
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Di rumah Jiwo, Emak dan para istrinya sedang merasa cemas karena sang suami belum pulang juga. Padahal Jiwo dan tiga istri yang ikut Jiwo, pergi sekitar jam dua siang. Namun hingga menjelang malam, mereka belum pulang. Tentu saja di balik rasa cemas itu, mereka berharap ada kabar baik yang dibawa Jiwo saat pulang nanti.
Hingga waktu terus melaju, akhirnya yang ditunggu terdengar deru motornya memasuki halaman rumah. Semua yang ada di dalam sontak saja langsung bangkit dan beranjak menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan suami mereka. Begitu Jiwo turun dari motor yang telah terparkir di samping rumah, kemudian langkah kakinya menuju teras rumah, Emak dan para istri langsung memberondong Jiwo denyan berbagai pertanyaan.
"Kok lama banget, Mister? Apa ada kendala?"
"Bagaimana, Mister? Berhasil?"
"Anisa, Andin dan Alana, mana? Kok nggak kelihatan?"
"Apa terjadi sesuatu pada mereka?"
Jiwo langsung mengulas senyum. "Ceritanya nanti ya? Aku mau mandi, terus makan? Alana, Anisa, dan Andin tadi minta turun di warung, bentar lagi juga sampai."
"Tumben mandi? Biasanya kalau sore susah banget," cibir Arin.
Jiwo sontak cengengesan. "Ya mumpung lagi pengin mandi. Tolong rebusin air dong? Pengin mandi pake air hangat."
Salah satu istri Jiwo langsung beranjak menuju dapur, sedangkan Jiwo masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian Andin, Anisa dan Alana terlihat memasuki halaman rumah sambil makan eskrim.
"Kalian lagi pada ngapain di luar? Nungguin kita ya?" tanya Andin begitu sampai di teras rumah.
"Iya lah, pengin tahu gimana perkembangannya? Berhasil nggak?" ucap Aisyah.
"Sukses dong. Pokoknya tadi seru banget. Nih ide Anisa, ada ada aja," balas Alana.
"Gimana ceritanya?" tanya Arin.
"Entar dulu deh ceritanya, kita mau mandi dulu," balas Andin.
"Kamar mandi antri, Mister mau mandi," jawab Aziza.
"Oh ya udah, kita tungguin aja. Lagian tumben Mister mandi sore?" ucap Anisa. "Malam ini jatahnya siapa sih?"
Sebelum cerita, Alana, Andin dan Anisa ditarik masuk dan disuruh duduk di atas karpet ruang tamu. Emak yang sedari tadi duduk di kursi tamu, hanya menggelengkan kepalanya melihat para menantu yang tidak sabar ingin mengetahui ceritanya.
Secara bergantian, Alana, Andin dan Anisa menceritakan kejadian tersebut dari awal hingga akhir. Suara tawa mereka pecah pada saat cerita sampai pada hukuman yang diterima para oknum hingga akhirnya mereka menyerah dan membeberkan semuanya.
Jiwo yang mendengar kehebohan istri istinya hanya bisa ikut tersenyum sembari melangkah ke kamar mandi. Hati Jiwo merasa lebih lega saat ini. Setidaknya, sekarang istri istrinya tidak akan ada yang mengusik lagi. Hendrik dan anak buahnya sudah Jiwo serahkan kepada pihak berwajib. Jiwo juga sudah melaporkan nama oknum lain yang bekerja sama dengan Hendrik.
Jiwo, Pak Lurah dan yang lainnya begitu sangat kaget saat mendengar pengakuan Ridwan dan Anita juga anak buah Hendrik yang lain. Ternyata sepak terjang mereka berjalan lancar karena campur tangan seorang pejabat daerah. Beruntung Jiwo merekam semua pengakuan para oknum tersebut. Rekaman itu bisa dijadikan bukti untuk menjerat pejabat yang bekerja sama dengan Hendrik.
Setelah ritual mandi selesai dan Jiwo hanya mamakai sarung, dia ikut bergabung dengan yang lain di ruang tamu. Jiwo duduk di kursi bersama Emak sambil ikut mendengarkan obrolan istri istrinya.
Kehebohan tidak hanya terjadi di rumah Jiwo saja. Semua orang yang menyaksikan kejadian tadi siang juga heboh di tempatnya masing masing dengan cerita versi mereka sendiri, hingga berita kejadian tersebut menyebar luas dari mulut ke mulut.
Begitu juga di rumah seorang lurah bernama Pak Rohim. Sang istri bahkan sampai terpingkal pingkal mendengar hukuman yang diberikan para oknum tersebut.
"Kok bisa sih Pak, istrinya Jiwo kepikiran sampai kesana?" tanya istri Pak Lurah penuh rasa kagum. "Apa istrinya Jiwo itu memang biasa ngasih hukuman yang aneh aneh di negaranya?"
Sebelum menjawab pertanyaan sang istri, Pak Rohim menyeruput kopinya sejenak. "Ya kurang tahu, Bu. Tapi Bapak tadi ikut bergidig mendengar teriakan mereka."
"Hahaha ... nggak kebayang pas mereka digiring ke kantor polisi, jalannya bagaimana itu?"
"Nggak ada yang diam itu, Bu. Tadi ketawa semuanya. Mau tidak mau mereka pake sarung, karena pake celana ketat, masih kerasa sakit katanya."
"Astaga! Hahaha ..."
Tak jauh dari mereka justru ada orang yang sangat tidak suka dengan kabar keberhasilan Jiwo. Siapa lagi kalau bukan Malik dan Titin.
"Lagi lagi Jiwo, lagi lagi Jiwo! Kayak nggak ada cerita lainnya apa! Aku viralkan baru tahu rasa itu anak," sungut Malik.
"Tenang! Tinggal nunggu waktunya aja, Mas."
...@@@@@@...