."
Jiwo terkekeh pelan. "Itu kotor, Sayang. Kenapa malah buat mainan?"
"Gemas, Mister," jawab Alana asal. "Mister, kira kira yang lain tadi pada dengar suara bercinta kita nggak ya?"
"Nggak bakalan, kamar aku kan terpisah dan kedap suara. Jadi aman. Kenapa?"
"Malu aja, Mister, kalau sampai mereka mendengar suara kita."
Jiwo lagi lagi mengulas senyum. Dibelainya rambut sang istri dengan penuh kelembutan. Kebahagiaan sungguh terpancar dari wajah Jiwo malam ini. Untuk pertama kalinya dia merasakan nikmatnya dunia dari seseorang yang tidak pernah dia sangka.
"Kamu yakin tidak menyesal?"
Alana mengangkat kepalanya dan mendongak menatap wajah suaminya. "Kenapa Mister malah menanyakan hal itu terus? Apa Mister yang menyesal melakukan ini semua?"
"Tidak. Sama sekali saya tidak menyesal."
"Terus kenapa Mister tanya hal itu terus? Apa Mister sama sekali tidak melihat ketulusan saat milik Mister masuk ke dalam lubang saya?"
Jiwo terkesiap dibuatnya. Dia sadar pertanyaannya pasti sangat menyinggung perasaaan istrinya. "Maaf, aku hanya ..."
"Sudahlah, Mister, nggak perlu dibahas," ucap Alana sedikit ketus. Dia langsung beralih posisi sambil memunggungi suaminya.
Melihat sikap marah Alana, Jiwo sontak merasa tak enak hati. Tidak seharusnya pertanyaan itu muncul kembali disaat semuanya sudah terjadi. Padahal Jiwo sadar kalau istrinya memang tulus memberikan haknya.
Kini Jiwo yang berinisiatif bergeser dan memeluk Alana dari belakang. "Maaf, sudah menyinggung perasaan kamu."
Alana hanya diam sedangkan Jiwo terus mengecup pundak polos istrinya dengan berkali kali minta maaf sebagai tanda menyesal.
...@@@@@...