MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Pulang?


"Nah kan, akhirnya ada pembeli juga."


"Hehehe ... iya, Mister."


"Makanya, yang namanya jualan itu harus banyak bersabarnya."


"Iya, Mister, iya."


Jiwo menyulum senyum sambil menatap dua istrinya yang baru saja melayani pembeli. Dari tadi salah satu istrinya beberapa kali mengeluh karena sejak buka, belum ada satupun pengunjung pasar yang mampir ke lapaknya. Dengan sabar pula Jiwo menasehati agar si istri tidak mengeluh.


Yang namanya merintis usaha itu memang berat. Apa lagi jika merintis usaha di pasar yang jelas jelas banyak saingan. Butuh kesabaran yang ekstra tinggi. Salah satu penyebab banyak yang gagal dalam usaha berdagang adalah kurangnya rasa sabar. Meskipun tempat jualan juga mempengaruhi tapi kalau kurang sabar juga pasti akan gagal juga.


Itu juga yang diterapkan Jiwo sejak dulu. Dia juga saat pertama keliling sangat kesusahan mencari pembeli. Bahkan pernah beberapa kali dia tidak melayani satu helai celana. Tapi Jiwo tidak pantang menyerah. Apa lagi Jiwo memiliki orang tua yang juga sama sama pedagang, jadi Jiwo banyak belajar dari orang tuanya.


Kini ilmu berdagang yang Jiwo pelajari, dia salurkan kepada para istrinya. Jiwo harus bisa bersikap lebih sabar dalam mengajari para istri. Apa lagi berjualan sendiri adalah kemauan para istrinya jadi Jiwo harus mampu membuat mereka bertanggung jawab atas keinginan mereka yang telah diwujudkan Jiwo.


"Rame, Wo?" tanya Emak yang baru saja datang dari arah toilet dan mampir ke lapak anaknya.


"Ya laku, Mak. Mendinglah ada beberapa orang tadi yang mampir," balas Jiwo yang sedang duduk di tepi lapak.


"Emak jualannya sudah habis apa?" tanya Anisa dari dalam lapak.


"Tinggal sedikit, mungkin sebentar lagi pulang," balas Emak sambil memperhatikan lapak anaknya. "Ya udah Emak kesana dulu, kali aja dagangan Emak sudah habis."


"Iya, Mak," jawab Jiwo dan dua menantunya kompak.


Sementara itu, tidak jauh dari lapak Jiwo, tepatnya di warung nasi yang ada di sekitar sana, satu orang pria sedang menatap ke arah lapak Jiwo dengan tajam. Sesekali seringai jahat dia tunjukan ke arah pria yang berulang kali menggagalkan rencananya. Sedangkan dua anak buah yang ikut bersama orang itu, sedang lagap menikmati makanannya di warung tersebut.


"Setelah ini apa yang akan kita lakukan, Bos?" tanya Kamso dengan mulut terisi makanan yang sedang dia kunyah.


"Kita tunggu saja kabar dari orang orang kita, kalau mereka berhasil, kita tinggal menunggu semua wanita itu pergi, baru kita bergerak," balas Hendrik dengan tatapan masih tertuju ke arah Jiwo. Dua anak buah Hendrik hanya manggut manggut.


"Loh, itu kan, orang yang menculik kita, Lun?" tunjuk Arum.


"Hah! Mana?" tanya Aluna matanya langsung jelalatan.


"Itu yang pake Jaket biru ... itu!" tunjuk Arum agak kencang.


Aluna langsung mengikuti arah tunjuk Arum. "Apa iya? Kayaknya bukan deh, Rum?"


"Astaga! Itukan yang di panggil Bos, masa kamua nggak ingat," ucap Arum kesal tapi matanya terus menatap ke arah Hendrik yang sebentar lagi sampai di pintu keluar pasar.


"Lebih baik kita ikuti, biar pasti, ayok," tanpa menunggu persetujuan, Aluna langsung saja bergerak ke arah Hendrik. Mau tidak mau Arum pun mengikutinya.


"Ah iya, benar, itu bosnya!" pekik Aluna dari tempat pengintaiannya saat matanya dengan jelas melihat Hendrik masuk ke dalam mobil. "Berarti mereka masih berkeliaran disini?"


"Iya, aduh, bagaimana ini? Apa mereka tahu kalau kita ada di pasar?" ucap Arum tak kalah panik.


"Mending kita ke Emak dulu, nanti pas pulang kita cerita ke yang lain dan Mister, ayok!" ajak Aluna. Rencana pergi ke toilet pun sirna dengan adanya kejadian tak terduga barusan.


Sementara itu di rumah Jiwo, istri istri Jiwo dibuat tegang dengan tamu yang baru saja datang. Kedatangan dua orang yang katanya dari kedutaan negara asal mereka membuat istri istri Jiwo panik. Entah kabar apa yang akan mereka dengar dari dua orang pria dan wanita yang datang bersama dengan Pak Lurah serta Pak Rt.


"Emang ada perlu apa ya, Pak, orang orang kedutaan datang kemari?" tanya Aisyah. Entah kenapa perasaannya tak enak dengan kedatangan tamu tersebut.


"Untuk lebih jelasnya, biar mereka aja yang menjawab," balas Pak Lurah, lalu mempersilakan kedua orang berpakaian rapi itu untuk mengatakan maksud kedatangan mereka.


"Maaf sebelumnya jika kedatangan kami sangat mengejutkan," ucap wanita yang mengaku dari kedutaan. "Kedatangan kami kesini, untuk membawa kalian pulang ke negara kalian."


"Apa!"


@@@@@