MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Tiga Kali Satu Malam


"Kalian lagi pada ngapain?"


"Mencium aroma terapi, Mister."


"Astaga! Kotor itu loh, Dek."


"Segar, Mister. Enak," jawab Arin sambil terus mengendus benda milik suaminya.


Jiwo pun terdiam. Dia pasrah saja dengan kelakuan dua istrinya. Apa lagi saat di ibukota Jiwo sama sekali tidak menyentuh istri isrinya, jadi dia membiarkan saja kelakuan dua istrinya saat ini.


Salah satu istri Jiwo bergeser ke atas mendekati wajah suaminya lalu mencium pipi sang suami. Mata Jiwo sontak terbuka dan melihat wajah manis Alena yang tersenyum kepadanya.


"Mister tidurnya nyenyak banget, capek ya?" tanya Alena sambil mengusap wajah sang suami.


"iya, jam berapa sekarang?" balas Jiwo sambil menoleh ke arah jam dinding. "Udah malam? Astaga! Yang lain sudah pada tidur?"


"Sudah," jawab Alena lalu dia merebahkan kepalanya di dada sang suami. Sedangkan di bawah perut Jiwo, Arin berhenti menghirup aroma asam dan ikut merebahkan kepalanya di dada Jiwo yang lain.


"Kok berhenti? Baunya udah habis?" tanya Jiwo sambil membelai lembut rambut keduanya.


"Baunya masih ada, malah makin menggoda. Penginnya juga aku makan sekalian," balas Arin.


"Emang kamu doyan makan itunya Mister?" Alena bertanya.


"Doyan, punya Mister enak," jawab Arin dengan cueknya.


"Loh, terus kenapa dari tadi cuma ciumin saja?"


"Ya kan karena ada kamu, nggak enak. Entar kalau kamu ikutan ciumin terus ada bekas ludahku gimana? Apa nggak jijik?"


"Ya nggak apa apa, Rin. Kalau kamu mau makan ya silakan. Aku lihatin aja nggak apa apa kok."


"Astaga! Kalian lagi bahas apa sih?" tanya Jiwo yang sedari tadi memilih diam dan mendengarkan obrolan kedua istrinya yang saling mendukung satu sama lain soal memainkan benda menegang dengan mulut. Jiwo sungguh dibuat gemas dengan tingkah keduanya. Bisa bisanya urusan memakan benda miliknya pakai acara tidak enak segala.


"Jadi boleh Nih aku makan senjatanya Mister?" tanya Arin memastikan.


"Ya silakan, Arin, nikmati aja sepuasmu. Apa nggak jijik? Punya Mister kotor loh," balas Alena.


Arin hanya tersenyum lebar lalu dia menggeser tubuhnya hingga wajah Arin tepat berada di hadapan benda yang sudah sangat menegang milik suaminya. Jiwo pun tak bisa melarang, dan dia juga menikmatinya.


Karena hasrat yang sudah diubun ubun, Jiwo pun meminta Alena untuk mencium bibirnya. Wanita itu tak menolak. Dengan senang hati dan hasrat yang sudah meninggi, Alena dan Jiwo melakukan perang bibir sebagai tanda permainan dua lawan satu di mulai.


Malam panjang telah dilalui dengan penuh keringat olah dua wanita dan satu pria. Dua ronde telah usai dan menyisakan rasa lelah yang luar biasa bagi ketiganya. Dua wanita itu terkapar dengan mata yang sudah terpejam. Sedangkan suami mereka memilih keluar kamar untuk menyesap rokok sambil melepas lelah.


Pukul dua belas lebih, Jiwo duduk menyendiri di ruang tamu. Membayangkan serangkaian kejadian yang dia lalui beberapa hari terakhir ini. Hingga sebuah suara, seketika membuyarkan lamunan Jiwo.


"Mister belum tidur?"


"Udah tadi, cuma terbangun gara gara pengin ke kamar mandi."


"Ohh," jawab Jiwo sambil manggut manggut.


Salah satu istri Jiwo yang bernama Alifa pun mendekat dan duduk tepat di sebelah suaminya. "Mister mau makan apa?"


"Ada lauk apa?"


"Ada sate, mau?"


"Ya boleh deh, tolong ambilin ya?"


Alifa mengangguk dan dia segera beranjak mengambil makanan untuk suaminya. Tidak butuh waktu lama, Alifa kembali sambil menenteng nampan berisi nasi, sate, toples kerupuk dan air putih hangat. Dengan senang hati Jiwo menerimanya dan lansung melahapnya.


"Tadi siapa yang keluar beli sate?" tanya Jiwo di sela sela menikmati makanannya.


"Si Anisa sama Andin. Sate sih sebenarnya cuma buat Mister dan Emak. Kalau aku dan yang lain, beli nasi goreng."


"Loh? Kenapa beda?"


"Pengin aja, Mister."


Mister kembali manggut manggut sambil terus menikmati hidangannnya hingga habis. Setelah selesai makan, Jiwo kembali menyalakan sebatang rokok.


"Duduk deket sini sih, Dek?" pinta Jiwo sambil menepuk kursi di sebelahnya. AIifa langsung saja berpindah dan duduk menempel pada tubuh Mister yang hanya memakai sarung.


"Mister habis berhubungan suami istri apa?" tanya Alifa sambil mengusap perut Jiwo yang agak lengket karena keringat.


"Iya, Sayang. Maklum, selama di ibu kota, aku nggak bisa ngajak kalian main. Jadi ya malam ini pelampiasan, Dek."


"Iya, yah? Lebih dari seminnggu padahal kita di hotel loh? Tapi kok bisa tahan gitu nggak berhubungan."


"Ya mungkin karena jadwal kita disana lumayan padat kan? Mana acaranya kebanyakan malam lagi."


"Iya benar," balas Alifa, dan keduanya pun saling tertawa lirih.


"Dek."


"Hum."


"Punya kamu mau dimasukin nggak? Mumpung aku masih pengin?"


"Waduh!"


...@@@@@@...