
"Ini alamat tempat tinggal mereka, dan pastikan kalian jangan sampai gagal, mengerti!"
"Baik, Bos!"
Tiga orang yang baru saja mendapat tugas langsung beranjak menuju mobil yang akan mereka gunakan menuju tempat tujuan.
Ya, merekalah anak buah Hendrik. Mereka bertugas akan menculik tiga belas wanita yang telah merugikan bisnis Hendrik dalam jumlah yang besar. Maka itu dia tidak akan menyerah begitu saja. Hendrik akan terus berusaha mengejar tiga belas wanita itu sampai dia berhasil membawa mereka dan menjadikan semua wanita itu ladang uang untuknya. Hendrik juga sangat yakin kalau wanita wanita itu masih tersegel dengan aman, jadi dia harus kembali mendapatkan semua wanita itu secepatnya.
Tanpa terasa waktu terus bergerak maju. Tanpa terasa pula, kini Jiwo dan Alifa telah sampai di salah satu toko grosir yang sudah menjadi langganan Jiwo selama ini. Toko grosir itu tidak hanya menjual kolor saja, tapi banyak juga daster dan koleksi batik lainnya.
"Di sana banyak baju baju wanita, kamu pilih beberapa untuk kamu sendiri ya, Dek. Nanti kalau sudah, kamu ke situ, aku ada di situ," ucap Jiwo sambil menunjuk dua tempat yang berbeda.
Tapi, Mister ..."
"Nggak usah protes, sana pilij baju yang kamu suka," potong Jiwo. Mau tidak mau Alifa pun menuruti kemauan suaminya. Jiwo mengulas senyum saat Alifa beranjak menuju tempat yang dia tunjuk. Setelah itu dia melangkah ke sisi lainnya dimana banyak celana kolor terpajang di sana.
Cukup lama mereka berdua ada di toko grosir tersebut. Bahkan setelah Alifa memilih beberapa barang dan membawanya ke tempat Jiwo berada, sang suami masih memilih beberapa barang, baik model terbaru maupun model lama yang sama seperti stok yang ada di rumah Jiwo. Hampir dua jam, mereka baru selesai belanja di satu toko. Kini mereka harus mencari barang di toko grosir lainnya.
Sebelum pindah ke toko lain, Jiwo mengajak istrinya untuk makan terlebih dahulu. Waktu yang sudah sangat siang dan juga rasa lelah yang menyergap di badan, menambah rasa lapar itu semakin sangat terasa hinggap dalam perut mereka. Keduanya memilih warung sate ayam yang letaknya tidak jauh dari toko grosir yang pertama mereka datangi.
"Makanan negara ini memang enak enak ya, Mister, pantas saja banyak warga asing yang suka," ucap Alifa di sela sela menyantap makanannya.
"Ya begitulah. Makanan juga menjadi daya tarik tersendiri buat wisatawan. Tapi aku perhatikan, kalian juga sudah pandai mengolah masakan negara ini."
"Ya kita belajar sama Emak, Mister. Kita juga menyukai masakan negara ini, Jadi lumayan nambah ilmu saat memasaknya."
Jiwo hanya mengukir senyum sembari terus menikmati hidangannya. Setelah selesai makan, keduanya kembali menjelajah ke toko grosir lainnya. Kali ini bukan hanya kolor yang akan Jiwo beli, tapi dia juga memilih berbagai jenis daster untuk dijual kembali oleh istri istrinya. Selain itu, mereka juga mendatangi grosir pakaian khusus wanita dan juga segitiga bermuda untuk pria.
Jiwo dan Alifa disambut baik oleh Bayu dan istrinya serta kedua remaja laki laki yang kadang suka iseng pada paman mereka. Meski merasa canggung, Alifa tetap mengikuti sang suam masuk ke rumah kakak iparnya.
Paman, kok istrinya nggak di ajak semuanya sih? Aku pengin kenal?" tanya salah satu keponakan Jiwo.
"Iya, Paman. Kemarin kan kita nggak bisa datang pas Paman nikah, harusnya dibawa semuanya," protes keponakan yang satunya.
"Ya mana muat jika ikut semuanya. Aneh aneh aja kamu," Balas Jiwo geregetan. "Kalau mau kenal ya main ke rumah Eyang."
"Yah nggak asyik, harusnya paman bawa semua istrinya."
Jiwo hanya berdecih tanpa mau membalas rengekan dua ponakan kembarnya. Dia lebih memilih menikmati hidangan yang disiapkan kakak iparnya daripada meladeni dua keponakan yang suka becanda sama dia.
Sementara itu di malam yang sama tapi di tempat lain, terlihat tiga orang turun dari sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari sebuah tempat pengisian bahan bakar kendaraan. Entah apa yang sedang mereka obrolkan, tapi salah satu mereka mendekati beberapa orang yang sedang duduk duduk tak jauh dari mobil berhenti. Sepertinya mereka sedang menanyakan sebuah alamat.
"Benar, disini kampungnya?"
"Benar, aku sudah tanya warga tadi."
Baguslah, kita cari tempat menginap dulu, besok baru kita melakukan pencarian."
"Oke!"
...@@@@@@...